“Paling nggak suka kalo diomongin orang, heran sih kenapa ya hobi banget nyari-nyari kesalahan orang lain kaya dirinya udah paling suci aja. Kayanya pegeeeel banget kalo sehari nggak ngosipin orang.  Ngumpul ketawa-ketiwi bareng ngegosip karena nemuin fakta burik kehidupan orang lain, bahkan kalo perlu temen sendiri diomongin kejelekannya”.

Pernah nggak sih kamu ngalamin itu, diomongin temen-temen sendiri dari belakang. Rasanya itu kaya dihujam diem-diem, semacam ditusuk tapi tidak terbunuh, bikin cenat-cenut hati aja, panas, emosi dan bikin naik pitam. Rasa-rasanya orang-orang yang kamu percaya diem-diem bersekongkol untuk berkhianat di belakangmu. Sakit banget sih tuh pasti.

Tapi terlepas dari sakit hati, kesel, benci dan muaknya kamu sama temen-temenmu, ada hal menarik yang mau aku bagiin. Tau nggak sih? nyatanya nggak semua yang orang lain omongkan tentang kamu, tentang kehidupanmu, kesalahanmu, sifat burukmu dan segalanya prihal kamu, itu negatif. Bahkan, gosip pedas orang tentang kamu bisa sangat amat positif jika kamu menyikapinya dengan santuy dan bijak. “Gimana tuh?”

Imam Al-Ghazali pernah memberikan tips and trik bagaimana caranya mengevaluasi diri. Ada tiga cara mengenal atau menilai diri sendiri menurut imam Al-Ghazali. Jika kamu bisa terapkan ini, kemungkinan besar kamu akan bisa menyikapi omongan orang itu dari sudut pandang yang menguntungkan. “kok bisa?”.

Sebelum bahas lebih lanjut, bagusnya kita ketahui dulu apa sih pentingnya mengenal atau menilai diri sendiri?  Gini sis, jika kita mampu mengenal diri kita baik dan buruknya, maka kita akan bisa melakukan perubahan dengan terus mengevaluasi keburukan yang bersemayam dalam diri kita,  sekaligus bisa terus mengembangkan kebaikan yang kita miliki.

Tapi gimana caranya? nyari kebaikan diri sendiri gampanglah, malahan sering di bangga-banggain. Tapi … kalo nyari kesalahan diri sendiri susah, gampangan nyari kesalahan orang lain, soalnya kita susah untuk jujur pada diri sendiri bahwa yang kita lakuin salah dan malah kita cenderung mencari-cari alasan untuk memberi legitimasi bahwa yang kita lakuin itu bener meskipun sebenernya salah.

Nah, sekarang kamu tahu kan kenapa mereka (gosiper) suka banget ngomongin keburukan orang lain? Yups, karena mereka sangat pintar mengorek-ngorek kesalahan orang lain sekecil apapun itu, tapi amat sangat bodoh mencari dan menilai kesalahan diri sendiri, karena memang susah. Mereka jijik dengan kesalahan dan keburukan orang lain, tapi tidak jijik dengan kesalahan dan keburukannya sendiri.

Ini persis kaya waktu kamu nemuin ingus orang lain di jalan, kamu jijik dan risih, bahkan kadang-kadang ngutuk orang yang buang ingusnya sembarangan “siapa sih nih orang, nggak ada akhlak emang”, tapi kenapa kamu nggak jijik dan risih sama ingus kamu sendiri? jangankan diliat, dipegang aja kamu nggak jijik padahal sama-sama ingus. Begitulah kita yang lebih peduli dan risih sama kehidupan dan keburukan orang lain daripada sibuk mengavaluasi keburukan diri sendiri.

Maka dari itu Imam Al-Ghazali memberi tahu kita tiga tips agar kita bisa mengetahui segenap kesalahan, keburukan dan kekurangan diri kita, dengan begitu kita bisa mengevaluasi diri kita sendiri dibanding harus ngurusin kehidupan orang lain. Sehingga, kita bisa hidup dengan lebih santuy dengan tanpa pusing mikirin orang lain dan bodo amat dengan omongan orang lain tentang kita.

Temukan Kesalahan Dirimu Sediri

Cara yang pertama adalah mencari kesalahan diri kita dengan usaha kita sendiri. Jujurlah kepada dirimu sendiri bahwa “aku salah”, hapuskan ke-aku-an dan berlakulah adil, seperti kasus ingus tadi, bahwa jika kamu salah katakan salah, akui salah, jika jijik akui jijik terhadap apaun dan siapun itu tanpa terkecuali bahkan terhadap dirimu sendiri.  

Terkadang kamu perlu jijik dengan kesalahan yang kamu lakukan dan pada keburukan yang konsisten kamu pertahankan, merasa risih, dengan begitu kamu akan menemukan titik terang dan celah untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dan keburukan itu.

Sebaliknya, jika kamu terus mangkir, menafikan keburukan yang kamu miliki, maka selamanya kamu akan seperti itu, bangga dengan kesalahan sehingga tidak muncul keinginan untuk merubahnya dikarenakan keyakinan hati yang dibuat-buat untuk melegitimasi perbuatan buruk agar dianggap benar, sekalipun itu membohongi dan menyakiti hati nuranimu sendiri.

Memang sih sulit mencari kesalahan diri sendiri, penulis akui itu, dan ya… tidak semua orang bisa seberani itu untuk jujur pada dirinya dan berani menyalahkann perbuatan yang memang selayaknya disalahkan, artinya egonya yang ingin selalu menang sendiri dan selalu menggap benar dirinya mampu dia kalahkan. Jika mencari kesalahan sendiri sulit, coba lakukan cara ke dua .

Minta diingatkan, berkomitmen saling mengingatkan

Cara yang kedua bisa kamu coba jika cara yang pertama dirasa sulit kamu lakukan. Mintalah suami/istri (pasanganmu) untuk mengingatkanmu jika melakukan kesalahan, eh gimana kalo jomblo bang?  atur-atur sendirilah, bisa minta teman se-kosanmu, temen mainmu, ibumu atau siapapun itu yang dekat denganmu dan bisa terus mengawasi tingkah lakumu.

Atau mungkin kalian bisa saling berkomitmen untuk saling mengingatkan bila satu waktu melakukan kesalahan, atau bisa saling menunjukan kesalahan dan keburukan masing-masing satu sama lain, jadilah humble untuk mudah diingatkan orang lain dan mengingatkan orang lain, dengan begitu hidupmu akan lebih santuy, damai tentrem kerteraharjo

“Tapi masalahnya pasangan/teman saya terlalu baik, dia nggak tegaan untuk membicarakan kebuburakan saya”, kadang hal itu bisa saja terjadi, ada saja seorang istri yang saking hormat pada suaminya sampai tidak mau memberitahukan kesalahan dan keburukan suaminya.

Kadang kita juga punya teman yang baiiiik luar biasa, rendah hati, sehingga memberitahukan dan menunjukan keburukan orang lain itu berat baginya. Jika cara kedua ini dirasa sulit juga untuk dilakukan, dikarekan kamu tidak memiliki seseorang yang tega untuk sedikit menyakiti perasaanmu dengan jujur mengatakan semua keburukanmu, maka cobalah cara ketiga.

Pasang Telinga Pada Umpatan dan Gosipan Orang

Loh kok? bukannya justru kita harus tutup telinga ya dari gosipan, cibiran dan omongan buruk orang lain tentang kita? Bikin gerah sih soalnya, bawaannya mau jenggut mulutnya, biar disekolahin”

Ini dia, jika kamu bisa tahan emosi sesaatmu, kamu bisa redam amarahmu, dan bisa lebih tenang dan berfikir dingin, kamu bakal bisa menyikapi gosipan buruk orang lain tentang kamu dari sudut pandang yang menguntungkan.

Sakit sih, tapi kadang kamu perlu sesekali  denger apa yang orang lain bicarakan tentang kamu di belakangmu. Dengan mendengar cibiran orang yang membenci kamu,  bukankah itu akan mempermudah kamu untuk mengetahui seperti apa dirimu, apa kekuranganmu, dan keburukan apa yang selama ini bersemayam dalam dirimu yang bahkan kamu sendiri tidak mengetahuinya.

Dengan kamu mendengarkan omongan orang, kamu akan bisa mengevaluasi diri. Jika apa yang mereka katakan tentang keburukanmu itu benar, bukankah harusnya kamu senang? kamu bisa berubah dan mulai memperbaiki diri, sebab kamu tahu apa yang harus kamu evaluasi dari dirimu.

Tapi … Jika apa yang mereka katakan tidak benar, dusta dan fitnah, maka sabar adalah solusi tersimpel yang bisa kamu lakukan saat itu. Jika kamu belum bisa setegar Rasulullah Saw yang berlapang dada, berbaik hati menjenguk memberi makan heatersnya seorang buta tua yang kerap kali mencaci dan memfitnahnya. Susah ya? ya udah .. kamu sabar aja.

Jika mereka membicarakanmu tentang apa-apa yang tidak kamu lakukan atau perkataan itu hanya kedustaan dan fitnah, maka itu artinya merekalah yang harus berubah bukan kamu. Jadi mulailah dari sekarang untuk membuka telinga dari omongan orang dibelakangmu, simpan sakit hatimu baik-baik, dan ubah kebencianmu menjadi rasa syukur, sebab sejatinya mereka sedang menyelamatkanmu dengan menunjukan kesalahan-kesalahanmu.

Manusia memang tempatnya khilaf dan salah, tidak bener terus karena dia bukannya malaikat, tapi tidak terus-terusan ngelakuin kesalahan juga karena dia bukannya saiton. Manusia ya manusia, makhluk unik yang Allah design dengan sempurna.

Maka dari itu, jika manusia adalah makhluk yang maklum salah, maka kita perlu evalusi diri agar saat kesalahan-demi kesalahan terus kita lakukan kita bisa memperbaiki diri, dan jika ternyata kita tersesat pada jalan yang salah dan kita tidak tau bahwa itu adalah jalan yang salah, maka tidaklah mengapa jika kita meminta bantuan orang lain untuk menunjukan kesalahan kita apa, dan memberi tahu kita di mana jalan yang benar.

Tinggalkan Balasan