Di era digital sekarang banyak umat manusia khususnya umat muslim di Indonesia terlena dengan gawai. Dunia digital menghipnotis umat manusia dari usia dini hingga dewasa sampai tidak kenal lagi dengan waktu, melalaikan kewajiban yang seharusnya lebih utama dikerjakan.

Apabila kita ketahui bahwa pintu terbesar untuk mencapai kelapangan hidup agar tidak terjebak dalam kesempitan yang membelenggu adalah dengan membaca Al-Qur’an. Hati sewaktu-waktu bisa berkarat seperti besi, mengingat kematian dan membaca Al-Qur’an merupaka nsebuah media pembersih karat tersebut. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW

إِنَّ هَذِهِ الْقُلُوْبَ تَصْدَأُ كَمَا يَصْدَأُ الْحَدِيْدُ إِذَا أَصَابَهُ الْمَاءُ, قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ, وَمَا جَلَاأُهَا؟ قَالَ: كَثْرَةُ ذِكْرِ الْمَوْتِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ

“Sesungguhnya hati itu bisa korosi sebagaimana besi ketika bertemu dengan air. Kemudian ada yang bertanya kepada baginda Nabi, ‘Ya Rasulallah, lalu apa yang dapat menghilangkan korosi tersebut?’ Rasul menjawab, ‘Banyak mengingat kematian dan membaca Al-Qur;an.” (HR. Baihaqi).

Orang yang menyibukkan dirinya membaca Al-Qur’an mempunyai aneka macam keistimewaan sebagimana dikutip Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam kitabnya Abwabul Faraj seperti berikut:

Pertama, mereka diakui sebagai keluarga Allah (Ahlullah) dan orang yang keistimewaanya terpilih. Kedua, orang yang lahir membaca Al-Qur’an ditempatkan bersama malaikat-malaikat pencatat yang patuh kepada Allah yang selalu berbuat kebaikan. Menurut Al-Qurthubi sebagaimana dikutip dalam kitab Fathul Bari, yang maksud mahir disini adalah orang yang cerdas, maksudnya, hafalan dan tajwidnya sama-sama mempunyai kualitas bagus, tidak perlu mengulang-ulang. Disamping ituAl-Qur’an merupakan hidangan dari Allah SWT., siapapun yang masuk ke sana akan mendapat jaminan keamanan, dan keutamaan-keutamaan lainnya.

Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam karyanya Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya menyebutkan keutamaan membaca Al-Qur’an. Sayyid Bakri mengutip ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang keutamaan membaca Al-Qur’an “Aktivitas membaca Al-Qur’an merupakan salah satu ibadah yang paling utama, taqarrub teragung, dan ketaatan terbesar. Di dalam terdapat pahala yang besar dan ganjaran yang mulia.” (Sayyid Bakri bin Sayyid Muhmmad Syatha Ad-Dimyathi)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَۙ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi.” (QS. Fatir[35]:29).

لِيُوَفِّيَهُمْ اُجُوْرَهُمْ وَيَزِيْدَهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۗ اِنَّهٗ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ

Artinya: “Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS. Fatir[35]:30).

Kita sebagai manusia tentu tidak akan hilang sifat-sifat manusiawinya, seperti tidak bersemangat, malas dan lain-lain. Maka kondisi seperti ini tidak akan berlangsung lama, maksimal 24 jam dari kehidupan orang yang selalu bersama dengan Al-Qur’an. Beda dengan orang yang tidak bahagia dengan Al-Qur’an, tidak akan bersemangat dan malas jadi alasan untuk menjauh dari Al-Qur’an.

Apabila Al-Qur’an sudah menjadi sahabat, maka disaat dirinya lama tidak bersama Al-Qur’an, ia akan merasakan kekhawatiran dan gelisah yang luar biasa, takut akan kehilangan Al-Qur’an dalam waktu yang lama. Beda dengan orang yang tidak bahagia dengan Al-Qur’an, ia tidak akan merasakan apapun, walaupun sudah sebulan bahkan setahun tidak membacanya, ia akan merasa biasa saja.

Semoga kita dapat menjadi sahabat Al-Qur’an sepanjang hidup, betapapun banyak kendalanya. Bila menghadapi kendala, segera cari solusinya, niscaya kita dapat selamamya bersama Al-Qur’an. Wallahua’lam.

Oleh: Haidar Moh Afiq Ramadhan

Tinggalkan Balasan