Sebuah adagium sederhana yang saya baca baru-baru ini pada perhelatan kuno hasil buah pikir para filsuf sungguh sangat memukau. Konsep hidup yang menurut saya apabila mampu kita praktekan dalam kehidupan sehari-hari akan menjadikan kita manusia minim masalah sejuta solusi, kita benar-benar akan merasakan sensasi hidup santuy yang hakiki, konsep berpikir apa itu? Mereka menyebutnya “Amor Fati.”

Amor Fati adalah sebuah nilai pandangan hidup yang bila dimaknai secara harfiah artinya “Cintailah Takdir/Nasib”, dengan kata lain kita diminta untuk menyenangi segala hal yang terjadi pada hidup ini terkhusus yang menimpa diri kita pribadi, “Termasuk nasib buruk?” Iya, termasuk nasib buruk.

“Loh, kalo mencintai nasib baik gue ngerti, sangat logis, tapi gimana mau mencintai nasib buruk? Loe pikir gue gak waras apa menertawakan penderitaan!?” Saya pun berpikir begitu pada awalnya, apakah Amor Fati menyarankan kita jadi ODGJ? “Kan sama-sama hidup santuy tanpa masalah wkwk.” Gak gitu juga konsepnya bambang!.

Amor Fati sendiri merupakan ajaran para filsuf stoa. Filsafat stoa mengajarkan konsep Amor Fati yang mungkin bagi kita absurd dan gila “Kenapa kita harus senang, senyum, ketawa pada nasib buruk, gilak!?”

Tapi pada prinsipnya kita hanya perlu out of the box dalam menyikapi nasib yang bagi kita buruk, itulah yang coba dijelaskan oleh para filsuf stoa melalui konsep Amor Fati nya. Mereka (Para filsuf) memberikan sebuah pemisalan umum yang bahkan sudah terjadi ribuan tahun lalu, yang dialami para filsuf itu mungkin juga sering kita alami saat ini.

Misalnya kita membeli 1 Kg timun di pasar, kemudian kita dapati ada satu timun yang rasanya pahit dari 1 kg timun yg kita beli. Lalu kita marah, kita caci maki timun dan pedagangnya, sehingga habis energi kita hanya untuk protes pada keadaan yang sebenarnya remeh. Padahal masalah itu akan selesai hanya dengan membuang 1 timun yg pahit itu, toh masih ada lebih dari sekedar banyak timun yang bisa dinikmati? Buang timun pahit itu dan masalah selesai, energimu tak habis, sesederhana itu padahal.

Cotoh lain, Jalan yang kita lalui berlubang, kita marah, kemudian caci maki jalan berlubang itu. Bahkan emosi kita meluap sampai berlarut, dari mulai menyalahkan tukang cor jalan yang kita anggap tak becus, lalu menyalahkan pemerintah setempat yang kita suuzoni telah korupsi biaya pembangunan jalan, tak lupa kita salahi juga para warga yang tak punya kepedulian dan inisiatif untuk menambal jalan, dan seterusnya. Bahkan kalo perlu tukang cilok yang sering lewat jalan itu pun ikut disalahi padahal tidak tahu menahu permasalahannya.

Maka habislah energi dan waktu kita hanya untuk prostes pada keadaan, padahal dengan kita caci maki jalan berlubang itu, tidak akan merubah kenyataan bahwa jalan yang ada di hadapan kita saat itu berlubang. Tanpa perlu buang energi dan berpikir keras memusingkan hal itu, padahal jika ada lubang yo tinggal belok saja, semudah itu. Hanya tinggal memilih  jalan yang tidak berlubang, dan ya! Selamat! masalah selesai.

Amor Fati, cintailah nasib, sekalipun itu kejam. Petik arti tuai makna dari apa yang terjadi, maka kamu akan melihat masalah dari sudut pandang yang indah. Hidup akan lebih santuy karena tak perlu memusingkan masalah-masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan hanya dengan mengatakan “Oh” dan “Oke”, menyelesaikan masalah semudah terenyum.

 Oleh : Kurniawan Aziz (Praktisi Mageran, Mahasiswa Ilmu Hadis UIN Bandung)

Tinggalkan Balasan