“Sudah, sudahi semua bicara, kuingin segera berdua, dan pagi menjelang, melahirkan mentari pagi dan sudah, sudahi semua prasangka, dunia berputarlah saja, rekam peristiwa yang akan terulangi.”

Pernah mendengar lagu ini? Ya lagu ini berjudul “Sudah” dari musisi tanah air dengan segudang prestasi, Jazz (Ardhito Pramono). Lagu ini bercerita tentang bagaimana caranya mencintai pasangan dengan level cinta tertinggi, keikhlasan. Lirik perlirik dari lagu ini jika diresapi dengan baik, memiliki banyak pelajaran yang bisa diambil. Di lagu ini Ardhito ingin pendengarnya belajar apa itu kasih sayang, apa itu cinta, bagaimana sikap seseorang jika sedang jatuh cinta, dan bagaimana caranya belajar ikhlas, menerima segalanya dengan lapangPenulis yakin semua orang pasti pernah merasakan jartuh cinta. Merasakan sensasinya merupakan anugerah terindah yang diberikan Allah Swt kepada kita.

Bagaimana mungkin dua orang yang asing bisa saling menyayangi, mencintai, tersambung hatinya tanpa anugerah dari Allah Swt. Saat sedang jatuh cinta, setiap orang pasti merasa sangat bahagia. Mencintai dan di cintai seseorang adalah nikmat terbesar dalam hidup. Setiap hari kita selalu memikirkan dia, mendoakannya selepas sholat, bercerita tentang hal-hal kecil, berbagi canda tawa, sungguh itu adalah hal yang paling membTetapi namanya hidup, pasti selalu dihadapkan dengan permaslahan.

Saat kita mulai mencintai seseorang, disitulah muncul permasalahan lagi. Overthingking tiap malam, berpikir apakah kita pantas untuk dia, apakah orang yang kita sayangi saat ini adalah benar jodoh kita dan masih banyak lagi. Terkadang, pikiran-pikiran itu sangat menguras tenaga. Kita menjadi orang yang berbeda, malas untuk berkegiatan, susah tidur di jam normal dan masih banyak lagi. Memang, tidak selamanya memikirkan masa depan itu mengasyikkan.

Saat kita sudah memutuskan untuk mencintai seseorang, maka konsekuensinya hanya dua, miliki (dengan cara menikahinya), atau mengikhlaskan. Menurut penulis sendiri, cara terbaik untuk membuktikan perasaan hanya dengan pernikahan. Karena didalamnya ada akad suci, tanggung jawab besar dan kemuliaan. Terlepas dari anggapan bahwa tulisan ini terlalu religius atau apapun itu. Karena jika sudah berani bertindak, kita harus berani bertanggung jawab.

Tetapi melaksanakan pernikahan tidak semudah yang diucapkan. Pernikahan itu fase hidup selanjutnya yang akan kita lalui bersama orang yang jelas-jelas bukan dari keluarga kita, orang asing. Pernikahan tidak hanya menyatukan dua insan, tetapi lebih dari itu menyatukan dua keluarga. Dari sini muncul lagi permasalahan baru. Ketika kita belum siap untuk menikahi orang yang kita sayangi, maka akan timbul rasa khawatir di hati. Bagaiamana seandainya jika dia yang kita sayangi dinikahi oleh orang lain, bagaimana jika dia yang kita cintai sudah dijodohkan oleh pilihan orang tuanya, dan masih banyak lagi bagaimana-bagaimana yang lainnya. Percayalah, yang seperti itu akan sangat menguras tenaga, pikiran, dan emosi.

Di satu sisi kita tidak ingin orang yang kita cintai diambil orang lain, di satu sisi kita juga masih memiliki banyak cita-cita yang harus di wujudkan. Belum lagi sebagai seorang laki-laki, kita harus membahagiakan orangtua terlebih dahul.

Jelas-jelas hal ini akan menimbulkan penderitaan yang berat. Belum lagi jika dia yang kita sayangi tidak jelas sikapnya. Apakah dia benar-benar membalas perasaan kita, atau hanya memberi harapan saja, kita akan dibuat pusing oleh pikiran-pikiran seperti ini. Hal ini disebabkan oleh kita sendiri sebenarnya, kita terlalu menggantungkan kebahagiaan kita kepada orang yang kita cintai. Kita terlalu berharap pada manusia, padahal Sayyidina Ali bin Abi Thalib pun pernah berkata “Hal yang paling mengecewakan adalah berharap pada manusia.”

“Belajar memahami masa depan, takkah yang di simpan akan tenang, melahirkan semua nada indah, Mencoba menjadi bahagiamu sendiri.”

“Mencoba menjadi bahagiamu sendiri” kalimat ini yang paling disukai oleh penulis dari lirik lagu “Sudah” (Ardhito Pramono). Disini Ardhito ingin mengajarkan bagaimana caranya mengikhlaskan seseorang yang kita cintai, jika kita belum siap untuk memilikinya. Lewat lagunya, Ardhito menyatakan bahwa kita bisa bahagia dengan diri kita sendiri. Kita hanya perlu menerima semuanya dengan ikhlas, menikmati proses hidup dan melakukan yang terbaik semampu kita. Bukankan semua telah ada dalam skenario Allah Swt? maka dengan ini, kita hanya perlu melakukan yang terbaik, sisanya kita serahkan kepada Allah Swt.

Mengulang pernyataan yang sudah dijabarkan diatas, bahwa jika kita telah memutuskan untuk mencintai seseorang, pilihannya hanya dua, memilikinya atau mengikhlaskan. Selama kita belum siap untuk memilikinya, maka kita harus siap untuk mengikhlaskannya. Karena level tertinggi dari mencintai itu ikhlas. Seorang pecinta sejati tidak akan merasa sakit hati bila pujaannya bersanding dengan orang lain, selama pujaaan hatinya itu bahagia. Malah dia akan ikut bahagia. Memang benar kata orang, cinta tak harus memilki. Seharusnya jika kita benar-benar mencintai seseorang, kita harus rela mengikhlaskannya dengan orang lain, demi kebahagiannya. Karena dengan melihat dirinya bahagia, kita juga bisa meraskaan itu.

Tidak selamanya mengikhlaskan itu artinya menyerah. Tidak selamanya kehilangan itu menyakitkan. Kita harus bisa “Mencoba menjadi bahagia” menurut versi kita sendiri. Jangan pernah terlalu berharap kepada siapapun. Jangan pernah terlalu menggantungkan kebahagiaan kepada pasangan. Kita harus lebih bisa mencintai diri kita sendiri, sebelum mencintai orang lain. Kita harus bisa untuk bijak menghadapi semua keadaan. Cukup lakukan yang terbaik, sisanya serahkan pada Allah Swt.

Penulis yakin semua orang pasti pernah merasakan jartuh cinta. Merasakan sensasinya merupakan anugerah terindah yang diberikan Allah Swt kepada kita. Bagaimana mungkin dua orang yang asing bisa saling menyayangi, mencintai, tersambung hatinya tanpa anugerah dari Allah Swt. Saat sedang jatuh cinta, setiap orang pasti merasa sangat bahagia. Mencintai dan di cintai seseorang adalah nikmat terbesar dalam hidup. Setiap hari kita selalu memikirkan dia, mendoakannya selepas sholat, bercerita tentang hal-hal kecil, berbagi canda tawa, sungguh itu adalah hal yang paling membahagiakan.

Tetapi namanya hidup, pasti selalu dihadapkan dengan permaslahan. Saat kita mulai mencintai seseorang, disitulah muncul permasalahan lagi. Overthingking tiap malam, berpikir apakah kita pantas untuk dia, apakah orang yang kita sayangi saat ini adalah benar jodoh kita dan masih banyak lagi. Terkadang, pikiran-pikiran itu sangat menguras tenaga. Kita menjadi orang yang berbeda, malas untuk berkegiatan, susah tidur di jam normal dan masih banyak lagi. Memang, tidak selamanya memikirkan masa depan itu mengasyikkan.

Saat kita sudah memutuskan untuk mencintai seseorang, maka konsekuensinya hanya dua, miliki (dengan cara menikahinya), atau mengikhlaskan. Menurut penulis sendiri, cara terbaik untuk membuktikan perasaan hanya dengan pernikahan. Karena didalamnya ada akad suci, tanggung jawab besar dan kemuliaan. Terlepas dari anggapan bahwa tulisan ini terlalu religius atau apapun itu. Karena jika sudah berani bertindak, kita harus berani bertanggung jawab.

Tetapi melaksanakan pernikahan tidak semudah yang diucapkan. Pernikahan itu fase hidup selanjutnya yang akan kita lalui bersama orang yang jelas-jelas bukan dari keluarga kita, orang asing. Pernikahan tidak hanya menyatukan dua insan, tetapi lebih dari itu menyatukan dua keluarga. Dari sini muncul lagi permasalahan baru. Ketika kita belum siap untuk menikahi orang yang kita sayangi, maka akan timbul rasa khawatir di hati. Bagaiamana seandainya jika dia yang kita sayangi dinikahi oleh orang lain, bagaimana jika dia yang kita cintai sudah dijodohkan oleh pilihan orang tuanya, dan masih banyak lagi bagaimana-bagaimana yang lainnya. Percayalah, yang seperti itu akan sangat menguras tenaga, pikiran, dan emosi.

Di satu sisi kita tidak ingin orang yang kita cintai diambil orang lain, di satu sisi kita juga masih memiliki banyak cita-cita yang harus di wujudkan. Belum lagi sebagai seorang laki-laki, kita harus membahagiakan orangtua terlebih dahul.

Jelas-jelas hal ini akan menimbulkan penderitaan yang berat. Belum lagi jika dia yang kita sayangi tidak jelas sikapnya. Apakah dia benar-benar membalas perasaan kita, atau hanya memberi harapan saja, kita akan dibuat pusing oleh pikiran-pikiran seperti ini. Hal ini disebabkan oleh kita sendiri sebenarnya, kita terlalu menggantungkan kebahagiaan kita kepada orang yang kita cintai. Kita terlalu berharap pada manusia, padahal Sayyidina Ali bin Abi Thalib pun pernah berkata “Hal yang paling mengecewakan adalah berharap pada manusia.”

“Belajar memahami masa depan, takkah yang di simpan akan tenang, melahirkan semua nada indah, Mencoba menjadi bahagiamu sendiri.”

“Mencoba menjadi bahagiamu sendiri” kalimat ini yang paling disukai oleh penulis dari lirik lagu “Sudah” (Ardhito Pramono). Disini Ardhito ingin mengajarkan bagaimana caranya mengikhlaskan seseorang yang kita cintai, jika kita belum siap untuk memilikinya. Lewat lagunya, Ardhito menyatakan bahwa kita bisa bahagia dengan diri kita sendiri. Kita hanya perlu menerima semuanya dengan ikhlas, menikmati proses hidup dan melakukan yang terbaik semampu kita. Bukankan semua telah ada dalam skenario Allah Swt? maka dengan ini, kita hanya perlu melakukan yang terbaik, sisanya kita serahkan kepada Allah Swt.

Mengulang pernyataan yang sudah dijabarkan diatas, bahwa jika kita telah memutuskan untuk mencintai seseorang, pilihannya hanya dua, memilikinya atau mengikhlaskan. Selama kita belum siap untuk memilikinya, maka kita harus siap untuk mengikhlaskannya. Karena level tertinggi dari mencintai itu ikhlas. Seorang pecinta sejati tidak akan merasa sakit hati bila pujaannya bersanding dengan orang lain, selama pujaaan hatinya itu bahagia. Malah dia akan ikut bahagia. Memang benar kata orang, cinta tak harus memilki. Seharusnya jika kita benar-benar mencintai seseorang, kita harus rela mengikhlaskannya dengan orang lain, demi kebahagiannya. Karena dengan melihat dirinya bahagia, kita juga bisa meraskaan itu.

Tidak selamanya mengikhlaskan itu artinya menyerah. Tidak selamanya kehilangan itu menyakitkan. Kita harus bisa “Mencoba menjadi bahagia” menurut versi kita sendiri. Jangan pernah terlalu berharap kepada siapapun. Jangan pernah terlalu menggantungkan kebahagiaan kepada pasangan. Kita harus lebih bisa mencintai diri kita sendiri, sebelum mencintai orang lain. Kita harus bisa untuk bijak menghadapi semua keadaan. Cukup lakukan yang terbaik, sisanya serahkan pada Allah Swt.

Oleh: Pengelana Rasa

Tinggalkan Balasan