Sadar gak sih, kalo kita mungkin sering mengkambing hitamkan si virus jahat corona? rasa-rasanya orang jadi banyak beralasan mengenai banyak hal, seperti beberapa orang yang batal nikah karena alasan corona (sudah disinggung di artikel sebelumnya), alasan tidak mau bekerja karena ada corona, dan termasuk tidak belajar karena alasan corona, oh corona.

Padahal belajar tidak mesti harus di kelas, dan ada atau tidak ada gurupun belajar harus terus berlanjut, sekalipun Akatsuki berhasil menaklukan Konoha. Pokonya belajar dulu, belajar lagi, lagi-lagi belajar, belajar teroos, belajar is forever. Ya … sekedar membaca buku, mendengar diskusi di tv, ceramah di radio atau apapun yang bisa dijadikan sumber mendapatkan ilmu baru, bisa lah. jangan gara-gara corona, sekolah di tutup belajar juga berhenti, dan beralasan i a i o, ini itu yang gak jelas.

Mari kita belajar , memetik arti menuai makna dari pendahulu kita di masa lalu. adalah Muhammad Bin Idris atau yang akrab kita kenal dengan Imam As-syafi’i adalah salah satu contoh pembelajar ulet yang bisa kita jadikan role model dalam belajar, menuntut ilmu. Bayangin, Imam Syafi’i tatkala menyadari bahwa ibunya tak mampu membelikannya buku untuk menulis, tidak sama sekali membuat ciut nyali belajarnya.

Imam As-Syafi’i mencari tulang-tulang hewan, kemudian setiap kali dia belajar mendapat ilmu baru, dia ingat ilmu itu, dia hafal dia fahami, kemudian semua hafalan dan pemahamannya dia tulis ulang diatas tulang hewan tadi, sampai penuh setiap bagian tulang itu dengan tulisan dan ilmu-ilmu.

Kemudian dia bawa tulang itu ke rumah, diletakannya pada satu wadah khusus yang ternyata dalam wadah itu isinya tulang semua yang telah penuh dengan goresan tinta-tinta keilmuan imam As-Syafi’i. Allahuakbar! jauh banget sama kita ya, yang fasilitas belajarnya cukuplah memadai (sekedar buku dan pulpen wae mah).

Ruangan belajar nyaman, kadang ada AC nya, ada board, ada spidol bahkan sekarang belajar pake proyektor, ada gambarnya, ada suaranya, contoh dan ilustrasinya jelas, gurunya jenius pinter luar biasa, tapi … belajar masih gitu-gtu aja bahkan cenderung males. Ada apa gerangan? (Rumput bergoyang geleng-geleng kepala).

Kalo boleh ngutip kata-katanya Ustad Adi Hidayat “Jika dengan semua fasilitas dan kemudahan-kemudahan penunjang belajar itu kamu masih belum bisa semangat belajar, harus dengan cara apalagi supaya kamu mau belajar?” (Istighfar dalem ati)

Sekarang kita semua sama-sama tau tentang keadaan yang menimpa bumi saat ini terkhusus di Indonesia, sebuah virus menyerang dan melumpuhkan banyak kegiatan manusia, termasuk aktivitas belajar. Sehingga pemerintah mengambil tindakan preventif dengan mengganti sistem belajar offline (belajar tatap muka di kelas) dengan sistem online atau daring (dalam jaringan).

Banyak diantara kawan-kawan pembelajar yang mengeluh dan tidak sedikit yang protes dengan hal ini, bahkan sebagian orang mogok belajar. Protesnya beragam dari mulai masalah sarana belajar online seperti Hp, laptop dan segala perangkat pendukungnya seperti sinyal dan kuota, alhasil sebagian orang (mahasiswa) pasrah dan memilih mengulang pembelajaran tahun depan.

Sementara para pembelajar lain seperti kawan-kawan di SD, SMP dan SMA tidak sedikit yang acuh tak acuh dengan kondisi saat ini, bahkan sebagian siswa justru bergembira karena menganggap belajar diliburkan sampai waktu yang tidak ditentukan. Jadinya mereka lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain, atau mungkin bekerja mencari uang.

Dengan tetap berharap keadaan kembali membaik, belajar harus terus berlanjut apapun dan bagaimanapun kondisinya. Tentunya penulispun juga mengerti dan memahami kondisi yang ada saat ini, mengingat penulis artikel ini juga sama seorang pembelajar, mengerti bagaimana sulitnya belajar daring dengan segala keterbatasannya, keterbatasan sarana belajar, akses internet, ditambah lagi pembelajaran yang dirasa kadang kurang efektif dan dua kali lebih sulit dimengerti dari pada belajar di kelas.

Tapi mari sama-sama kita, aku dan kamu belajar dari Imam As-Syafi’i. Beliau telah mengajarkan kepada kita, bahwa belajar itu tidak melulu soal fasilitas, tapi soal tekad, niat dan keinginan yang kuat. Berangkat dari keterbatasan itu beliau mampu membuktikannya, beliau bisa sukses, dan tinta emas sejarah telah mengabadikan namanya. Imam As-Syafi’i menjadi satu diantara empat mazhab fikih yang kita kenal dan kita ikuti ajarannya hingga saat ini. Subhanallah …

Penyamar : Kurniawan Aziz In

Editor: Rafi

Tinggalkan Balasan