Belajar Nilai Kesabaran Nabi Ayyub As.

0

Alhamdulillah sebentar lagi kita akan menjumpai bulan yang paling di tunggu-tunggu, paling mulia, bulan ramadhan. Di bulan itu kita dilatih untuk sabar menahan lapar dan dahaga, disampin itu kita juga dituntut bisa menahan diri dari hal-hal buruk yang bisa merusak pahala puasa, kita dilatih untuk bersabar. Terkait dengan kesabaran, ada seorang nabi yang patut dicontoh kesabarannya, yakni nabi ayub as.

Nabi yang dikenal dengan kesabarannya dalam menghadapi ujian yang menimpa dirinya. Berupa penyakit yang mana tubuhnya dipenuhi borok dan nanah. Tetapi hal itu tidak menghentikan nabi ayub dalam melaksanakan ibadahnya kepada allah swt. Barulah di saat penyakitnya menyerang lisan dan hatinya dia berdoa kepada allah untuk disembuhkan penyakitnya.

Yang dapat kita teladani dari pribadi nabi ayub as., ialah ketabahan dan kesabarannya dalam menghadapi ujian yang ada. Tidak banyak mengeluh yang tidak perlu dan fokus pada apa yang harus dilakukan, yakni menunaikan kewajibannya sebagai hamba. Dia  baru minta untuk disembuhkan penyakitnya disaat itu akan menghalangi ibadahnya kepada tuhannya.

Dari sisi luar terlihat buruk tapi di dalamnya sangatlah indah dan bercahaya. Bila dibandingkan dengan diri kita mungkin akan sangat merisihkan. Sebab walaupun keadaan fisik kita sehat namun bila yang dilihat adalah hati kita mungkin keadaannya melebihi penyakitnya nabi ayub as.

Fokus pada apa yang bisa dilakukan di masa sekarang bukanya khawatir dengan apa yang belum tentu terjadi. Karena diri yang sekarang menentukan diri yang akan datang. Tidak dilalaikan oleh hal-hal yang menyimpang dan merugikan diri sendiri.

Musibah bagi seorang muslim yang menimpa dirinya seperti sakit ataupun berupa bencana alam dan lain-lain adalah penggugur dosa bagi dirinya. “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya” (HR. Muslim, no. 2999).

Bencana yang sebenarnya adalah bencana yang menimpa kepada agama. Karena seperti kisah nabi ayub di saat penyakitnya menyerang lisan dan hatinya ia berdo’a kepada allah swt., untuk disembuhkan penyakitnya supaya tidak ada yang menghalanginya dalam memenuhi kewajibannya yaitu beribadah kepada allah swt.

وَاَ يُّوْبَ اِذْ نَا دٰى رَبَّهٗۤ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَ نْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ

“dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang”

(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 83).

Kita pun harus berdoa kepada allah swt. Minta untuk disembuhkan dan dihindarkan dari penyakit fisik dan batin. Terutama dalam penyakit batin jangan sampai membuat kita lupa dengan hakikat yang sesungguhnya dari dunia ini yang merupakan tempat ujian. Tempat yang akan segera kita tinggalkan dan pergi ke tempat yang penuh dengan keabadian tanpa kematian. Karena kita hanya mati di dunia saja.

Dari keluhan muncullah bencana

Duhai orang miskin, jauhi dan tawakkallah!

Jika Anda arahkan munajatmu pada Tuhan Sang pemberi, pasti Anda dapat.

Sebab, segala sesuatu adalah anugerah-Nya.

Dan segala sesuatu adalah suci.

Tanpa Allah: engkau akan tersesat dan cemas di dunia ini

Apakah Anda mengeluhkan biji pasir, sedangkan orang lain dapat musibah sebesar dunia?

Sunggulah keluhan itu hanyalah musibah di atas musibah

Dosa di atas dosa dan derita!

Jika Anda tersenyum di hadapan musibah… 

Niscaya ia akan layu dan larut…

Di bawah mentari kebenaran, menjadi butiran-butiran es.

Saat itulah duniamu tersenyum…

Senyuman yang menyiratkan keyakinan…

Senyuman gembira karena pancaran keyakinan…

Senyuman kagum karena rahasia-rahasia keyakinan.

(Al-Lama’at: Menikmati Hidangan Langit/Bediuzzaman Said Nursi)

Oleh : Muhammad Zarkasih Nur

Tinggalkan Balasan