Ketika seorang anak tumbuh dan mulai berinteraksi dengan anak-anak yang lain dan orang-orang dewasa yang ada di sekelilingnya, sebagian cintanya mulai berhubungan dengan mereka. Cintapun secara bertahap mulai berkembang setiap kali hubungan si anak dengan orang-orang semakin berkembang dan bervariasai.

Si anak akan belajar dari pengalaman bahwa ia dapat hidup harmoni dan serasi dengan orang lain, jika ia membatasi kecintaannya kepada diri sendiri dan mengurangi sikap egoisnya. Ia juga mesti bertindak seimbang dengan kecintaannya dan kasih sayangnya kepada orang lain. Ia harus bekerjasama dengan orang lain dan mengulurkan tangan membantunya.

Keberagaman akan membantu manusia untuk tidak mencintai diri sendiri secara berlebihan, serta mencintai dan berinteraksi secara baik dengan orang lain. Kenyataan ini telah ditunjukan al- Qur’an ketika mengisyaratkan kecintaan manusia kepada dirinya sendiri yang tampak dari keluh-kesah dan kegelisahannya manakala terkena keburukan.

Isyarat lain juga tampak dari ketamakan manusia atas harta yang ingin diraihnya serta bakhil dan kikir kepada orang lain. Selanjutnya, secara langsung Allah Swt memuji orang-orang yang berupaya menghilangkan keberlebihan dalam kecintaannya kepada diri sendiri.

Boleh jadi, manusia terbatas dari indikasi gelisah dan keluh-kesah saat ditimpa keburukan dan terbebas dari kebakhilan saat mendapat kebaikan. Caranya adalah berpegang erat kepada keimanan, mendirikan shalat, membayar zakat, bersedekah kepada fakir miskin dan kepada orang-orang yang enggan meminta-minta, serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat mengundang murka Allah Swt.

Temasuk persoalan keimanan adalah keseimbangan antara kecintaan manusia kepada dirinya dan kecintaan kepada orang lain. Hal itu akan mewujudkan kemaslahatan individu dan masyarakat. Seperti firman Allah SWT dalam QS. al- Ma’arijn ayat 19-27.

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan, berkeluh-kesah. dan apabila mendapatkan kebaikan (harta) dia jadi kikir. Kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat. Mereka yang tetap setia melaksanakan salatnya. dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu. bagi orang (miskin) yang meminta dan yan tidak meminta, dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.”

Al-Qur’an juga membangun kecintaan dari keharmonisan di antara manusia serta kerjasama, saling setia, dan persahabatan antar sesame mereka. Allah Swt berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 103

“Dan hendaklah kalian berpegang kepada tali Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika dahulu kalian bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian. Maka karena nikmat Allah jadilah kalian orang-orang yang bersaudara……..”

Al-Qur’an memuji kaum Anshar tatkala menunjukan kecintaan yang tulus kepada kaum Muhajirin. Pujian juga diberikan kepada kaum Anshar karena uluran tangan mereka dalam memberi bantuan kepada kaum Muhajirin saat mereka mencari perlindungan. Kaum Anshar berbagi tempat tinggal dan kekayaan dengan kaum Muhajirin, bahkan kaum Anshar lebih mengutamakan kaum Muhajirin ketimbang diri mereka sendiri. Dalam QS. al- Hasyrayat ayat 9 di jelaskan

“Dan orang-orang yang telah menempat inegri (Madinah) dan telah beriman sebelum mereka, mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka. Dan takada di dalam dada mereka berkeinginan terhadap apa yang telah diberikan kepada mereka (kaum Muhajirin). Dan mereka mengutamakan (kaum Muhajirin itu) atas diri mereka sendiri, kendatipun mereka juga membutuhkan. Dan barangsiapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Al-Qur’an mengajak kaum mukminin untuk mencintai satu sama lain seperti layaknya seorang saudara mencintai saudaranya. Berkaitan dengan hal ini terdapat bimbingan bagi manusia agar tidak mencintai diri sendiri secar berlebihan, dan juga bimbingan agar ia mencintai saudara-saudaranya yang seiman. Sebab, di antara persoalannya adalah bagaimana ia mencintai diri sendiri secara seimbang dan menahan diri dari kecintaan yang berlebihan kepada diri sendiri.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, oleh karena itu, damaikanlah di antara kedua saudara kalian dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian dirahmati.” QS. al-Hujurat ayat 10.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAaw besabda, “Kalian tak akan masuk surga sebelum beriman, dan kalian belumlah beriaman sebelum saling mencintai. Maukah kalian kutunjukan sesuatu yang bila dikerjakan, kalian pasti saling mencintai ? Sebarkan salam di anta kalian.”

Rasulullah Saw juga bersabda, “Demi diriku yang ada dalam genggaman-Nya. Seorang hamba belumlah beriman sebelum mencintai tetangganya, atau saudaranya, sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Oleh : Muhammad Rijali

Editor : Ka

Tinggalkan Balasan