Hampir tiap pekan saya mendengar dan menyaksikan adanya pesta pernikahan selama masa pandemi ini. Pernikahan memang bukan hal yang aneh, tapi kali ini (pernikahan di tengah pandemi)  bisa tiba-tiba menjadi hal yang aneh. Yang jadi pertanyaan, kenapa banyak pemuda dan pemudi yang melepas masa lajangnya jutsru di masa-masa sulit seperti ini? Sedangkan di sana-sini banyak seseorang yang kehilangan pekerjaan untuk menafkahi anak dan istrinya. Pertimbangan-pertimbangan apakah yang sebenarnya yang ada di benak mereka yang melangsungkan pernikahannya di masa pandemi? Hehe.

Dalam artikel yang dimuat sebelumnya “Fenomena Nikah di Masa Pandemi : Menguatkan Pendapat Cinta Tak Butuh Alasan”, yang ditulis oleh saudara Kurniawan Aziz, mungkin menjadi salah satu ide kenapa banyak terjadi pernikahan di masa pandemi. dikatakan dalam artikel tersebut bahwa pandemi bukan suatu alasan untuk menahan pernikahan, karena yang mengatakan seperti itu adalah mereka yang gak serius  dan banyak alasan sama pasangannya. Setelah membaca artikel tersebut rasa-rasanya saya jadi khawatir, pasalnya pertimbangan-pertimbangan yang lain seperti ekonomi (nafkah), mental dan pendidikan seputar pernikahan tidak menjadi variabel utama. Kok aneh ya?

Kekhawatiran saya adalah jika benar maraknya pernikahan di masa pandemi karena alasan cinta saja, maka bagaimana perjalanan pasangan kedua mempelai tersebut pasca menikah? Apakah akan sakinah mawaddah wa rahmah sebagaimana harapan para tamu undangan? Kecuali barisan para mantan, hehe. Sedangkan tidak selamanya yang dibutuhkan itu asupan batiniyah (perasaan mencintai), melainkan juga perlu dipikirkan matang-matang akan pengetahuan tentang rumah tangga, perbekalan ekonomi, persiapan bersalin dan tempat tinggal kedua mempelai tersebut bukan? Penting untuk dicatat bahwa ternyata perut memang  tidak akan bisa kenyang bila hanya makan cinta.

Tidak berlebihan jika saya khawatir dengan kondisi sekarang, karena di saat yang bersamaan (saat pandemi) angka perceraian juga begitu tinggi. Alasannya beragam, ada yang bercerai karena masalah ekonomi, salah paham dalam komunikasi (misunderstanding), ketidaksabaran (masalah mental) karena  melihat pasangan  tidak bekerja selama pandemi dan alasan-alasan lainnya. Semua itu menunjukkan bahwa cinta itu memang tak butuh alasan, tapi pernikahan sepertinya harus butuh alasan kan? Tanpa pertimbangan-pertimbangan yang matang, saya khawatir bila pernikahan terjadi karena hanya terobsesi saja oleh keadaan dan trend yang sedang viral. Hehe

Fenomena nikah di masa pandemi ini harus diimbangi dengan tekad dan itikad anu kuat tur lempeung. Sambil dibekali dengan bekal moril dan materil yang cukup supaya pernikahan tersebut langgeng dan sakinah mawaddah wa rahmah. Kaum jomblo jangan senang dan  merasa terhiburdulu  dengan tulisan saya ini ya, Hehe. Karena tetap menikah itu  adalah “Jalan ninja” untuk menyempurnakan separuh agama. Jadi, yang baik itu menurut saya adalah mereka yang menikah di masa pandemi ini sambil  diimbangi dengan pertimbangan-pertimbangan atau alasan-alasan yang raisonal dan proporsional.

Tinggalkan Balasan