Agama islam dalam perkembangannya banyak ditafsirkan sesuai dengan pikiran dan pemahaman para pemeluknya. Apalagi pasca meninggalnya Rasul, interpretasi baru dalam memahami islam pun bermunculan di sana-sini. Yang paling fenomenal adalah munculnya aliran-aliran teologi dalam islam pada zaman Bani Umayah seperti Aliran Jabariyah, Qadariyah, As’ariyah atau Maturidiyah. Terkait paham Jabariyah, barangkali sudah menjadi rahasia umum bila paham tersebut selalu dihadap-hadapkan dengan paham keislaman lain seperti Qadariyah, As’ariyah dan Maturidiyah. Namun penulis hanya ingin mengatakan “cukup gunakan filsafat eksistensialisme Sartre buat menggugat aliran Jabariyah”.

Paham Jabariyah lekat kaitannya dengan kehidupan keberagamaan kita dewasa ini. Di tengah hiruk pikuk kehidupan beragama kerap muncul suatu ide yang beorientasi bahwa segala perbuatan manusia itu mutlak dilakukan atas dasar dan keinginan Tuhan semata. Argumen tersebut menggiring manusia berpikir seolah-olah ia tidak bisa menentukan nasibnya sendiri sebagai makhluk. Di tengah ide itulah muncul keyakinan bahwa mau berbuat kebaikan atau kemakiatan, pada dasarnya itu terjadi atas kehendak dan tindakan Tuhan. Apakah benar seperti itu?

Aliran Jabariyah

Menurut Harun Nasution dalam bukunya Islam Ditinjau Berbagai Aspeknya, Aliran Jabariyah diperkenalkan pertama kali oleh al-Ja’d ibnu Dirham. Tetapi yang menyiarkannya adalah Jaham ibnu Safwan dari Khurasan. Jaham adalah sekretaris dari Suraihah ibnu al-Harits, yaitu orang yang ingin melakukan gerakan pemberontakan melawan kekuasaan Bani Umayyah. Dalam perlawanan itu Jaham sendiri dapat ditangkap dan kemudian dihukum mati pada tahun 131 H.

Secara Etimologi, Abdul Razak (2007) dalam Ilmu Kalam mengatakan bahwa Jabariyah artinya memaksa atau mengharuskan melakukan sesuatu. Sementara Itu menurut Harun Nasution (dalam Lailatul Maskhuroh, 2015) dalam bukunya Teologi Islam mengatakan bahwa Jabariyah semakna dengan Fatalisme jika ditarik ke dalam bahasa inggris. Dimana Fatalisme merupakan paham yang menyebutkan bahwa perbuatan manusia itu telah ditentukan dari semula oleh qadha’ dan qadar Tuhan.

Sedangkan secara Terminologi, masih menurut Maskhuroh, Jabariyah berarti aliran yang berkeyakinan bahwa tidak adanya perbuatan manusia secara hakikat dan menyandarkan perbuatan tersebut kepada Allah Swt, segala perbuatan hanya terjadi dengan qudrat dan iradat-Nya. Kelompok Jabariyah adalah mereka yang tidak memiliki keyakinan bahwa manusia bisa berbuat berdasarkan kebebasan manusia itu sendiri. Itu kemudian yang menjadi pondasi keyakinan mereka bahwa soal ibadah atau tidak, berbuat kebaikan atau keburukan, semuanya bersumber dari Tuhan.

Filsafat Eksistesialisme Sartre

Aliran Jabariyah nampaknya berlainan dengan filsafat eksistensialisme Sartre dalam hal memandang kebebasan manusia. Jean Paul Sartre adalah filsuf Prancis yang menganut aliran eksistensialisme. Filsuf yang pernah kuliah di Universitas Sorbonne tersebut mengatakan bahwa manusia itu adalah kebebasan. Hal itu didasari karena esksistensi manusia nyatanya bisa mendahului esensinya.

Bertens (2006) dalam Filsafat Barat Kontemporer Prancis menguraikan bagaimana jalan pikiran Sartre mengenai pendapatnya yang mengatakan bahwa eksistensi manusia mendahului esensinya. Ia memberikan uraian misalnya ada sebuah gelas dengan ciri-ciri tertentu. Pembuat gelas tersebut sudah tentu tahu tentang apa yang sedang ia buat (tentang esensinya). Gelas dalam eksistensinya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya dipakai oleh manusia untuk minum dan lain-lain. Gelas itu dalam eksistensinya tidak bebas.

Berbeda dengan eksistensi manusia, menurut Sartre walaupun manusia sebagai makhluk yang dalam esensinya diciptakan untuk tujuan tertentu (misalnya untuk beribadah kepada Tuhan), dalam kenyataannya manusia masih bisa berkata atau berbuat untuk tidak sejalur dengan tujuan penciptaan Tuhan. Manusia selalu bebas untuk berbuat atau memilih sesuatu. Inilah hemat penulis yang bisa meruntuhkan argumen aliran Jabariyah yang mengatakan semua perbuatan dan prilaku mutlak atas dasar kehendak Allah Swt.

Gugurnya Argumen Jabariyah

Melalui Sartre, kita dapat mengetahui bahwa dalam diri manusia setidaknya ada kehendak atau kebebasan yang bisa ditentukan oleh manusia itu sendiri. Kebaikan atau keburukan yang dilakukan manusia otomatis tidak selalu disandarkan kepada Tuhan, melainkan ada ruang untuk manusia memilih antara yang baik (taqwa) atau yang buruk (fuzur).

Akhirnya, dalam beribadah dan menjalankan aturan agama yang namanya Tuhan tidak akan selalu disalahkan. Jika meminjam istilah Buya Syafi’i Ma’arif, Tuhan tidak boleh selalu dibajak. Maksudnya, kelompok keagamaan islam tertentu tidak boleh memaksakan Tuhan agar selalu berpihak kepadanya, untuk kemudian membenarkan tindakan-tindakannya yang keliru. Dalam hal ini Aliran Jabariyah yang selalu membenarkan perbuatan-perbuatanya atas nama Tuhan mesti disikapi dengan bijak.

Tinggalkan Balasan