Beberapa tahun belakangan ini, per-wibuan dunia dihebohkan dengan dirilisnya anime yang berjudul “Attack On Titan”, bergenre pasca apokaliptik (Fiksi ilmiah). Film yang diidei oleh Hajime Isayama ini berhasil menarik minat para pecinta anime di seluruh dunia. Anime ini menyuguhkan laga fantasi yang dibalut dengan drama penuh emosional sehingga mampu mengaduk-ngaduk emosi penontonnya, tidak heran jika serial ini sangat dinanti-natikan tiap episodenya. Sukses mengambil hati para penggemar dalam tiga season sebelumnya, kini anime ini berlanjut  ke season keempat, yang merupakan final seaoson (Season terakhir) dari keseluruhan alur ceritanya. Cerita yang disuguhkan ditiap episodenya mampu membuat penasaran para penggemar, alur ceritanya penuh misteri sehingga menyisakan tanya “apa yang terjadi sebenarnya?”

Ada yang menarik dari alur cerita anime “Attack On Titan” ini. Bercerita tentang orang-orang yang terjebak dalam sebuah tembok super tinggi berlapis yang berbentuk melingkar. Bukan tanpa sebab, alasan orang-orang di dalam tembok tidak bisa keluar dari lingkaran tembok itu, adalah karena diluar tembok terdapat banyak manusia raksasa pembunuh, raksasa jahat yang haus darah dan siap memakan siapa saja manusia yang mereka temui. Itulah alasan kenapa orang-orang tetap tinggal di dalam tembok, karena tembok itu merupakan penghalang antara mereka dengan maut, alhasil mereka harus tinggal di dalam tembok selamanya dari satu generasi kegenerasi berikutnya (turun temurun), mereka merasa akan menderita seumur hidup.

Dari kilas garis besar alur cerita serial ini, ada hal menarik yang perlu dibahas, yakni mengenai konsep “Kejahatan, keburukan dan penderitaan”. Sub bahasan ini sebenarnya sudah pernah coba dijelaskan oleh banyak ahli, termasuk para filsuf seperti Epikuros. Epikuros mempertanyakan “Jika Tuhan itu Maha Kuasa dan Maha Baik, mengapa Ia tidak menghilangkan kejahatan dari muka bumi?”  Menurutnya, jika Tuhan tidak dapat mencegah kejahatan maka Ia tidak sepenuhnya berkuasa, jika Tuhan tidak mau mencegah kejahatan maka Ia tidak sepenuhnya baik, jika Tuhan mau dan mampu mencegah kejahatan maka kenapa kejahatan ada? Mengapa Tuhan yang bisa dan mampu mencegah kejahatan tidak melakukannya? Pada kesempatan kali ini, penulis akan mencoba mengkaji konsep kejahatan ini melalui teori atau dalil-dalil teodise yang diusung oleh Leibniz.

Pertanyaan seperti “Bagaimana kita menjelaskan keberadaan kejahatan dan keburukan yang ada di dunia? siapa yang menciptakannya? Apakah kejahatan itu diciptakan manusia atau diciptakan Tuhan sebagai pencipta segala sesuatu? Lalu apakah kebebasan itu ada? Apakah manusia bertindak sesuai kehendaknya atau kehendak Tuhan?” pertanyaan-pertanyaan ini telah coba dijelaskan oleh Leibniz dengan teori teodise-nya. Teodise sendiri berasal dari kata theos dan dike, theos berarti Tuhan dan dike berarti keadilan, jadi theodise sendiri merupakan bahasan yang bertemakan keadilan Tuhan. Nah, setelah kita mampu memahami theodise ini, kita akan mampu menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang dipaparkan diatas.

Sebelumya Leibniz akan membagi kejahatan pada tiga kategori, yakni : kejahatan metafisis, kejahatan fisik dan kejahatan moral.  Kejahatan metafisis adalah kejahatan yang berkaitan dengan keburukan dan penderitaan yang terjadi di dunia. Menurutnya, penderitaan ini terjadi sebagai bentuk kemakluman terhadap bumi/dunia yang memang pada dasarnya tidak diciptakan secara sempurna oleh Tuhan, karena bagi Leibniz yang maha sempurna itu hanya Tuhan, makhluk semisal bumi dan seisinya tidak boleh diciptakan sesempurna Tuhan. Sudah semestinya kesempurnaan Tuhan tidak disebandingkan atau disetarakan dengan apapun. Berangkat dari ketidaksempurnaan dunia itulah, maka kejahatan, penderitaan, keburukan menjadi bagian yang mesti ada di dunia sebagai wujud ketidak sempurnaanya. Ini sejalan juga dengan ungkapan Franz Magnis yang mengatakan bahwa penderitaan yang terjadi pada manusia adalah kodratnya, sehingga maklum terjadi.

Kedua adalah kejahatan fisik, kejahatan fisik berkaitan dengan kejatahatan atau keburukan yang terjadi pada dunia, semisal wabah dan bencana alam, ini merupakan keburukan yang terjadi secara alamiah, meskipun Leibniz mengungkapkan bahwa kejahatan fisik pada dasarnya diakibatkan oleh kejahatan moral. Kejahatan moral adalah kejahatan yang berkaitan dengan kejahatan yang dilakukan manusia sebagai makhluk Tuhan yang diberikan kehendak bebas. Kebebasan inilah yang membuat manusia dengan leluasa melakukan berbagaimacam kesalahan dan dosa, inilah yang Leibniz sebut dengan kejahatan moral. Pada akhirnya kejahatan moral ini berakibat pada kejahatan fisik. Manusia bebas melakukan kesalahan seperti membuang sampah sembarangan, eksploitasi alam secara brutal dan lain sebagainya yang mengakibatkan goncangnya keharmonian alam, sehingga rentan terjadi bencana.

Dari sini kita bisa pahami bahwa kejahatan itu terjadi oleh manusia itu sendiri, selain dari kemakluman dunia karena tidak diciptakan Tuhan secara sempurnaan. Kembali ke Anime “Attack On Titan”, setelah kita memahami teodise Leibniz mengenai kejahatan ini, sekarang kita mampu memberikan komentar mengenai isi cerita anime ini, bahwa penderitaan yang dialami orang-orang di dalam tembok itu diakibatkan oleh dua faktor. Pertama, penderitaan mereka terjadi karena memang semestinya alam tidak beroperasi secara sempurna. Kedua, penderitaan mereka terjadi karena kejahatan moral yang dilakukan sebagian manusia, dalam hal ini digambarkan sebagai raksasa. Sehingga jika kita mengacu pada dalil teodise Leibniz ini, kita bisa mengambil benang merah bahwa “Kejahatan dan penderitaan tidak terjadi karena Tuhan.”

 Pertanyaanya sekarang, jika Tuhan tidak menciptakan kejahatan, lantas apakah kejahatan itu hanya ada dan terjadi murni karena manusia? Jika pertanyaan ini coba kita tanyakan pada Agustinus dan Thomas Aquinas maka mereka akan menjawab dengan mengatakan bahwa kejahatan itu bukanlah sesuatu (a thing) tapi ketiadaan sesuatu (nothing). Artinya bahwa kejahatan itu bukanlah “sesuatu”, melainkan sebab karena ketiadaanya kebaikan. Pada dasarnya segalanya hanyalah kebaikan, namun saat kebaikan itu hilang atau tidak dilakukan manusia maka sebagai gantinya kejahatan muncul. Ini seperti analogi gelap, gelap adalah akibat dari ketiadaan terang.

Sekarang kita mengerti bahwa pada dasarnya segalanya adalah kebaikan. Namun karena manusia memiliki kehendak bebas melakukan apapun sehingga ada saja manusia yang memilih tidak melakukan kebaikan dan titah Tuhan, maka sesungguhnya mereka telah membuka ruang bagi kejahatan untuk hadir pada dirinya. Saat kebaikan hilang atau tidak dilakukan oleh seorang manusia, maka kejahatan moral hadir pada dirinya dan kemudian dari kejahatan moral itu memantik kejahatan fisik, yang akibat dari kejahatan itu penderitaannya dirasakan oleh banyak manusia di bumi bahkan termasuk manusia-manusia yang berbuat kebaikan. Seperti halnya orang-orang dalam tembok di cerita “Attack On Titan” tadi, mereka semua harus merasakan penderitaan berkepanjangan yang diakibatkan oleh kejahatan yang dilakukan oleh sebagian manusia.

Oleh : Kurniawan Aziz

Tinggalkan Balasan