Lantunan ayat suci menggema diantara bangunan panggung dikala lembayung masih enggan untuk menghilang, ditambah sang malam yang mulai memunculkan jatidiri. Kondisi seperti itulah yang dulu terasa. Hidupnya desa tidak bisa terlepas dari kegiatan malam setelah shalat maghrib. Mengaji setelah maghrib seakan kegiatan yang sangat menyenangkan bagi anak anak ataupun kalangan dewasa kala itu. Hampir setiap rumah warga terdengar lantunan ayat suci alquran ditambah suara kencang anak anak membaca abatasa.

Terjaganya keamaanan di Desa ikut dipengaruhi dengan terjaga nya moral warga. Sehingga warga desa meyakini program maghrib mengaji sebagai sebuah upaya membina moral sejak dini, menjaga keutuhan agama & bangsa.

Namun seiring masuknya arus modernisasi yang tak terbendung di desaku ditambah para pendatang dari metropolitan yang kebanyakan berkehidupan hedonis dan gelamor ikut mempengaruhi situasi di desa. Desa dan rumah – rumah yang tadinya dihiasi ayat suci selepas bada maghrib mulai berganti menjadi siaran tv. Anak – anak pun mulai tak terlihat beramai ramai pergi ke Masjid. Karena menurut pandangan mereka Masjid tak lebih menarik dari pada tv. Maghrib di Masjid mulai sepi, sedangkan perempatan – perempatan jalan mulai dipenuhi oleh anak desa yang bergabung dengan pendatang metropolitan. Waktu selepas maghrib yang tadinya dipakai untuk mengaji dan membina moral hanya habis dipakai hiburan semata.

Hilangnya suasana maghrib mengaji di Desaku secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kondisi moral juga keamanan Desa. Betapa tidak menurut kepolisan tingkat kecamatan atau yang lebih terkenal dengan kapolsek menyebutkan ada 40 orang warga Desa yang masuk kedalam daftar pencarian orang (DPO) sebagian diantara nya terjerembab narkoba, sebagian lagi terjerembab kasus pencurian, juga bentrokan.

Sayangnya sedikit warga yang menyadari hal ini, para pejabat desa pun cenderung mendiamkan hal ini. Pejabat desa lebih suka membangun jalan ketimbang membangun kembali moral dengan menghidupkan kembali program maghrib mengaji. Kondisi ini semakin di perparah dengan munculnya tayangan tv berlabelkan anak – anak yang berisi konten dewasa. Sehingga dikhawatirkan akan muncul prilaku asusila di Desaku untuk kedepanya.

Kalau lah hal ini dibiarkan kebangkitan Desa ini dari keterpurukan hanyalah angan – angan semata. Karena berbicara Desa bukan hanya berbicara sawah, gunung dengan situasi pemandangan yang indah saja. Berbicara Desa pun bukan hanya berbicara letak georafis. Lebih dari itu desa merupakan semangat ramah, tamah dan religius yang hidup dalam seluruh aspek kehidupan masyarakatnya. Pembangunan desa harus diiringi pembanguan akhlak dan moral. Dan salah satu cara mengwujudkan hal itu adalah dengan menghidupkan kembali semangat intelektual dan gotong royong masyrakatnya. Salah satunya menghidupkan kembali Masjid dengan program maghrib mengaji. Karena Masjid bukan hanya tempat ritual peribadahan semata. Disanalah tepat pengkajian keilmuan, membangun obrolan seputar desa bahkan bangsa. Dari bangunan bernama Masjid itulah terlahir tokoh tokoh hebat desa saat ini. Mereka didik lewat maghrib mengaji di Masjid

Kembalikan maghrib di desaku. Karena hakekatnya Modernisasi perlu disikapi dengan bukan meninggalkan nilai – nilai positif yang sudah dibangun dari sejak dulu. Orang tua mesti sadar diri. Anak – anak mereka adalah investasi masa depan giring kembali mereka untuk ke masjid untuk mengaji. Pejabat desa jangan cuman hanya memikirkan isi perut dirinya dan warganya, karena isi hati warga nya juga sangatlah berarti guna membangun desa religius tanpa harus meninggalkan arus modernisasi. Kembalikan maghrib di desaku.

Oleh : Hasbi Dathsakornthonglao

Tinggalkan Balasan