Berbagai tindakan yang kita lakukan tidak semuanya dapat disimpulkan dalam satu maksud atau tujuan tertentu. Apa yang kita kerjakan kembali kepada niat, dimana letak niat tersebut ialah ada di dalam hati. Sebelum kita masuk lebih jauh, penulis akan sedikit menguraikan tentang indra sebagai alat penting dalam kehidupan manusia. Dalam QS. Al-Isra’ ayat 36 disebutkan Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”. Sebelumnya penulis sadari keterbatasan penulis dalam segi bahasa dalam mentadabburi ayat ini mungkin tidak akan melahirkan pemahaman yang mendalam. #jehsinau.

Dalam ayat tersebut telah disinggung beberapa alat penting dalam tubuh manusia. Diawali dengan pendengaran, dimana terwujudkan oleh alat yang kita biasa sebut dengan telinga. Pendengaran yang berwujud dengan sebutan telinga ini ialah entitas yang penting dan mungkin paling penting pada tubuh manusia. Sejak terlahir di muka bumi seorang manusia pada umumnya, pendengaran menjadi indra yang paling awal berfungsi. Dan dalam penelitian pun disebutkan bahwa orang yang meninggal dunia pun, indra yang paling terakhir aktif ialah pendengaran.

Sehingga jika kita pernah melihat orang yang sedang sakit keras bahkan koma, indra pendengaran sesungguhnya masih mendengar apa yang kita ucapkan kepada orang yang sakit keras atau koma tersebut. Do’a-do’a atau ayat-ayat qur’an yang kita dengungkan di samping orang yang sakit keras masihlah mereka dengar. Seperti yang kita ketahui dalam keadaan sakit keras tersebut berbagai anggota tubuh tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya, tetapi pendengaran masih tetap bisa mengkondisikan fungsinya. Karenanya ketika ada orang yang sakit keras, lafal-lafal tauhid atau aktifitas talkin diperintahkan Nabi untuk didengungkan disamping orang tersebut.

Alat penting kedua yang disebutkan dalam ayat tersebut ialah penglihatan. Penglihatan yang berwujud mata merupakan salah satu indera yang penting, tetapi juga paling sering terjebak fitnah. Indra inilah yang terkadang menjadikan manusia terlarut dalam dosa dan terkecoh kepada sebuah kepalsuan. Melalui sebatas penglihatan terkadang manusia dapat dengan mudahnya menyimpulkan sebuah perilaku seseorang. Bahkan kehadiran indra penglihatan sebenarnya hanya sebagai penguat visualisasi, sebab dengan indra pendengar saja pun seorang manusia dapat menjadi ilmuwan. Jika kita melihat dalam sejarah peradaban Islam, bisa dikatakan tidak sedikit ulama yang tidak memiliki indra penglihatan dan hanya mengandalkan idra pendengaran meraka tetapi masih dapat mengajarkan ilmu. Dan sebaliknya, tanpa hadirnya indra pendengaran dan hanya mengandalkan indra penglihatan sangat jarang seorang manusia menyabet gelar ulama.

Dua alat tersebut (pendengaran dan penglihatan) dalam Al-Qur’an disebutkan sering diletakkan berdampingan. Dimana lafal sama’ yang berarati pendengaran dan bashor yang artinya pengilhatan sering sekali berurutan, dimana didahului oleh pendengaran. Oleh para ulama disimpulkan bahwa, alat pendengaran lebih utama dibandingkan dengan alat penglihatan. Sebagaimana kita ketahui bahwa pendengaran tidaklah dapat dibohongi, sedangakan penglihatan sangatlah mudah untuk dibohongi dengan berbagai bentuk kepalsuan visual yang dibuat.

Alat terakhir yang disebutkan dalam ayat tersebut ialah hati. Dimana perwujudan hati disini sangatlah unik, sebab peletakkan hati oleh Allah diletakkan secara gaib. Lokasi hati setiap manusia tidaklah dapat ditunjukkan. Tetapi walau tanpa terlihat oleh penglihatan kita, keberadaan hati sangat dapat kita rasakan. Sebagaimana ketika kita bersedih, senang, hingga marah hatilah yang berperan untuk merasakannya. Hati manusia juga berfungsi sebagai penilai, dimana setelah proses pendengaran dan penglihatan maka hati akan berfungsi memutuskan sebuah penilaian. Sebagai contoh, ketika kita mendengar dan melihat adanya seseorang yang sedang diganggu atau dijahatin, maka hati yang menilai aktifItas terbaik apakah yang akan dilakukan ketika melihat kedzaliman tersebut.

Hati yang bersih dan lurus, maka akan memutuskan untuk berusaha menolong atau serendah-rendahnya bersikap menolak perbuatan tersebut jika dirasa tidak sanggup untuk menolong. Begitulah hati, hati menjadi kunci suatu amal perbutan dapat dinilai. Dari contoh orang yang dizalimi tersebut, akan terlahir tingkatan kepekaan hati. Dari seseorang yang berhati besar dimana dengan hati yang besar tersebut, sesorang dapat bersikap empati bahkan akan berusaha menolong orang yang terzalimi tersebut. Bahkan sampai seseorang yang memiliki tingkat kepekaan hati yang rendah bahkan mati, dimana ia bakal mengabaikan dan menganggap perilaku tersebut tidaklah perlu untuk dipikirkan.

Tetapi perlu catatan yang jelas bahwa permasalahan hati seseorang tidaklah dapat kita nilai seenaknya sendiri. Hati seperti yang didefinisikan diatas memiliki sifat ghaib, karenanya kita tidak dapat mengetahui apa yang dimaksud dalam diri seseorang. Semua level atau tingkatan hati seseorang hanyalah dapat dinilai secara adil dan konprehensif oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Penyikapan kita terhadap seseorang hanyalah dengan mengandalkan patokan secara dzohir atau lahiriyah. Apapun yang terjadi pada manusia jika ia seorang muslim maka tugas kita adalah memenuhi hak-haknya sebagai muslim. Jikalau pada suatu saat ada seseorang yang melakukan perbuatan yang sedikit melenceng dalam taraf ikhtilaf maka tidaklah elok jika kita menghukuminya dengan hukuman yang sama dengan orang kafir.

Dan jangan pula kita menghukumi seseorang sebagai seorang munafiq, sebab kita bukanlah seorang Nabi yang diberikan wahyu atau petunjuk langsung dari Allah mengenai status seseorang. Bolehlah jika kita menyatakan bahwa Rasulullah pernah menyampaikan ciri-ciri orang munafiq, tetapi apa yang disabdakan Rasulullah tersebut bukan berarti kita dengan serampangan membuat kesimpulan terhadap aktivitas seseorang tanpa tahu benar-benar aktivitas dan perilaku orang tersebut yang sebenar-benarnya. Sebab hati seseorang hanyalah Allah yang tahu dan hati pun sangat rentan untuk berbolak-balik sebagaimana makna qalb dalam bahasa arab.

Salah dalam berbuat akan berakibat fatal untuk diri sendiri, sebab setiap amal melalui indra-indra yang telah disebutkan sebelumnya tetap akan dipertanggungjawabkan. Sudah bukan saatnya lagi kita banyak menilai sebuah amal seseorang dan meninggalkan atau melupakan amal diri sendiri. Jika kita tidak memilki otoritas keilmuan terhadap sesuatu maka pilihan terbaik bagi kita adalah diam. Semoga kita selalu diberi bimbingan oleh Allah, dimudahkan untuk memperbaiki sekaligus menambah amal, dan dijahukan kepada sikap suka menilai amal orang lain yang tidak berbuah amal untuk diri sendiri. Wallahu ‘alam.

Editor : Rafi

Tinggalkan Balasan