يَا رَسُولَ الله ، كيف تقول فِي رَجُلٍ أحبَّ قَوْمًا ولَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ؟

“Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mencintai sebuah kaum namun dia tidak bertemu dengan mereka?”, Maka Nabi menjawab,

المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

 “Seseorang bersama dengan yang dicintainya”.

Apa yang terpikir Jika kita mendengar Hadis ini? Ya, benar sekali, perihal pembuktian Cinta kita kepada baginda, kabar gembira dari yang mulia tentang pertemuan di alam abadi kelak yang kita nanti, walau dengan sedikit tak perduli, juga terselip ragu melakukan ini dan itu tanpa menoleh lagi dan lagi, Memang tak ada hal yang kita harap selain syafaat Nabi.

Tunggu sebentar. Cinta? Kita kenal kata ini bukan? Tentu tidak asing bagi kamu yang mungkin dalam naungan nya sekarang. Tapi, bagaimana Cinta dipandangan kamu atau dia? Iya maksudku kita, Si tunas muda yang sedang tumbuh sambil mencari nutrisi agar terpenuhi gizi yang baik lalu berdiri dengan berseri. Cinta, sering kali kita dengar ditengah kawla muda dengan segala romansa dan cerita Asmara yang tak kasat mata, dia hadir begitu saja entah seperti apa, tidak ada yang tahu bentuk dan rupa cinta sebenarnya. Tapi sebuah makna cinta hadir tersirat penuh tanya. Apa benar aku telah mencintainya? Bagaimana cara mencinta? Dan merasa dicinta?. Kami punya kalimat yang tidak kompleks, hanya berusaha menerka nerka, berusaha menyimpukan permasalahan cinta.

Cinta memang meliputi Nafsu. Tetapi Nafsu tidak mengikuti Cinta. Cinta memang punya akal dan kesadaran nya sendiri, sedang Nafsu, sering kali tidak berakal bagaimana dia menyadari?. Cinta itu menjaga, menyangi dan mengamati bersama. Sedang Nafsu, mengamati, menyayangi dan menjaga untuk dirinya sendiri. Mungkin itu kenapa banyak orang gonta-ganti pasangan, terlalu mendahulukan Nafsu. Memang sulit membedakan nya, tapi mereka punya perbedaan, dan mungkin yang disebutkan diatas itu sekilas cukup mewakili.

Ibnu Hazm, seorang Filsuf yang juga dokter, dari Mazhab Zahiri di era keemasan Andalusia pernah menorehkan pena, mencoba menggambarkan cinta,

الحب – أعزك الله – أوله هزل وآخره جد. دقت معانيه لجلالتها عن أن توصف، فلا تدرك حقيقتها إلا بالمعاناة. وليس بمنكر في الديانة ولا بمحظور في الشريعة، إذ القلوب بيد الله عز وجل

Cinta, kiranya Allah senantiasa memuliakannya, mulanya adalah canda, dan akhirnya adalah kesungguhan. Cinta memiliki makna yang dalam, indah dan agung. Tiada kata yang kuasa melukiskan keindahan dan keagungannya. Hakikatnya tidak dapat ditemukan kecuali dengan segenap kesungguhan penjiwaan. Cinta tidak dilarang atau dimusuhi oleh syariat karena hati manusia berada di tangan Allah yang Maha Agung

Dalam Kitab nya yang cukup fenomenal, Thauq Al-Hamamah yang kemudian di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebagai “Risalah Cinta, buku legendaris tentang seni mencinta”, sebenarnya buku itu menjelaskan prihal Filsafat Moral, tapi memang disuguhkan seperti Novel dengan sedikit cerita curhatan hati Ibnu Hazm dimasa muda belia.

Kembali, Cinta. kita membaca mengingat dan merabanya sedikit lagi. Apa ada kerancuan dari yang kami pendam?. Kembali, dan lihat lagi, sebentar saja. Kalau kita sadar dengan jelas semua kalimat yang tertulis terlalu Indah. Cinta terlalu mulia, begitu agung digemgam sang Maha Cinta. Terpaut jauh dari apa yang mungkin pernah terbayang di benak kita sebelum nya, sebuah Cinta klasik, seperti Layla dan Qais yang malang, cukup redup merusak hati. Namun, kerap kali menyusup diam diam menghidupkan jiwa yang telah mati di dalam raga untuk bangkit, lihat apa yang terjadi. Pacu dirimu untuk memhami Cinta, layaknya Qais yang melaju tak tentu arah karena Cinta nya yang terlalu luas, meski sempit dihamparan mata, tapi kaya di ingat rasa, kita harus menatanya, menemukan jalan terbaik, tunjukan pada si Majnun, bahwa Cinta nya akan terus hidup, melewati zaman demi zaman atas seizin Tuhan.

Esensi Cinta Tuhan. Disetiap waktu dan disetiap tempat. Ditengah semua harapan dengan segala ketetapan nya, Dia benar-benar menyangi kita, Dia peduli padamu, walau kamu tak menyadarinya. Cinta nya yang luas, membuatmu bebas menemukan Dia dimanapun, kapanpun kau perlu. Sudah ku bilang, Dia sangat menyangi kita, tidak ingin melewatkan hal kecil bersamamu tanpa makna, bagaimana jika itu besar?, aneh, Kenapa?. Kemari akan kami tunjukan romansa Tuhan.

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ ثُمَّ يَقُولُ { فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ }

Telah menceritakan kepada kami [‘Abdan] Telah mengabarkan kepada kami [Abdullah] Telah mengabarkan kepada kami [Yunus] dari [Az Zuhri] dia berkata; Telah mengabarkan kepadaku [Abu Salamah bin Abdurrahman] bahwa [Abu Hurairah radliallahu ‘anhu] berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi -sebagaimana hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat tanpa cacat. Maka, apakah kalian merasakan adanya cacat? ‘ kemudian beliau membaca firman Allah yang berbunyi: ‘…tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah.’ (QS. Ar Ruum (30): 30).

Lihat bagaimana dia tidak membiarkan kau jauh dari nya, tidak ingin kau pergi, apalagi melupakannya, hanya ingin tahu kau baik-baik saja dalam menjelajahi semesta yang terlalu megah untuk kita beraama Cinta sebagai penjaga Dunia.

حب الله بحبا حيات

“Mencintai Tuhan dengan mencintai kehidupan”,

Jangan berpikir tentang Dunia, tapi perhatikanlah kehidupan. Bagaimana kehiupan kita, Apa kita mengikuti Dia di jalan Cinta, Atau justru kita telah menghianati nya?. Sudah kah kita setidaknya bersyukur atas semua kasih sayang Tuhan, sebuah kebahagian bila kita bisa merasakan Cinta itu, secara sempurna, apalagi mengikuti jejak Cinta untuk menemuinya. Cintai kehidupan mu, Cintai pekerjaanmu, Cintai Keluargamu, Tetanggamu, Cintai, Cintai, Cintai dirimu, temukan Dia dalam Ridho penuh semangat, siap menjalankan segala ketetapan.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اجۡتَنِبُوۡا كَثِيۡرًا مِّنَ الظَّنِّ اِنَّ بَعۡضَ الظَّنِّ اِثۡمٌ‌ۖ وَّلَا تَجَسَّسُوۡا وَلَا يَغۡتَبْ بَّعۡضُكُمۡ بَعۡضًا‌ ؕ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمۡ اَنۡ يَّاۡكُلَ لَحۡمَ اَخِيۡهِ مَيۡتًا فَكَرِهۡتُمُوۡهُ‌ ؕ وَاتَّقُوا اللّٰهَ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيۡمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang”.

يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا‌ ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti”.

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَانُ، اِرْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Para pengasih dan penyayang dikasihi dan di sayang oleh Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), rahmatilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh zat yang ada di langit.”

(HR Abu Dawud no 4941 dan At-Tirmidzi no 1924)

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا

“Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda atau tidak menghormati yang lebih tua.” (HR. at-Tirmidzi no. 1842 dari shahabat Anas bin Malik)

Esensi Cinta Tuhan, Semua ini adalah Kita, tentang Kita, dimulai dari, oleh dan untuk Kita. Meski acap kali ternodai. Esensi Cinta Tuhan tak terhingga, tak cukup terbendung, tak mampu kau tampung, tapi tetesan nya mengalir dalam jiwa, hadir dalam setiap kehidupan, seperi mata air, kau bisa meneguk nya disemua sisi dunia.

Perhatikan!, Bagiamana Tuhan menjadikan hidup kita berwarna, bukan sekadar hitam atau putih, dia membuat resep Cinta begitu lezat, bila kamu menikmatinya juga dengan baik, Seperti anjuran Baginda yang mendidik kita tentang Adab makan yang tepat. Begitu pula cara kita hidup, bukan soal perbedaan, bukan karena pemikiran kalian yang tumpah ruah membasahi kehidupan. Namun, dimana sikap terbaikmu menemukan korelasi dari Tuhan, menjadikan segalanya indah menghiasi kehidupan, saling mencinta, menebar kasih sayang dan menghargai diantara kalian mengaplikasikan didikan Nabi disetiap sisi kehidupan, ialah bukti kesungguhan dari mensyukuri segala rahmat Tuhan, dengan seluruh Cinta yang Dia beri.

Dia tahu betul kita yang tak sanggup hidup sendirian hingga disisipi banyak pelajaran, dari tantangan Cinta dan Kasih sayang, yang akan mengantarkan kita kepada kebenaran, menegakkan wajah di hadapan Tuhan seraya tersenyum, memenuhi undangan Baginda. Esensi Cinta Tuhan, bukan untuk Aku dan Dia, bukan pula Kami atau Mereka, semua hanya tentang Kita dan Semesta, dalam nanguan sang Maha Cinta.

Oleh : Maulia Ratna Zahra

Tinggalkan Balasan