Bukti kecintaan itu harusnya ditunjukkan secara komprehensif. Bukan malah mencari celah untuk membuka ruang prasangka negatif.

Beberapa waktu lalu kita dihebohkan dengan fenomena Islamophobia yang kembali dihadirkan oleh salah satu negara yang dianggap maju. Perancis, lewat kepala negaranya dengan pede tampil di muka publik untuk menyampaikan pandangannya mengenai Islam. Sebuah pandangan yang tidak dapat diterima oleh otoritas agama Islam. Ia menyampaikan dengan angkuhnya tentang Islam sebagai agama yang krisis dan hal-hal lain yang disangkut-pautkan dengan kekerasan dan terorisme.

Seperti yang kita tahu dari banyak berita yang berseliweran, pernyataan Marco ini disampaikan setelah adanya kasus terbunuhnya guru di Perancis oleh seorang pemuda muslim. Seorang guru geografi bernama Paty ditemukan tewas setelah sebelumnya, dengan merasa tidak bersalah menunjukkan gambar karikatur nabi Muhammad. Dikatahui pasca si guru tersebut menayangkan kartun atau karikatur tersebut banyak kecaman dari para orang tua murid terhadap apa yang dilakukan guru tersebut. Tetapi hanya jawaban “kebebasan berpendapat”-lah yang diterima para wali murid tersebut.

Jika kita gunakan sudut pandang umum, sebenarnya setiap orang atau mungkin bahkan setiap makhluk pasti memiliki sesuatu yang dicintainya bahkan sampai rela mati-matian untuk melindunginya. Dalam sudut pandang agama contohnya. Seorang nasrani yang memiliki keyakinan yang kuat terhadap Yesus sebagai tuhan, dapat dipastikan ia akan menjaga sebaik mungkin nama dan martabat Yesus dari orang-orang yang ingin memperburuk citranya. Seorang pemeluk Budha pasti ia juga bakal menjaga patung Budha yang ia sembah dari berbagai bentuk penghinaan dan pelecahan terhadapnya. Jadi jelas, semua itu adalah wajar dan normal. Sesuatu yang dianggap mulia pasti ada orang-orang yang siap menjaga, bagaimanapun caranya dan bentuk penjagaanya.

Kasus yang menimpa salah satu guru di Paris itu dapat diartikan sebagai bentuk ekspresi kecintaan seorang muslim tersebut terhadap nabinya yang mulia. Karikatur yang menghina kesucian Nabi baginya mungkin melalui perlakuan tersebut ia anggap impas untuk menunjukkan bentuk ekspresi kecintaan dan penjagaannya.

Penulis pribadi pada prinsipnya marah dan tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh guru dan presidennya beberapa waktu lalu di Perancis. Prinsip amarah ini sebagai bentuk keimanan dan kecintaan penulis terhadap apa yang seharusnya dicintai dan diimani oleh penulis. Mengenai penyikapan mungkin perlu dipikirkan kembali apakah jalan seperti itu berpengaruh terhadap keberadaan muslimin yang ada disana tau tidak. Kajian mengenai permasalahan tersebut harus dibahas lebih mendalam dari para ulama yang faqih.

Yang jadi permasalahan disini ialah jika ada peristiwa seperti itu ada orang-orang yang mengaku muslim tetapi tidak ada reaksi amarahnya sama sekali. Lalu, jika seperti itu wujud kecintaannya seperti apa?   Seseorang yang sudah seharusnya dimuliakan dan dijaga martabatnya dari para pembencinya ini, ada yang mengaku muslim malah acuh atau berkelit dengan membuat pernyataan yang penuh prasangka. Sungguh sulit untuk dipahami bentuk keimanan dan kecintaan macam apa yang ia ingin tunjukkan. Atau mungkin ia memang tidak bangga dengan Islam dan Nabinya. Ia tidak merasa cinta yang tulus dengan Islam dan Nabinya. Jika memeng kenyataannya seperti itu berarti ya wajar. Tetapi jika ngakunya tetap cinta, kok malah terlihat sebaliknya.

Hal ini tidak akan penulis sampaikan jika yang bersangkutan tidak ada pernyataan seperti itu, dan jika tidak menyampaikan pernyataan apa pun penulis lebih memilih berprasangka positif kepada yang bersangkutan. Sebagaimana apa yang diajarkan oleh para ulama dan pendahulu kita untuk tetap mengedepankan prinsip husnudzon terhadap sesama muslim. Wallahu’alam. #PuntenLagiGeregetan

Tinggalkan Balasan