Cinta itu pengorbanan, pernah dengar kalimat ini? Kayanya udah cukup sering, atau bahkan mungkin klise ditelinga kita. Tapi  dari mutawattir banyaknya orang mengatakan hal itu, pernah gak kita mempertanyakan maksud dan maknanya? Apa emang bener begitu? Contohya kaya gimana? Kalo gak berkorban berarti gak cinta dong? Harus banget ya pake pengorbanan? Dan … berbagai macam deretan pertanyaan lainnya.

Sekilas jika dilihat dari kalimatnya “Cinta itu pengorbanan” adalah bahwa, jika kita mencintai sesuatu entah itu barang, pekerjaan, ataupun lawan jenis, maka wujud dari kesungguhan keseriusan rasa cinta itu harus diuji oleh sederet rintangan, dan dengan kesadaran penuh kita harus rela berkorban menerjangnya. O ya? Sedikit Tanya.

Mengenai hal ini, saya lebih suka dan setuju dengan pemaparan Pak Sujiwo Tejo, bahwa menurutnya cinta itu bukan pengorbanan, karena kalo kamu menganggap bahwa cintamu itu pengorbanan maka cintamu kandas seketika, runtuh dan gak ada nilainya. Loh kok?

Kenapa demikian? Karena saat kamu mengatakan bahwa cintamu itu adalah pengorbanan, hasil pengorbanan, maka sesungguhnya pada saat itu kamu hanya sedang mengkalkulasi bukan sedang mencinta. Ya, kamu sedang menghitung-hitung pengobananmu, kamu berkorban berapa dan kamu mengharapkan balasan cinta minimal sebesar pengorbanan itu. Gitu gak kira-kira?

Jika kamu masih beranggapan bahwa cinta adalah pengorbanan maka benar kata Pak Sujiwo Tejo, bahwa cintamu itu mengapur berdebu, kehilangan nilainya. Gak lagi bernilai, “Buat cinta kok perhitungan, katanya cinta”. Kan tapikan kan kan.. bukti bahwa kita mencintai adalah rela menderita dalam artian berkorban segalanya, waktu, tenaga, harta bahkan perasaan yang harusnya marah, dia yang salah tapi malah kita yang minta maaf. Eaaaak.

Justru karena kamu mencitainya sungguh-sungguh maka apapun yang kamu lakukan, penderitaan apapun yang kamu alami, apapun yang kamu berikan buat dia, kamu gak akan lagi menganggapnya pengorbanan! Kamu gak akan perhitungan “aku udah ngelakuin ini itu buat dia, aku udah ngasih segalanya buat dia” tapi yo kamu pokoknya cinta aja, gak akan pernah merasa berkorban, orang cinta kok. Ngertikan maksudnya?

Makanya gak sedikit kita memergoki beberapa pasangan yang saat berisah (putus) terus si laki-lakinya nagih segala hal yang udah dia berikan sama pasangannya “Mana tas, mana, sepatu, mana jam, mana handphone, balikin!!” semuanya diminta lagi. Loh kok? Katanya cinta, tapi kok pengorbanannya dicancel sih? Inilah yang terjadi kalo kamu menganggap cinta itu pengorbanan, sehingga saat kamu tidak mendapatkan balasan setimpal dari pengorbanan itu kamu akan sangat merasa dirugikan.

Kalo cinta, misalnya yang kamu cintai itu sakit, terus nelpon kamu minta dibeliin obat, beliin makan, padahal diluar sedang deras-derasnya hujan, langit gelap petir menyambar, angin mengganas. Tapi kamu tetep keluar naik motor hujan-hujanan nganterin obat dan makanan kerumahnya. Kalo kamu bener cinta sama dia, maka kamu gak akan ngerasa bahwa yang kamu lakuin itu pengorbanan, reflek saja “Aku cinta kok.”

Kamu akan menderita saat yang kamu cinta sakit, kamu tersiksa. Makanya kamu akan berusaha penuh untuk mengobati penderitaanmu itu, kalo buat nyembuhin penderitaan sendiri, apa iya masih menganggap itu pengorbanan? Hehe. “Lah iya ya” emang iya.

Sepertihalnya saat kamu mendapat kabar bahwa ibu kamu masuk rumah sakit, terus kamu segera pergi meninggalkan kesibukan dikantor padahal seharusnya menghadiri rapat yang sangat penting untuk masa depan perusahaan kamu, kamu tetap tinggalkankan dan menemui ibu kamu apapun yang terjadikan? kamu gak ngerasa berkorban. Kamu sudah menganggap bahwa mencintai ibumu sama dengan mencintai diri sendiri, sehingga kamu sakit saat melihat yang dicinta sakit.

Kamu melihat pakaian ibumu yang sudah lusuh dan kamu sisikan gajimu yang tidak seberapa untuk membeli pakaian baru, apa kamu merasa berkorban saat melakukan itu, Gak kan? Kamu merasa seperti membeli pakaian untuk diri sendiri, yang mana kamu tidak pernah mengatakan bahwa uang yang kamu keluarkan untuk membeli sesuatu untuk kamu kenakan itu adalah pengorbanan.

Atau jika kamu seorang ayah, yang harus memakai pakaian seadanya, makan makanan sisa, berjalan menggendong anakmu yang masih kecil untuk bersekolah berkilo-kilo meter jauhnya, hanya agar melihat anak yang kamu kasihi cintai itu bahagia dan mendapatkan kehidupan yang layak, dan jika memang kamu seorang ayah dan harus melakukan itu. Percaya deh, kamu gak akan pernah merasa bahwa semua yang kamu lakukan itu pengorbanan. Cinta seharusnya telah membuat buta dan tuli egomu.  

Terakhir, ini bukan penghakiman, kamu bebas memilih dan menerjemahkan pengorbanan itu sesuai versimu sendiri, intinya saat kamu mencintai sesuatu maka cintailah betul-betul, jangan lagi menyikapi perasaan cinta itu seperti perdagangan yang pada akhirnya hanya akan membicarakan untung dan rugi.

Oleh : Kurniawan Aziz (Praktisi Mageran, Mahasiswa Ilmu Hadis UIN Bandung)

Tinggalkan Balasan