Seperti biasanya, saya menjadi terlalu pemimpi. memasuki kedalaman jurang imajinasi. Begitulah orang selalu mengatakan si sang idealisme, terlalu pemimpi, terlalu pengkhayal. semenjak sekolah dasar bahkan sampai sekarang kuliah. Tapi Apa salahnya? bagi saya imajinasi membuat seorang lumpuh bisa berjalari, si gelandangan bisa menjadi raja yang dipuja-puja, sang perindu bisa berjumpa dengan kerinduannya. tidak akan menemukan tabir, imajinasimu mampu membuatmu menembus batas ketidak mungkinan. yaa meskipun kata si Tejo “ngayal, ra mungkin”. tapi siapa yang berhak mengusik berimajinasimu? Menuru saya bermimpi, mengkhayalkan yang ingin terjadi tidak ada pidananya, setiap orang berhak.

Masih teringat mimpi Alm. Pak. Habiebie tentang PT. Dirgantaranmya, saat mimpi itu mulai terucap dari lisannya seketika juga suara sumbang terdengar melalui kedua telinganya “Hah, Indonesia? Punya Pabrik Pesawat terbang? halah, ra mungklin, mustahil, ngayal-ngayal. susah” peris kaya si Tejo. Tapi apa mau dikata, ya sudahlah. Kalau boleh ngutip kata-kata Pak Anies “Kita tidak harus ada dalam posisi menjawab kata-kata dengan kata-kata, tapi menjawab kata dengan karya-karya”. Lihat apa yang dilakukan Pak. Habiebie, Karya dari hasil mimpinya berhasil membuat ludah yang memuncrat dari mulut orang-orang pesimis itu dijilat kembali.

“Terus mimpi maneh naon?” si Uki bertanya pada satu waktu (bahasa sunda : terus mimpimu apa?), mata saya mulai menerawang cakrawala, melihat luasnya kemungkinan “kuliah di luar negri, camlaude, punya pekerjaan, penghasilan diatas 20 juta sebulan, punya rumah, menikah, punya anak empat, berkeliling dunia dan menghabiskan sisa usia untuk kemanfaatan orang banyak dan Khusnul Khotimah” jawabku dengan rinci, si Uki terdiam dengan mulut agak terbuka, “hah? tong ngimpi maneh!” (jangan mimpi kamu!). Saya hanya diam mendengarkan keluhan dan nada meragukannya. “Jangan bermimpi” apa orang lain punya hak untuk memkasamu untuk tidak boleh bermimpi? saya rasa tidak, dan saya pun tidak harus menghiraukan intervensi macam itu. Yaa meskipun khayalan saya itu hanya baru sebatas khayalan, cita-cita saya hanya baru sebatas cita-cita, dan mimpi saya hanya sebatas tidur nyenyak yang belum terbangun. Hudang Euuy! (:bangaun wooy!)

Coba khayalkan, bayangkan sejumlah uang yang bahkan tidak pernah terlintas dipikiranmu, satu milyar misalkan. sudah terbayang? “berapa tuh nol nya?” si Uki berbisik, “sembilan, kalau diwadahin mungkin sekarung”, “wow” si Uki berkedip. coba bayangkan, seandainya kamu punya uang satu milyar dan kamu diharuskan untuk bersedekah kepada fakir miskin, berapa uang yang mau kamu sedekahkan? “Jo?”, “Hmmm .. sepuluh jutalah”. “kalau kamu ki?”, “dua puluh dua pulu” dengan mengankat dua jarinya. “kalau kamu? kamu, iyaa kamu, pembaca yang budimaan,?”. Coba beri angka yang mau kamu sedekahkan, “sudah?” “berapa?”. kalau kamu tanya saya berapa angka yang mau saya sedekahkan, “semuanya” (titik). Si Tejo dan Si Uki saling tatap “Nanti uang kamu habis gimana?” si Tejo mengernyitkan dahi, “ya gampang, tinggal ngayal lagi” jawabku inkat. Apa pelajaran yang kamu ambil dari dirimu sendiri setelah menerima pertanyaan ini? bahkan dalam khayalanpun kamu masih pelit, apalagi (mungkin) dalam kenyataan. (ketawa jahat) *kenali dirimu.

Tapi harus digaris bawahi, mimpi bukan sekedar mimpi. Buat dirimu menjadi pantas bahkan sangat pantas bagi mimpimu itu, “Jangan berani mimpinya aja, tapi bangunnya kesiangan teruus!” Tejo berapi-api menyuarakan, ya! dan sangat betul dan sangat tepat dan sangat harus diperhatikan kata-kata si Tejo itu. Mimpimu tinggi, mimpimu mulia, mimpimu, luar biasa (Amazing kalau kata si Bule). Maka usaha dan sikapmu juga harus tinggi, harus mulia, harus luar biasa sehingga mimpi itu pantas bagimu. Dan itulah yang terjadi pada orang-orang besar. Jangan hanya kagum pada pencapaiannya saat ini, tapi cari tau juga bagaimana dia bisa sampai seperti itu. Tentunya bukan hasil males-malesan, bukan hasil rebahan seharian, sosmedan semaleman, Tapi hasil dari perjuangan yang dengannya bercampur antara keringat, air mata, dan darah.

Oleh : Kurniawan Aziz

Tinggalkan Balasan