Memilih jurusan memang hal yang sangat penting tatkala kita mulai menentukan dan memfokuskan minat dan bakat yang kita miliki, oleh karenanya pemilihan jurusan ini haruslah melalui pertimbangan yang sangat matang, agar tidak ada penyesalan dikemudian hari yang ditandai dengan ungkapan lesu beberapa mahasiswa “Harusnya gue nggak masuk jurusan ini”, yang kemudian para mahasiswa patah hati ini menyebut diri mereka sebagai HIMA SALJU (Himpunan Mahasiswa Salah Jurusan).

Hal ini jugalah yang biasanya membuat calon-calon mahasiswa baru ini gencar mencari informasi jauh-jauh hari ─bahkan sebelum pengumuman kelulusan sekolah─ tentang jurusan-jurusan di kampus yang mereka minati, agar tidak ada penyesalan nantinya. Mau tidak mau pada akhirnya katinglah (kakak tingkat) yang menjadi sasaran baku hantam pertanyaan adek-adek gemes calon MABA itu.

Biasanya pertanyaannya mendetail dan terperinci, dari mulai nanya-nanya seputar jurusan sampe nanya berapa jumlah WC yang ada di gedung kuliah. Bukan tanpa sebab, pertanyaan-pertanyaan itu bagi mereka sangat penting demi kenyamanan berlangsungnya pembelajaran di jurusan yang mereka tempati nanti.

Tibalah calon MABA bertanya pada mahasiswa kakak tingkat jurusan ilmu hadis, “Kak di jurusan ilmu hadis itu belajar apa?”, “Belajar hadis atuh neng” pertanyaannya bikin gemes, untung MABA. Oke lanjut, “Kak, Prospek kita kedepannya kalo belajar di ilmu hadis apa?” bicara masalah prospek kedepan, ini tak jauh dari orientasi mengenai pekerjaan, sangat realistis jika beberapa mahasiswa bertanya mengenai hal ini.

Beberapa jurusan memang nampak jelas memberikan stimulus kepada mahasiswanya tentang akan jadi apa kiranya mereka setelah lulus dari jurusan tersebut. Bagi beberapa jurusan, pertanyaan seperti prospek kerja ini mungkin sangat mudah dijawab, tapi beda cerita dengan kating mahasiswa ilmu hadis, pertanyaan ini biasanya memerlukan jawaban yang rumit dan berputar-putar ─Kating sampe keringetan jawabnya─

Biasanya pertanyaan mengenai prospek kerja ini pada akhirnya dijawab dengan nasihat bijak beberapa kating jurusan ilmu hadis “Dek, belajar itu bukan semata-mata buat dapet kerja, tapi biar dapet ilmu, lurusin niatnya ya hehe” ─padahal cuman ngeles doang─.

Dalam hal ini memang ada benarnya nasihat-nasihat semacam itu, bahwa pada dasarnya belajar adalah proses menggali, mengenal dan mengetahui sesuatu agar yang tadinya kita tidak tau menjadi tau, adapun jika kedepannya kita mendapatkan pekerjaan sesuai dengan jurusan yang kita bidangi, itu bonus, Ilmunya dapet kerja dapet. Tapi, pun jika kita tidak mendapatkan kerja sesuai bidang jurusan kita, toh kita tetep dapet ilmunya ya kan.

Bagi jurusan yang basicnya agama, memang lebih mudah jika menjawab bahwa mahasiswa-mahasiswanya merupakan bakal calon da’i-da’i muda masa depan, calon ustadz dan ustadzah, mereka adalah para pendakwah agama yang membawa tanggung jawab besar mengenaisyiar agama Islam. “Tapi saya nggak mau jadi ustadz kak”, jadi pendakwah nggak mesti bertitle ustadz, dengan semangat seorang kating berdiri dan berkata : Rasulullah Saw bersabda “Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat”.

Anggap si MABA puas sama jawabannya, lanjut si MABA kepo bertanya, katanya “Kak, kenapa sih kita harus belajar nakhrij hadis, meneliti apakah hadis itu bisa diterima atau tidak, menganalisis hadis itu sahih atau tidak, dho’if atau tidak atau bahkan palsu? toh, kan hal semacam itu sudah dilakukan oleh ulama-ulama terdahulu, jadinya kalo mau tau hadis-hadis sahih tinggal cari di kitab himpunan hadis-hadis sahih, begitupun dengan hadis-hadis dho’if dan maudhu (palsu)?” Jleb, si MABA mulai kritis.

Pertanyaan yang simple tapi ngejawabnya bikin mikir keras, otak berpacu mencari jawaban sementara keringat bercucur deras “Pokoknya jangan malu-maluin di depan MABA”. Pertanyaan yang sangat rasional, jika Rasulullah telah wafat maka secara otomatis hadis yang berupa perkataan, perbuatan dan takrir nabi juga berhenti (tidak muncul lagi).

Setelah Rasulullah Saw wafat, para ulama zaman dulu mulai menghimpun dan mengklasifikasikan hadis berdasarkan kualitasnya, sehingga masuk akal jika ada pertanyaan “Hadis sudah lama dihimpun dan di klasifikasikan, kenapa harus belajar lagi takhrij hadis?”  kita tinggal mencari hadis sahih di kitab himpunan hadis sahih, begitupun dengan hadis dha’if dan maudhu.

Penulis sendiri (Berhubung mahasiswa ilmu hadis juga) jika diberi pertanyaan seperti ini, akan menjawab pertanyaan dengan pendekatan analogi yang bagi saya rasional, bahwa kasus ini sama halnya dengan belajar perhitungan dalam matematika, dulu saat belajar matematika kita diajarkan bagaimana caranya menambah, mengkali, membagi dan mengurang, kita diajarkan berbagaimacam rumus dan metode untuk menjawab soal matematika, berapa hasil dari 215 : 5 = ?

Pertanyaan yang sama muncul ketika saya belajar matematika, kenapa dulu saya harus belajar berbagaimacam metode perhitungan hanya agar mendapatkan jawaban yang benar, jika toh saat ini saya tau bahwa kita (manusia) punya kalkulator (mesing penghitung) yang akan memberikan jawaban dengan sangat cepat dan akurat, bagi saya ini lebih efisien daripada kita harus menghitung manual dengan membuat kotretan rumus-rumus di kertas. rasionalkan?

Tapi kemudian saya mengerti, bahwa ada hal yang tidak bisa kita lakukan jika hanya mencari jawaban yang tepat melalui kalkulator, apa itu? “Alasan”. Ya, kita bisa saja dengan cepat dan tepat menjawab 215 : 5 = 43 tapi kita tidak akan pernah tau alasan kenapa jawabannya harus 43, dan yang bisa menjelaskan kenapa jawabannya harus 43 adalah orang-orang yang belajar rumus dan metode-metode matematika tadi.

Begitupun dengan belajar mentakhrik hadis, kita bisa saja dengan cepat dan efisien mencari hadis-hadis sahih dalam kitab-kitab yang menghimpunnya, tapi kita tidak akan pernah tau kenapa hadis itu sahih, alasan kenapa hadis itu sahih, dan yang bisa menjelaskan kenapa hadis itu sahih adalah kalian para mahasiswa ilmu hadis, orang-orang yang belajar dan mendalami hadis.

Mengingat, kemampuan analisa mengenai derajat suatu hadis sangat dibutuhkan pada saat ini. Kemudahan akses informasi yang membanjiri sosial media saat ini membuat kita harus selektif memilah mana berita yang benar mana yang salah, banyak juga orang yang mengutip dan menyebar luaskan hadis di sosial media tanpa tau apakah hadis itu sahih atau bahkan maudhu (palsu), dan yang bisa memberikan alasan dan penjelasan prihal derajat hadis itu adalah kalian (kawan ilmu hadisku).

~Wallahu’alam.

Ditulis oleh Kurniawan Aziz (Penulis merupakan mahasiswa mageran, jurusan Ilmu Hadis UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Tinggalkan Balasan