Pemandangan sepanjang jalan dihiasi  banyaknya bendera merah putih berkibar gagah ditambah pemandangan umbul-umbul berwarna-warni di setiap sudutnya.  Di berbagai media mulai terdengar lagu-lagu nasionalisme yang  membangkitkan semangat dan jiwa patriotisme. Pemuda Karang Taruna dan masyarakat di tingkat Rukun Warga (RW) mulai sibuk menyusun agenda perayaan-perayaan yang meriah. Inilah pertanda meriahnya bulan Agustus, bulan kemerdekaan Republik Indonesia yang tiap tahunnya dirayakan oleh segenap lapisan masyarakat.

Suasana tersebut merupakan bentuk kegembiraan dan ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan yang telah diperjuangkan. Perjuangan merebut kemerdekaan yang diperoleh dengan usaha keras dan pengorbanan yang besar. Bentuk pengorbanan yang diberikan secara tulus dan ikhlas baik lewat perjuangan langsung dengan cara berperang, mengabdikan dirinya dalam pendidikan, pemberdayaan perempuan dan anak serta melalui saluran perjuangan lainnya.

Dibanding negara berkembang lainnya, Indonesia dapat dikatakan sebagai negara yang paling dini mendapat kemerdekaannya. Nama Indonesia sendiri telah dikenal sejak lama lewat makalah yang disampaikan Adolf Bastian, peneliti asal Jerman, sekitar abad ke-19 M. Nama Indonesia kemudian digunakan dan ditegaskan kembali dalam peristiwa monumental yaitu peristiwa sumpah pemuda pada tahun 1928. Kata Indonesia akhirnya diikrarkan pada proklamasi kemerdekaan hingga kini kita mengenal kata tersebut.

Kemerdekaan tentu diperoleh lewat tangan bangsa Indonesia itu sendiri. Setelah perjuangan berdarah-darah dalam berbagai pertempuran. Perlawanan mengusir pihak penjajah yang telah lama menancapkan kuku-kukunya di seluruh sudut negara Indonesia. Lewat berbagai pertempuran seperti pertempuran Surabaya, pertempuran Bandung Lautan Api, pertempuran Ambarawa dan pertempuran lainnya yang patut dikenang dan dijadikan pecut generasi bangsa Indonesia berikutnya.

Penjajahan yang begitu lama di negeri ini mengisyaratkan satu hal yang bermakna. Bahwa meskipun perjuangan telah dilakoni di berbagai daerah, namun tanpa berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa kemerdekaan Republik Indonesia tersebut tidak mungkin diperoleh. Karenanya dengan penuh kesadaran para pemrakarsa teks pembukaan UUD 1945 menuliskan dengan jelas bahwa kemerdekaan negara Republik Indonesia ini tidak lain ialah karena rahmat Allah Swt dan suatu keinginan luhur bangsa.

Kesadaran tersebut menunjukkan keadaan spiritual yang melukiskan suasana bangsa Indonesia. Menggambarkan bangsa Indonesia yang religius dalam bimbingan wahyu ilahi. Kesadaran ini patut disambungkan pada generasi bangsa Indonesia sampai kapanpun selama negara Pancasila ini ada. Apabila semangat religius dalam diri anak bangsa tersebut tidak muncul maka tercerabutlah negara ini dari akarnya yang asli.

Kalimat ‘atas berkat rahmat Allah’ bukan berarti milik agama Islam saja. Tidak pula menggambarkan superioritas agama Islam di hadapan agama-agama lainnya di Indonesia. Akan tetapi kalimat tersebut dapat ditafsirkan dan dimaknai sebagai bentuk campur tangan Sang Pencipta –sesuai dengan keyakinan masing-masing– dalam upaya bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya di atas peta dunia kala itu.

Menginjak kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-77 dengan tema ‘pulih lebih cepat bangkit lebih kuat’ ini kita do’akan agar perjuangan yang telah dilakukan para pahlawan tidak berujung sia-sia. Melainkan dapat diteruskan oleh anak bangsa dan generasi bangsa Indonesia yang akan datang. Di atas kesadaran religius dan nasional yang kuatlah negara Republik Indonesia hingga kini mampu berdiri dan berdaulat di atas tanah yang dulunya bernama Nusantara.

Tinggalkan Balasan