Sumber : NU Online

Samar.ID — Dalam ajaran Islam, Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang mulia. Begitupun dalam tradisi bangsa Arab pra-Islam, mereka menganggap bulan ini sebagai bulan yang mulia. Sebab itu, pada bulan ini mereka melarang antarsuku saling berperang. Sebaliknya, bulan ini menjadi bulan produktif dengan berniaga dan membangun kota serta sumber daya lainnya.

Tradisi ini (baca:memuliakan bulan Muharam) berlangsung ke masa Nabi hingga masa Khulafaurrasyidin. Akan tetapi, setelah masa 4 khalifah tersebut terjadi tragedi memilukan pada bulan ini, yaitu terbunuhnya secara keji cucu Nabi Muhammad Saw bernama Husein. Ia merupakan putera dari Ali bin Abi Thalib dan Siti Fatimah puteri Raulullah Saw.

Tragedi berdarah tersebut terjadi di padang Karbala,pada tanggal 10 Muharam. Karbala merupakan sebuah kota di daerah Irak, jaraknya sekitar 100 km sebelah barat daya Ibukota Irak, yaitu Kota Baghdad.

Peristiwa tersebut telah menodai bulan Muharam yang semestinya tidak ada peperangan atau pertempuran. Sebab itu, tak heran ada sebagian umat Islam yang mengingat tanggal 10 Muharam sebagai hari kesedihan.

Peristiwa pembunuhan yang menimpa Husein bin Ali ini terjadi sekitar tahun 61 H. Cucu Nabi tersebut dikepung oleh pasukan Ubadillah bin Ziyad. Pasukan yang merupakan balatentara Yazid bin Muawiyah dari kerajaan Bani Umayah. Daulah Umayah sendiri merupakan kerajaan yang didirikan oleh Muawiyah bin Abi Sofyan, ayahnya Yazid.

Pasukan yang terkenal sadis ini sampai berani memenggal kepala Husein. Bahkan sebagian riwayat menceritakan  pasukan tersebut menendang-nendang kepala cucu Nabi tersebut.

Terkait peristiwa terebut, Ibnu Katsir menulis dalam bukunya:

 “Yang membunuh Husein dengan tombak adalah Sinan bin Anas bin Amr Nakhai, dan kemudian dia menggorok leher Husein dan menyerahkan kepala Husein kepada Khawali bin Yazid.” (Al-Bidayah, 8/204).

Sementara itu Anas mengatakan bahwa kepala Husein dibawa ke hadapan Ubaidillah bin Ziyad. Kemudian Ubadillah memainkan ujung tongkatnya yang menyentuh mulut dan hidung Husein.

Kemudian Anas berkata “Demi Allah! sungguh aku pernah melihat Rasulullah mencium tempat engkau memainkan tongkatmu ke wajah Husein ini,”

Berdasarkan catatan Ibnu Katsir, tercatat sebanyak 72 orang pengikut Husein yang akhirnya terbunuh pada saat itu.

Inilah tragedi berdarah yang terjadi pada tanggal 10 Muharam. Peristiwa ini sekaligus menjadi pelajaran bagi kita untuk senantiasa menjaga persatuan (ukhuwah) sesama umat muslim. Agar tidak saling berperang dan memusuhi.

Penulis : Rafi T. Haq