Manusia maunya terlihat pintar di mata orang lain, kan? Tapi manusia itu sendiri yang tadinya mau mensirkuskan kepintarannya, eh malah kelihatan bodoh karena perilakunya sendiri. Apakah ada orang yang seperti itu? Jawabannya ya ada, soal banyak dan tidaknya ya saya tidak bisa hitung satu per satu. Bagaimana bisa orang itu mau terlihat pintar di depan orang lain? Padahal ilmunya masih cetek dan tidak seberapa bila dibandingkan dengan ilmu para Nabi dan sahabatnya, ya? Hmm.  Jadi bagi kalian yang suka ngeledek bodoh ke orang lain, sudahi ya mulai detik ini juga! Gak baik.

Di sini penulis akan menyampaikan sedikit cerita yang mungkin bisa sobat Samar bagikan ke teman-temannya, keluarganya atau bahkan ke cemewewnya, hehe. Soal apa? tentunya soal sesuatu yang berkaitan dengan judul di atas dong. Pertanyannya adalah masih bodoh itu bila kita berbuat apa sih? Bodoh di sini bukan berarti soal ia tidak mengerti pelajaran-pelajaran di sekolah, kampus atau di tempat kursus privat saja ya. Melainkan dalam hal lain yang berkaitan dengan akhlak yang tidak baik (bisa dibilang gak ada akhlak) juga bisa jadi membuat seseorang itu menjadi bodoh.

Ceritannya gini, ada seseorang –bisa dibilang seorang sufi– yang namanya Ibn Athaillah. Ia mengarang kitab yang namannya kitab al-Hikam. Kitab yang merupakan butiran-butiran hikmah (bukan butiran debu, hehe) yang hingga kini masih dirasa hangat dan sangat relevan, terutama untuk membasahi spiritualitas manusia modern. Dalam kitab tersebut salah satunya ada yang menyinggung soal ciri-ciri orang yang bodoh, saya pun sepakat dengan pendapatnya itu, mungkin sobat Samar juga akan mengiyakan.

Salah satu butiran hikmahnya yaitu “Ihaalatuka laa ‘amala ‘alaa wujuudi al-faraagi min ru’uunaati an-nafsi” artinya adalah “Menunda amal perbuatan (kebaikan) karena menantikan kesempatan yang lebih baik, adalah sesuatu kebodohan yang mempengaruhi jiwa”. Kemudian sufi ini menjelaskan bahwa kebodohan itu disebabkan oleh hal-hal berikut ini. Pertama,Karena ia mengutamakan duniawi. Di sini saya sangat setuju, karena dudunya terus mah  belum tentu hartanya kaya Qarun yang sangat melimpah, kan? Dalam al-Qur’an disebutkan “Tetapi kamu mengutamakan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan kekal salama-lamanya”.

Kedua, penundaan amal kepada masa yang ia sendiri tidak mengetahui apakah ia akan mendapatkan itu, atau kemungkinan ia dilanda oleh ajal (mati) yang telah menantikan masanya. Intinya kebaikan itu jangan ditunda, kalau ditunda keburu malaikat Izrail mencabut nyawa. Ketiga, Kemungkinan azam (berketetapan hati), niat dan hasrat itu lemah dan berubah. Kalau zaman sekarang bisa dibilang orang ini labil, atau gak teguh pendiriannya.

Ibn Athaillah juga menuliskan salah satu adagium (peribasaha) ini “Laa tuajjil ila al-ghadi maa yumkinuka an ta’malahu al-yauma” artinya “ Janganlah menunda sampai besok, apa yang dapat engkau kerjakan hari ini” Subhanallah… . Masih mau kita terpenjara dalam kebodohan seperti itu? Jika tidak mau sebaiknya kita hindari ketiga perilaku di atas, Okay ? Manfaatkan kesempatan emas di depan mata kita.

Tinggalkan Balasan