Komunikasi Yang Baik Akan Membuat Orang Lain Lebih Peka

0

“Kamu Enggak Peka!” Kalimat ini seakan menjadi mimpi buruk bagi sebagian orang dalam hal ini laki-laki. Laki-laki yang peka bagi perempuan adalah ketika dia mampu mengerti keinginannya, saat si perempuan hanya sekedar menunjukan sikap atau gestur tertentu. Inilah yang sampai saat ini menjadi mimpi buruk bagi setiap laki-laki, dimana mereka dituntut bisa menerjemahkan sikap sehingga tau apa yang dingiinkan perempuan. Padahal untuk membuat laki-laki lebih peka adalah dengan melakukkan komunikasi yang baik, mengatakan langsung dengan sejelas-jelasnya apa yang diingin dan dimaksudkan rasanya akan lebih efektif, dengan begitu laki-laki bisa mengerti apa yang harus dilakukannya, dengan begitu kecil kemungkinan untuk terjadinya miss komunikasi.

Komunikasi dapat melahirkan kebaikan, tapi komunikasi juga bisa melahirkan tragedi, seperti halnya yang terjadi pada Hirosima dan Nagasaki, tragedi besar yang terjadi diakibatkan karena komunikasi yang buruk. Komunikasi yang buruk rentan menimbulkan perdebatan, kesalah pahaman, dan memantik konflik. Oleh karenanya komunikasi yang baik dan efektif perlu dilatih dan diterapkan dalam kehidupan bersosial, mengingat bahwa komunikasi sendiri merupakan aktivitas yang lekat dengan kegiatan manusia sehari-hari. Untuk mengutarakan maksud dan tujuan agar sesuai dengan target dan harapan maka perlu disampaikan melalui komunikasi yang mampu diterima dan dipahami semua orang.

Komunilkasi adalah media pengakraban terbaik yang bahkan sudah dilakukan sejak manusia pertama, Adam dan Hawa. Komunikasi yang baik jugalah yang membuat Rasulullah bisa mengerti perasaan Khadijah. Dengan komunikasi membuat kita bisa mengerti satu sama lain, karena sejatinya berkomunikasi bukan hanya sebatas berbicara menciptakan bunyi tapi lebih dari itu melibatkan perasaan, ini sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. Eki Baihaki, dalam pemaparannya beliau menyampaikan bahwa prinsip dasar komunikasi yang efektif itu setidaknya memenuhi lima aspek, yakni : Respect, Empathy, Clarity, Humble, Integrity. Karena komunikasi sendiri bersifat Omni Present, dalam artian Komunikasi hadir disetiap proses ruang dan waktu, diamana saja dan kapan saja.

Respect, Tanpa adanya respek kepada orang lain komunikasi tidak akan berjalan dengan baik, karena kita akan menghargai siapapun yang menjadi lawan bicara kita, tinggi rendah posisi dan jabatan seseorang tidak membuat kita berubah haluan untuk tetap berkomunikasi dengan cara yang baik, dengan begitu tidak ada kesan berbeda saat berkomunikasi dengan orang penting atau orang biasa, karena kita memiliki respek yang tinggi kepada siapapun, komunikasi kita akan selalu terlihat dan terkesan baik dimata siapapun.

Empathy, Komunikasi yang baik tidak hanya bicara tentang intelekktualitas tetapi juga emosionalitas, bagaiaman kita mampu merasakan apa yang dialami lawan bicara kita sehingga engan baik kita bisa mnyesuaikan konten pembicaraan agar tidak menyinggung bahkan perasaannya, bahkan saat kita mampu memunculkan perasaan empati kita bisa memberikan solusi dan penghiburan dari keresahan yang dirasakan oleh lawan bicara kita, mentransfer aura positif.

Clarity, Agar pesan yang ingin kita transfer kepada orang lain bisa tersampaikan dengan baik, maka dalam proses berkomunikasi juga harus mempertimbangkan kejelasan konten yang ingin kita sampaikan, untuk itu penting juga untuk kita melihat audience lawan bicara kita itu siapa, jika kalangan akademisi seperti mahasiswa dan dosen serta dalam nuansa presentasi diskusi maka kita bisa menyesuaikan konten dan gaya bahasa yang sesuai, sehingga pesan yang ingin kita sampaikan bisa dengan jelas dipahami oleh orang-orang, karena kita nisa mengadaptasikan gaya Bahasa dan konten pembicaraan.

Humble, Bersikap menyenangkan untuk orang lain juga perlu agar perkataan kita mudah diterima mereka. Dengan karakter yang humble kepada siapapun kita akan sangat dihargai orang, sehingga apapun yang kita sampaikan akan bisa diterima dan disambut dengan baik, lain cerita jika kita memiliki karakter yang buruk dan membuat orang lain tidak nyaman, jangan kata-kata, kehadiran kita pun mungkin tidak diharapkan di hadapan mereka.

Integrity, sudah pasti dan yang tak kalah pentig jika kita ingin menjadi seorang pembicara yang baik maka kita juga harus memiliki integritas kualitas diri yang baik. Teringat sebuah adagium sederhana mengatakan “Pembicaraan yang baik akan menghipnotis banyak orang”, kita akan mampu meyakinkan orang lain dengan kata-kata kita jika kita memiliki integritas yang baik, kita akan mampu membuat siapun peka dengan maksud dan tujuan yang ingin kita sampaikan.

Apapun masalahnya komunikasi adalah solusi terbaik, kita bisa mendamaikana perseteruan dengan komunikasi, mendidik dan mengajarkan orang dengan komunikasi, mengutarakan maksud dan tujuan yang kita inginkan dengan komunikasi. Apapun masalahnya bicarakan, utaraka, dan jelaskan akan lebih baik untuk menemukan solusi dari permasalahan, kekacauan akan terjadi justru saat siapapun mulai bungkam dan enggan bercerita.

Ditulis Oleh : Kurniawan Aziz, Mahasiswa Ilmu Hadis UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Tinggalkan Balasan