Menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah kelahiran Ciparay-Bandung tersebut,  terdapat empat corak atau orientasi Salafiyah yang berkembang di Indonesia. Keempat corak tersebut yaitu Salafiyah Tradisional, Salafiyah Reformis, Salafiyah Dakwah dan Salafiyah Ideologis.

Salafiyah Tradisional

Salafiyah Tradisional  yaitu jenis Salafiyah yang berimpitan dengan paham Ahlussunnah Waljamaah dan masih terikat dengan mazhab yang banyak dianut di Indonesia yaitu Mazhab Imam Syafii. Menurutnya, jenis Salafiyah pertama ini seperti ditunjukkan oleh pesantren-pesantren Salafiyah dan juga kelompok-kelompok Tarekat.

Salafiyah Reformis

Nama lain dari Salafiyah kedua ini yaitu Salafiyah Modernis. Gerakan Salafiyah Reformis atau Modernis ini merupakan Salafiyah yang berupaya untuk mengembalikan ajaran Islam kepada sumbernya yang asli, yaitu al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Selain itu kelompok Salafiyah Modernis ini menolak bentuk-bentuk tradisi yang mengandung unsur-unsur syirik, takhayul, bid’ah dan khurafat.

Kelompok ini tidak kerap membawa narasi atau tema gerakan pembaharuan Islam (tajdid fi al-islam) agar umat Islam bangkit dari keterpurukan dan berupaya membangun perubahan ke arah kemajuan. Selain itu jenis Salafiyah Modernis yang disebut Haedar ini juga tidak melibatkan diri pada bidang politik kekuasaan seperti yang ditunjukkan oleh Muhammadiyah, Al-Irsyad dan Persatuan Islam.

Salafiyah Dakwah

Kelompok ini sangat mengutamakan purifikasi atau pemurnian dalam bidang akidah dan berupaya mempraktikkan cara hidup pada zaman Nabi dan tiga generasi setelahnya secara ketat dan keras. Terdapat kesamaan dengan Salafiyah Reformis dalam hal tidak melibatkan diri dalam bidang politik kekuasaan. Contoh kelompok Salafiyah Dakwah atau Jamaah Salafiyah ini yaitu Salafiyah Yamani, Haraki, At-Turast dan Forum Ahlussunnah Waljamaah pimpinan Ja’far Umar Thalib.

Salafiyah Ideologis

Salafiyah jenis terakhir ini yang menjadi fokus disertasi Haedar Nashir,  yaitu gerakan Salafiyah yang mengusung pelembagaan syariat Islam secara legal-formal di dalam kehidupan umat Islam. Formalisasi syariat Islam tersebut yang paling utama ialah dalam kehidupan bernegara dengan membangun sebuah negara Islam. Kelompok ini berupaya merujuk kepada idealisasi kehidupan Islam pada zaman Nabi serta masa kekhilafahan Islam pada masa lampau untuk dipraktekkan pada zaman sekarang.

Haedar mencontohkan gerakan Salafiyah Ideologis ini di antaranya ditunjukkan oleh Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam (KPPSI) yang dulu berkembang di Sulawesi Selatan. Jenis Salafiyah ini menurutnya memiliki watak yang serba harfiah (tekstual) atau legal-formal, doktriner dan militan. Selain itu, kelompok ini juga kadang disebut sebagai Salafiyah Radikal, Islam Radikal, Radikalisme Islam atau Fundamentalisme Islam.

Itulah beberapa kategori Salafiyah menurut Haedar Nashir yang beliau tulis dalam disertasinya. Jadi, gerakan Salafiyah yang berupaya mengembalikan ajaran Islam kepada al-Qur’an dan as-Sunnah (arruju’ ila al-Qur’an wa as-Sunnah) tidaklah tunggal atau monolitik. Namun terdapat beberapa kategori atau varian tertentu sesuai dengan kecenderungan dan orientasi dalam memahami dan mempraktekkan ajaran Islam.

Tinggalkan Balasan