“Manusia adalah makhluk sosial”, Mungkin kata ini sudah tak asing lagi di telinga kita, kalimat ini telah di ajarkan oleh guru-guru sosial saat kita menginjak bangku sekolah menengah, bahkan mungkin sampai sekarang.

Sosial sendiri memiliki arti bahwa manusia merupakan makhluk yang saling bekerja sama atau memiliki keterkaitan dengan manusia lain. Ya, secara kontekstual tidak ada yang salah dengan kalimat ini, wajar saja kita sebagai manusia yang punya kekurangan masing-masing sehingga membutuhkan orang lain untuk mengerjakan atau membantu dalam hal yang bukan ahlinya. Bayangkan saja saat ingin membuat sebuah bangunan apakah kita mampu mengerjakan secara mandiri. Mungkin bisa tapi butuh waktu yang sangat lama agar bangunan itu selesai dan jika tidak ahli dalam membangun maka bukan rumah yang akan dapatkan melainkan hanya tumpukan semen padat yang saling tersusun berantakan, yang bahkan jika didorong mungkin akan roboh, karena kita tidak tahu dasar-dasar ilmu dari kontruksi.

Atau saat sedang sakit sedang dan tak tahu apa-apa tentang ilmu kedokteran, kemudian memaksakan diri untuk mengobati dengan ala kadar pengetahuan kita, bukan sembuh yang akan didapatkan malahan penyakit itu akan sering kambuh.

Ya begitulah manusia saling membutuhkan dalam segala hal. Tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri, bahkan saat Nabi Adam saat sedang berada di surga, tempat yang di mana semua kenikmatan tersedia, air madu, air susu, bahkan air khamar pun melimpah ruah, tidak ada nikmat yang absen di tempat itu. Tapi nabi adam tetap merasa hampa tetap merasa sendiri seakan berlian yang ia pijak, buah yang ia makan, intan yang ia kenakan, tak ada rasanya tak ada kesannya, karena ia merasa sendiri, ia merasa kesepian sampai Allah menciptakan hawa sebagai pendampingnya dalam hidupnya Tak sepenuhnya salah saat manusia meminta bantuan orang lain saat kita tidak sanggup mengerjakannya sendiri.

Tapi apakah kita harus selalu bergantung pada pertolongan manusia? Bagaimana saat nanti di padang Mahsyar saat semua manusia berkumpul, saat semua sibuk dengan urusannya masing-masing, saat seorang ibu menuntut anaknya dan seorang anak menuntut ayahnya. Kepada siapa kita bergantung? Manusia hanyalah sebagai perantara dari segala pertolongan Allah. Manusia hanyalah bagian kecil dari kasih sayang Allah yang tak terhingga. Sayidina Ali pernah berkata “Aku telah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.”

Mengapa berharap sepenuhnya kepada manusia itu terasa pahit? Karena manusia hanyalah makhluk biasa yang sama-sama memiliki akal dan hati yang kadang berubah sesuai kehendaknya, dan kita tidak bisa mengendalikan orang lain untuk bisa sesuai dengan apa yang di inginkan. Maka saat berharap pada manusia, bukan kenyamanan yang akan didapat, melainkan kekecewaan yang tiada bandingnya.

Saat seseorang dalam musibah kemudian orang itu berharap temannya bisa membantu, teman yang selalu bersama, berbagai suka dan duka, berbagi cerita, tapi saat di minta tolong dia menolak dengan berbagai alasan, bagaimana perasaan kita saat itu , padahal jika saat dia dalam kesulitan tangan ini tak sukar untuk merangkul dan membantu semampunya, tapi apa balasannya?? Ya, itulah manusia bisa berubah dan berbuat sesuatu yang tak disangka. Barulah dapat disadari bahwa sesederhana itulah kecewa .

Tapi apakah kita hanya bisa bergantung pada manusia? Bagaimana dengan Allah? Dzat yang maha kuasa atas segala, Dzat yang selalu menemani di mana pun dan kapan pun kita butuh disadari ataupun  tidak pertolongan Allah selalu datang. Berbeda dengan manusia yang akan membalas dan berlaku sesuka hati, Allah dengan sifat rahman-Nya selalu berlaku adil, bahkan saat kita bermaksiat kepada-Nya, Allah tetap sayang kepada kita. Saat seseorang tertidur pulas kemudian terbangun pukul 07:00 dan tertinggal ibadah subuhnya, tapi kendati dia tertimpa musibah, Allah masih memberikan kenikmatan padanya berupa umur, makanan yang mungkin sudah tersaji di meja makan yang sudah disiapkan oleh ibu kita. Itu merupakan bukti sayangnya Allah pada hambanya yang bahkan saat berbuat salah masih di kasihi. Lantas mengapa kita tidak bergantung dan berharap hanya pada Allah?

Dikisahkan di suatu tempat ada seorang lelaki yang sedang berjualan korek api di kota, kemudian istrinya menelepon bahwa susu anaknya telah habis dan memintanya untuk membelikan pada saat pulang nanti. Karena selain berjualan, ia juga merupakan guru privat yang mengajarkan anak seorang saudagar kaya dan kebetulan hari ini ia akan mendapatkan gaji dari lesnya. Kemudian ia pun mengajar seperti biasa, namun pada saat selesai sang saudagar kaya berkata bahwa ia lupa untuk mengambil uang di ATM dan meminta maaf belum bisa membayar upahnya.

Dengan rasa kecewa dan hancurnya harapan untuk mendapatkan uang ia pergi dengan berat hati, dan bersumpah bahwa demi Allah ini adalah terakhir kalinya ia berharap kepada manusia. Kemudian adzan berkumandang dan pergilah ia menuju sebuah masjid kemudian menunaikan kewajibannya. Saat setelah selesai Shalat ia masih berpikir dari mana uang untuk membelikan susu untuk anaknya, kemudian ia berdoa kepada Allah dan menyerahkan semua keputusan padanya. Tak lama setelah keluar masjid ia mendapat telepon bahwa mertuanya membutuhkan satu pack korek api yang sedang ia jual, yang harganya seharga dengan 1 kaleng susu, saat itu pula ia menangis dan menyadari bahwa tiada penolong selain Allah dan tiada yang dapat digantung kan selain hanya kepada Allah.

Begitu maha pencemburu Allah, Saat kita berharap pada selain Allah, yang akan didapat hanyalah rasa kecewa, namun saat seluruh keputusan diserahkan pada yang maha adil, maka kasih sayang dan Rizki yang tak di sangka-sangka yang akan kita dapatkan.

Masihkah kita ingin berharap pada Manusia?

Allah berfirman dalam Al-Quran  “ Dan apabila hambaku bertanya di mana Aku, maka katakanlah sesungguhnya aku itu dekat.” (QS. Al-BaqarahL2):186). Dalam ayat lain Allah berfirman “ dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QA. QafL50):16).

Begitu banyak ayat-ayat yang menandakan bahwa Allah itu selalu ada bersama kita dan selalu dekat dengan kita. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu bahwa Rasulullah Saw bersabda “Allah berfirman: Aku bersama hambaku selama ia mengingat-Ku dan selama bibirnya bergerak menyebut nama Ku.”

Ingat teman-teman sekalian saat hati ini merasa sendiri, saat perasaan ini mengatakan bahwa dunia ini tak adil, saat cobaan di dunia ini membuat sesak di dada. Ingatlah selalu bahwa Allah selalu bersama kita dan Allah mengatur segala bentuk kehidupan sesuai dengan apa yang menurut Allah baik bukan apa yang menurut makhluk-Nya baik. Maka mulai dari sekarang gantungkanlah semua harapan hanya kepada Rabal ‘alamin.

Penulis : Farhan Hafidh Muhamad

Tinggalkan Balasan