Siapa Warga Negara Indonesia (WNI), yang di dunia virtual akrab disebut dengan warga +62, yang detik ini belum pernah mengikuti lomba kerupuk? Saya yakin ada yang belum pernah sama sekali, tapi itu sedikit, kebanyakan pasti pernah  menikmati untaian kerupuk yang diikat tali rapia itu, kan? Jika sobat Samar juga pernah melahap enaknya kerupuk lomba Agustusan, maka sobat Samar sudah dipastikan  sedang hidup di suatu negara yang dulu pernah diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta, atas nama bangsa Indonesia tentunya.

Kita masih berada dalam euphoria hari kemerdekaan alias Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT-RI) ke-75 tahun. Kalau untuk umur manusia sih itu sudah tua renta dan rata-rata sudah mencapai titik bijaksana (tapi tak banyak yang benar-benar bijaksana). Namun, untuk ukuran sebuah negara bangsa (nation state) usia itu masih seumur jagung,  ya kan? Untuk itu, saya mau berpendapat sedikit saja soal lomba balap kerupuk, gak banyak kok!

Lomba kerupuk bisa dibilang lomba yang merakyat (lomba kerakyatan). Dan itu memang seru banget, selain juga lomba panjat pinang, balap kelereng, balap karung, dan lomba balap-balapan lainnya yang tak kalah menariknya. Sebagai warga biasa, saya menikmati sekali keseruannya, sangat mengibur dan menggelitik sampai kadang timbul gelak tawa. Sampai di sini tidak ada yang perlu kita perdebatkan, karena kemeriahan dalam aneka lomba Agustusan itu memang sudah jadi budaya.

lomba kerupuk harus kita korek pelajarannya, bukan kerupuknya saja yang ludes dimakan. Apa yang menjadi pelajaran pentingnya? Bahwa kita hari ini, bisa dibilang masih enggan buat meniti tangga yang lebih tinggi lagi untuk mengadakan lomba-lomba yang lebih berbeda dan lebih mendukung modernitas . Maksudnya, sebaiknya kita berinovasi lebih giat lagi untuk mengisi hari kemerdekaan dengan kegiatan-kegiatan yang tidak itu-itu aja, yang cenderung ditekankan pada segi hiburannya saja tanpa diimbangi dengan lomba-lomba yang inovatif dan mengembangkan skil seseorang.

Misal, sekarang ini kan zamannya digitalisasi, bahkan di tengah Covid-19 kegiatan dalam jaringan (daring) begitu jadi andalan (primadona). Saya ingin mengatakan bahwa bagaimana bila diadakan kompetisi-kompetisi yang bisa melatih kemampuan digitalisasi seseorang. Contohnya lomba mengetik kata dalam Microsoft Word untuk anak-anak kelas tujuh Sekolah Menengah Pertama (SMP). Contoh lain, bagaimana bila untuk anak-anak Sekolah Menengah Atas (SMA) diadakan kompetisi desain grafis menggunakan Photoshop dan aplikasi sejenis. Sederhana kan?

Selain mengasah kemampuan peserta lomba, kegiatan tersebut juga menjadi penopang arus digitalisasi yang sangat cepat ini. Selain itu, kemampuan dan daya saing di antara para peserta bisa jelas dan terus ditingkatkan. Makanya saya pikir kalau terus-terusan diisi lomba semacam kerupuk, kelereng atau balap karung saja, mau kapan negara kita bisa  bersaing dengan unggul dengan negara lain? Kalau cara bersaingnya saja hanya  diajarkan dalam kegiatan itu-itu saja.

Melalui tulisan ini, saya mau menyampaikan bahwa menikmati apa yang sudah menjadi kebudayaan kita, itu sah-sah saja. Tapi dengan catatan jangan sampai terlena dan tidak ada inovasi baru yang mau dikembangkan untuk menghadapi kerasnya persaingan dunia modern (global). Sepertinya di tahun-tahun kemerdekaan Indonesia yang akan datang, kegiatan-kegiatan dalam rangka memeriahkan HUT-RI harus direvisi, seperti skripsi aja ya, Hehe.  Jangan asal-asalan buat kegiatan yang tidak menunjang kemajuan masyarakat.

Tinggalkan Balasan