Bukan dongeng baru lagi, memang banyak mahasiswa yang nyeletuk dan menggerutu sambil meratapi nasibnya yang salah ambil jurusan di perguruan tinggi. Pemandangan yang tak indah ini diperparah dengan hengkangnya satu persatu mahasiswa dari bangku kuliah dan memilih untuk mencari cuan. Ruang kuliah bak jeruji besi yang membuat belajar jadi bosan dan tak nyaman. Tugas-tugas ditinggalkan sementara uang kuliah dan biaya kosan tetap harus dilunaskan.

Gelombang penyesalan yang berpangkal dari satu orang akhirnya meluas ke banyak mahasiswa yang merasakan hal serupa. Mereka kemudian membentuk aliansi dan menamakan dirinya dengan Himpunan Mahasiswa Salah Jurusan, disingkat Himasalju. Hehe.  Di sana sini teman-temannya ribut dan ribet sesekali sambil nyeletuk “kamu salah jurusan bro, harusnya kamu masuk jurusan anu”. Itu yang membuat telinga jadi risih,  ibarat pas tidur kawanan nyamuk bergelayunan dan bising di sekitar daun telinga.

Apakah di antara sobat  ada yang merasa begitu? Tenang dan tak usah galau. Itu cuman persepsi yang suatu saat bisa dirubah. Masalahnya terletak pada persepsi kita, apakah kita akan meng-iya-kan cibiran dari teman sejawat dan lingkungan tersebut. Atau , kita menanam persepsi yang lain di dalam diri kita.  Bila sampai hari ini banyak yang desas-desus ngomongin dan ngetawain diri kita yang salah ambil jurusan menurut persepsi diri kita sendiri dan persepsi orang lain, maka ubah persepsi tersebut mulai detik ini juga.

Tak usah pilu dan berlarut-larut dalam sedih, jurusan saat ini sebenarnya adalah cerita indah dari sang Pencipta. Tinggal pilih, lebih percaya dengan cerita yang dituliskan Tuhan atau cerita-cerita Hambanya Tuhan?  Dari sinilah persepsi kita harus bermula. Wah, maya iya sih? Dalam Lembaga Hidup, istilah yang dipakai Buya Hamka untuk menggambarkan Alam Janin,  seorang manusia sebenarnya sudah digariskan segala kebaikannya berdasarkan persepsi Tuhan bukan manusia.

Maka, akhiri saja persepsi buruk kita tentang diri kita dan jangan hiraukan persepsi buruk orang lain tentang diri kita. Saya akan kasih kisah yang semoga saja Bro and Sis jadi tergugah seleranya. Tentunya yang berhubungan dengan topik bahasan kita saat ini.

Ada yang tahu siapa Muhammad Shahrur? Shahrur lahir di Sahiliyyah, Damaskus (Syria) pada tahun 1938. Di antara banyak pemikir islam kontemporer yang cukup viral salah satunya adalah dia. Gagasan-gagasanya sering  kontroversial karena dinilai bersebrangan dengan mayoritas umat islam. Tak jarang gagasannya sering menuai kritik dari pemikir islam lainnya yang beda paham dengannya.

Menurut kacamatanya, menyoal bagaimana seharusnya paradigma islam masa kini, umat islam harus keluar dari ortodoksi yang selama ini menyelimuti alam pikirannya. Sebagaimana dijelaskan oleh Eka Hendri AR (2013) dalam Perkembangan Pemikiran Modern Dalam Islam berikut:

Oleh karenanya, kita harus keluar dari kondisi demikian, dalam rangka mengembalikan otentisitas Islam. Otentisitas tidak sama dengan ortodoksi, karena otentisitas kebenaran agama Islam merupakan perpaduan dari upaya menjaga al turats atau warisan intelektual masa lalu dan sikap akomodatif terhadap peluang terjadinya perubahan dan perkembangan di masa kini dan masa yang akan datang. Untuk mendeskripsikan pandangan tersebut, Muhammad Shahrur menganalogikan otentisitas ini dengan sebuah pohon. Dimana setiap pohon pasti memiliki akar yang terhjam kuat di dalam perut bumi.

Dari pohon tersebut berkembang pohon, dahan, ranting dan dedaunan yang menjulang tinggi ke angkasa. Akar itu ibarat masa lalu (at turats), ia tidak mungkin dikesampingkan, karena berkat akumulasi dari pengetahuan dan peradaban terdahulu menjadi satu kesatuan mata rantai dengan perkembangan at turats dan peradaban modern.

Namun, yang harus dicatat, masa lalu sudah lama terjadi, ia tidak mungkin mengalami perubahan melebihi masa kini, seperti halnya pohon, tidak ada pohon yang akarnya lebih subur dari cabang dan rantingnya. Dengan kata lain, masa lalu itu sudah berlaku tetap (tidak berubah), tetapi masa depan akan terus melahirkan perubahan terus menerus. Jadi, otentisitas adalah upaya kita menjaga relasi kontinum dan resiprokal antara masa lalu dengan masa kontemporer

Sederhananya, menurut Shahrur dalam memahami islam tidak harus melulu sama persis dengan apa yang dilakukan umat islam klasik. Tapi harus menyesuaikannya dengan keadaan zaman yang terus menerus berubah. Anehnya, banyak umat islam yang mendikte cara-cara islam klasik dalam memahami fenomena keagamaan di era yang justru sudah berbeda. Akibatnya, terjadi stagnasi di dalam tubuh umat islam.

Percaya atau tidak, Shahrur sepanjang hidupnya tak mengenyam bangku perkuliahan di jurusan pemikiran islam atau ilmu-ilmu keislaman lainnya. Ia menyelesaikan strata satunya di jurusan Teknik Sipil di Damaskus dan Jurusan Mekanika Tanah dan Teknik Pondasi pada Program Magister dan Doktornya di Rusia. Ia akhirnya menjadi dosen teknik sipil di Syiria. Meski begitu, ia  mampu mencermati femomena keislaman dengan segar dan kritis seperti tanggapannya soal mengapa umat islam masih stagnan atau jumud.

Kembali ke pembicaraan awal, pertanyaannya kini  apakah Shahrur salah memilih Jurusan? Tidak. Bagi saya apa yang dialami Shahrur adalah berkah yang tidak  diberikan kepada orang lain. Kenyataan kita saat ini bisa jadi merupakan “kejutan” dan “berkah” yang tiada terikira. Sebenarnya, persepsi kita saja yang mengatakan salah jurusan. jurusan saat ini yang bro and sis jalani tidak boleh memasung akal pikiran untuk membicarakan hal lain seperti filsafat, pemikiran islam, ekonomi, politik dan lain-lain.

Selain Sharour, banyak tokoh lain yang mirip-mirip ceritanya. Contohnya Ziaudin Sardar yang Juga saintis sekaligus pemikir muslim. Zaman klasik ada Ibnu Sina yang serba bisa dalam berbagai segi ilmu. Ada juga Al-Farabi yang selain  lihai dalam logika, juga lihai dalam ilmu agama. Jadi, jangan menempatkan diri di jurang kesedihan dan kenestapaan, karena jurusan yang telah diberikan Pencipta pasti berbuah kebaikan.

Tinggalkan Balasan