Sajak arab mengatakan bahwa “Bukanlah pemuda kalau mengatakan itulah bapak kami (yang berbuat), melain­kan seorang pemuda yang berani berkata inilah aku (laisa al-fatâ man yaqûlû kâna abî lâkin al-fatâ man yaqûlû hâ’anâ dza).” Sementara mendiang Presiden Soekarno mengatakan “Berilah aku 10 pemuda, niscaya akan ku guncang dunia”. Dua ungkapan tersebut menandakan bahwa generasi muda memiliki energi yang mampu mengubah keadaan menjadi lebih baik. Maka pemuda merupakan generasi selanjutnya yang akan mengisi pos-pos orang tua kini pada suatu saat nanti.

Seorang guru ngaji mengatakan bahwa pemuda hari ini merupakan orang tua esok (rizalul ghad). Kalau begitu, pemuda benar-benar mesti diimbangi dengan sesuatu yang membuatnya benar-benar mengerti akan kapabilitasnya sebagai generasi yang akan memimpin di masa yang akan datang. Dewasa ini kita melihat adanya pemuda yang terseok-seok dalam menjumpai realitas zaman yang sangat dinamis. Sementara, ilmu yang didapat dari lembaga pendidikan tak mampu dicerna dan diaplikasikan dengan baik sesuai kadarnya. Alhasil, pemuda jadi oleng (sempoyongan) dalam melangkah.

Apa yang membuat orientasi pemuda menjadi oleng? Pertanyaan tersebut memerlukan jawaban yang serius yang mampu membenahi masalah pemuda hari ini. Pendekatan multidimensional perlu untuk diusahakan agar sedikit demi sedikit bintik-bintik hitam pada tubuh pemuda bisa segera disapu bersih. Jika tidak, jangan harap masa depan masyarakat , bangsa dan agama menemui kemajuan dan jalan terang. Maka pembinaan oleh segenap manusia yang mengerti untuk mengatasi hal itu sangat diharapkan melalui langkah-langkah konkretnya.

Pembodohan Generasi Muda

Menurut para pengamat budaya kadang diungkapkan tiga strategi bangsa Barat untuk melemahkan pribumi yaitu dengan food (makanan), fashion (pakaian)dan film (tontonan). Dengan maksud strategi itu harus bisa merubah kebiasaan-kebiasaanatau budaya lokal menjadi terpinggirkan (terperiferalisasi). Pertanyaannya, sudah sejauh mana strategi itu berhasil diterapkan di negeri-negeri dunia ketiga (negara berkembang)? Harus diakui bahwa pengaruh tata dunia internasional terhadap suatu negeri sangatlah besar. Akhirnya, penyelundupan dengan terang  food, fashion dan film sangat dirasakan.

Thomas L, Friedman mengatakan bahwa sekarang ini merupakan eranya “the world is flat”, yaitu suatu era dunia datar. Maksudnya dunia kini sudah menjadi “Kampung Global” di mana komunikasi antarmasyarakat dunia lebih mudah.  Atas nama globalisasi  bisa saja strategi food, fashion dan film tersebut disisipkan. Maka yang terjadi di tengah pemuda saat ini yaitu adanya materialisme orientasi. Saat itu pula adanya proses pembodohan yang sangat masif. Akan tetapi, Gus Dur mengatakan bahwa kecurigaan kepada Barat harus bisa dikendalikan. Itu artinya tidak semua yang berbau barat Bisa dikatakan pembodohan. Karena, di sisi lain terjadi tawar menawar kebudayaan yang memproduksi “barang” yang berguna juga.

Kata Gus Dur (2006) dalam Islamku, Islam Anda, Islam Kita, salah satu produk perjumpaan peradaban modern dan tradisional terdapat pada lagu tombo ati dengan diiringi musik jazz. Maka pesan dakwah terasa kekinian dan bisa diterima kaula muda. Upaya pembodohan generasi muda islam yang menurut beberapa kalangan islam dituduhkan kepada Barat harus dimonitoring dan dipilah-pilah. Supaya sesuatu yang merupakan upaya pembodohan generasi muda islam bisa ditekan dan dihindarkan. Dan yang tidak, bisa dimanfaatkan dengan baik untuk memajukan generasi muda.

Pengilmuan Pemuda

Kuntowijoyo, seorang cendekiawan penggagas ilmu sosial profetik mempunyai konsep “pengilmuan islam”. Itu digagasnya sebagai upaya merespon apa yang para pemikir islam lainnya dinamakan sebagai “islamisasi ilmu pengetahuan”. Terinspirasi dari itu, maka penulis mengatakan bahwa untuk pemuda hari ini mesti adanya suatu “pengilmuan pemuda”. Pengilmuan pemuda merupakan proses membekali para pemuda dengan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu, pemuda akan mengerti realitas yang tampak di sekelilingnya.

Generasi muda (islam) dalam menjawab situasi akan lebih arif kalau didasari dengan ilmu. Bukankan ilmu adalah yang akan menghantarkan seseorang pada ketinggian derajat di mata Allah Swt. Ayat familiar di dengar oleh kita yaitu “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Qs. Mujadalah:11). Jelas apabila kita memperhatikan dengan seksama, bahwa ternyata iman dan ilmu merupakan dua perkara yang bisa meninggikan siapa saja yang merawatnya. Generasi muda islam dalam ini harus dididik dalam kerangka iman dan ilmu pengetahuan.

Bagaimana di tengah masyarakat akan ada suatu kegemilangan bila kebodohan ada di mana-mana. Di sisi lain, gagasan-gagasan keilmuan menjadi kering kerontang dan lama-lama tertutupi kabut gelap dekadensi moral. Generasi muda yang berilmu akan mampu berdialektika dengan zaman dan menciptakan masyarakat yang berkemajuan nantinya. Pemuda teladan yang kaya akan ilmu contohnya ada pada sosok Ali bin Abi Thalib. Generasi muda islam saat ini bisa mulai meniru sosok Ali, perannya sebagai mufti (penasehat keagamaan) di zaman khalifah sebelumnya menunjukkan bahwa ia bukanlah orang sembarangan.

Salah satu upaya untuk proses pengilmuan pemuda yaitu dengan melebarkan dan memperbanyak ruang-ruang diskusi. Forum-forum diskusi bukan hanya di lingkungan kampus saja, melainkan harus bisa menyentuh pedesaan-pedesaan. Agar disparitas yang ada bisa dibenahi. Selain itu, penggiatan ruang-ruang diskusi di kawasan pelosok mudah-mudahan akan membuka mata generasi-generasi muda yang selama ini kepalang tanggung  utnuk menggali ilmu-ilmu pengetahuan.

Tinggalkan Balasan