Masih dalam bahasan penyakit modern dari buku 99 Cara Hidup ala Pope Francis, kali ini masuk kepada daftar penyakit modern berikutnya. Terdapat tiga penyakit modern yang akan dijelaskan menggunakan bahasa yang mudah dipahami, tentunya. Seringkali kita temukan manusia, atau individu yang terlalu berlebihan dalam menanggapi kehidupan di dunia, merasa hidup akan terus berlanjut atau abadi, sehingga lupa akan kehidupan setelahnya. Merasa diri immortal, atau merasa hidup tidak akan pernah mati adalah salah satu penyakit modern yang sedang, dan sudah terjadi pada diri manusia saat ini. Bagaimana tidak? Setiap individu berlomba untuk merubah diri, penampilan, serta kondisi mereka demi suatu kehidupan yang fana. Ia menganggap dirinya paling oke, paling penting, dan paling hebat. Atau, ia merasa dirinya “paling” dalam segalanya. Siapa yang dalam hidupnya pernah bertingkah dan berpikir seperti ini? Menurut saya, hampir semua manusia yang masih hidup akan memiliki pikiran dan pastinya bertindah seperti itu, “sepertinya”. Mereka yang memiliki penyakit ini menganggap diri “tak tersentuh”. Ia merasa memiliki kekebalan tubuh yang tidak pernah padam, dan tidak membutuhkan checkup rutin. Padahal, manusia merupakan makhluk yang lemah apabila dihadapkan dengan kuasa Tuhan. Ia tidak bisa menerima kritik ataupun saran, enggan untuk meng-update diri, dan tidak berusaha untuk mengembangkan dirinya.

            Bergoglio menegaskan, ini adalah gambaran tubuh spiritual yang sakit. Penyakit ini muncul sebagai pengaruh dari sikap gila kuasa dan sikap selalu mau diutamakan. Pengaruh lainnya adalah narsisme berlebihan, atau sikap yang ingin selalu memandang dirinya sebagai gambar satu-satunya yang utama. Orang lain bukan siapa-siapa. “Sayalah tuannya”, “Saya atasannya”, atau I am the number one. Berhati-hatilah apabila kita terserang penyakit ini. Jika sudah menderita penyakit spiritual ini, maka satu-satunya cara adalah pergi ke pemakaman dan melihat apa yang ada di sana. Ketika berkunjung ke pemakaman, kita akan melihat pemakaman yang terdapat batu nisan yang tertulis nama orang yang dikebumikan. Disana tertera kapan ia lahir, dan kapan ia meninggal. Sadari bahwa mereka yang sudah dikebumikan, bisa jadi semasa hidupnya mengidap penyakit spiritual yang sama. Di antara mereka bukannya tidak mungkin ada yang merasa diri abadi, memiliki kekebalan tubuh, dan merasa diri sangat hebat. Tapi ternyata …. pada akhirnya mereka mati juga.

            Maka, mulai saat ini, mari berusaha untuk membangun kesadaran diri bahwa kita adalah makhluk yang rapuh, lemah, tidak berdaya, dan bisa mati, lalu terurai dalam tanah. Kita hidup di dunia hanya sementara, dunia hanyalah tempat singgah sementara sebelum kita benar-benar tinggal dan menetap di tempat “keabadian”. Ragam tugas dan pekerjaan yang dipercayakan kepada kita merupakan tanggung jawab kita sebagai seorang hamba. Tentunya, hamba yang rapuh. Kita tetap memerlukan kritik yang membangun, kita harus tetap meng-update diri untuk bisa terus mengembangkan diri, agar bisa menebar manfaat yang banyak, mampu melayani sesama melalui “kekuasaan” yang dipercayakan kepada kita.

            Selanjutnya adalah “gila kerja”. Di kehidupan sehari-hari, sering kita jumpai mereka yang setiap hari pergi pagi, lalu pulang larut malam? Sehingga sulit untuk dijumpai, bahkan sekedar saling sapa pun sepertinya sulit? Mereka sibuk untuk bekerja, mencari nafkah untuk memenuhi hajat keluarganya, juga dirinya. Orang seperti ini sering kita sebut sebagai workaholic. Bekerja boleh, namun jangan sampai menghabiskan waktu hanya untuk bekerja, hingga teralienasi atau terasingkan dari lingkungan sosial, atau bahkan merasa asing dengan dirinya sendiri sampai kehilangan jati diri. Apabila kita terlalu menyibukkan diri kita dengan kerja, kerja, dan kerja, kita akan menjadi mudah stress dan gelisah.

Lantas, bagaimana cara mengatasinya? Sederhana saja, kita hanya butuh istirahat! Bagi mereka yang telah bekerja, waktu istirahat adalah penting, wajib, dan harus diambil secara sungguh-sungguh. Apabila kita sudah mengabaikan waktu istirahat kita, maka kita sedang berada di satu tahap lagi mencapai cemas dan stress. Kalau hal ini tak terkendali, tubuh kita akan sakit. Tubuh manusia itu saling melengkapi, pikiran memengaruhi kondisi kesehatan. Dr. Herbert Spencer dari Universitas Harvard mengatakan bahwa lebih dari 90% penyakit tubuh disebabkan oleh jiwa. Inilah yang disebut penyakit ptikosomatis. Istilahnya berasal dari kata psycho yang berarti jiwa dan somo yang berarti tubuh. Maksudnya, jiwa berpikir dan memengaruhi tubuh. Apa yang dipikirkan dan digelisahkan oleh jiwa berpengaruh pada seluruh anggota tubuh. Selain berpengaruh pada ekspresi wajah dan gerakan tubuh, pikiran juga berimbas pada anggota tubuh bagian dalam. Dalam hal ini  misalnya bertambah detak jantung, memengaruhi suhu tubuh dan mengganggu proses bernapas dan tekanan darah yang ikut memengaruhi liver, ginjal, limpa, lambung, paru-paru dan lainnya. Ketika terpapar penyakit gila kerja, kita akan rentan stress dan gelisah, yang kemudian memengaruhi kesehatan tubuh. Bahaya, bukan?

Pernah menemukan orang yang flat? Atau istilahnya mereka yang tidak memiliki rasa empati, apatis, dan tidak peduli akan lingkungan sekitar? Atau, bahkan diri kita sendiri yang memiliki sikap seperti itu? Mengapa itu bisa terjadi di dalam diri manusia? Apa hatinya telah tertutup untuk berbelas kasih kepada orang lain? Sikap seperti ini ternyata tidak baik, lho! Ini merupakan salah satu penyakit modern yang dijelaskan oleh Pope Francis. Penyakit ini dinamakan “tidak sensitif”. Penyakit ini ditemukan pada orang yang berhati batu, berleher kaku. Mereka akan menjadi pribadi yang keras secara mental, maupun spiritual. Ketika terjangkit penyakit ini, kita akan kehilangan ketenangan batin dan cenderung bersembunyi dalam tumpukan pekerjaan. Semangat dan keteguhan hidup pun akan mengendur. Akibatnya, perasaan menjadi tumpul, tidak sensitif, atau kurang peka pada orang lain, serta sekitarnya. Berikutnya, kita menjadi tidak mampu mencintai. Kita kehilangan sensitivitas untuk bersikap rendah hati dan murah hati.        

Ada sebuah artikel yang ditulis oleh Dr. Paul Gunadi, yang memberikan tips untuk berkembang dalam kepekaan. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut. Pertama yang harus dilakukan adalah membuka lembar kejadian selama sehari dan berupaya menempatkan diri pada diri orang yang telah kita temui. Usahakan untuk melihat segala sesuatunya dari kacamata orang, bukan hanya kacamata sendiri. Lalu, bertanyalah kepada orang lain dan memeriksa reaksi terhadap perkataan atau perbuatan kita. Belajarlah untuk membaca reaksi orang lewat ekspresi wajah, dan berinisiatif untuk berbuat sesuatu tatkala mendengar ada kebutuhan di sekitar kita. Yuk, kita coba untuk belajar melatih kepekaan kita sebagai manusia, yang kuat akan rasa kepekaan sosialnya!

Oleh : Ajeng Sri Mulyani

Tinggalkan Balasan