Kemerdekaan bangsa ini tidaklah didapat tanpa perjuangan. Perjuangan yang melelahkan dan penuh duka lara tersebut mungkin tidak dapat kita rasakan saat ini. Tetapi, sebagai anak cucu bangsa ini sudah selayaknya kita mengisi kemerdekaan dengan terus memperjuangkan kemerdekaan. Kecintaan kita terhadap tanah air sudah selayaknya kita tanamkan sejak dini, tentu saja setelah keimanan dan akhlak yang mulia. Bentuk kecintaan terhadap bangsa ini bisa kita gambarkan seperti halnya yang terjadi pada sepasang kekasih. Sesorang yang cinta kepada kekasihnya akan memberikan sesuatu yang terbaik untuk kekasihnya.

Jika seseorang yang dikasihinya sedang dalam keadaan butuh pertolongan, maka tidak ada pilihan untuk menolong sekuat tenaga. Jika orang yang dikasihinya sedang berjalan diarah yang salah, maka ia akan berusaha untuk menunjukkan jalan yang benar. Begitupun negeri ini, yang telah berjalan hampir berumur satu abad kurang seperempat abad lagi. Pertolongan dari para warganya untuk tetap eksis dalam segala kondisi. Ketika para pemimpin negeri ini menunjukkan kecenderungan arah yang salah dalam melaksanakan amanahnya, maka para warganya akan berusaha untuk meluruskan arahnya.

Bangsa ini lahir berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa sebagaimana tertulis dalam alinea ketiga pembukaan Undang-undang Dasar RI Tahun 1945. Betapa mendalam isi kesepakatan para pemimpin negeri ini. Sisi ketuhanan tidak kehilangan tempat dalam sejarah bangsa ini. Semangat perjuangan untuk mencapai kemerdekaan pun jika kita gali secara mendalam, maka akan kita dapati bahwa para pejuang dahulu motivasi utama mereka ialah agama.

Islam sebagai agama mayoritas para pejuang negeri ini sesungguhnya tidak salah jika dijadikan identitas keagamaan negeri ini. Pekik takbir para ulama dan pimpinan para pejuang ketika dulu terjadi peperangan dengan para penjajah sesungguhnya telah menjadi buktinya. Tanpa adanya pekik takbir tersebut, kita tidak akan temui pekik penyemangat lain sehingga dapat membangkitkan semangat berani mati para pejuang.

Para pejuang yang rela mati untuk kemerdekaan negeri ini jika kita pelajari lagi tidak hanya diniatkan hanya sekedar urusan pembebasan negeri dari para penjajah. Sesungguhnya mereka mendambakan kematian syahid sehingga ganjaran surga dapat ia peroleh. Penjajah bangsa barat sebagai objek yang diperangi hanyalah sebagai wasilah untuk mendapatkan kematian mulia tersebut. Sebab setiap kaum muslimin yang ikut andil dalam perang kemerdekaan ia pasti memahami bahwa kehidupan tidaklah selesai ketika berada di dunia. Alam akhirat yang menjadi tujuan setelah kematian haruslah dipersiapkan sebaik mungkin ketika masih berada di alam dunia. Sungguh naif jika mereka yang mengetahui adanya alam lain setelah dunia, perjuangan dalam perang yang bisa membunuhnya hanya untuk kepentingan duniawi saja.

Melihat fakta tersebut, maka tidak heran jika para ulama yang hadir di arena penentuan dasar negera setelah resmi merdeka terkesan berat untuk menjauhkan istilah identitas keIslaman dalam redaksi dasar negara. Perjuangan tersebut mengorbankan banyak kaum muslimin yang syahid sebab termotivasi membela agama mereka hingga Islam dapat hidup mengisi kehidupan berbangsa dan bernegara kelak. Kesan berat untuk melepas identitas keislaman tercermin dari sikap Ki Bagus Hadikusumo yang ketika itu menjadi bagian dari tokoh perumus dasar negara. Tujuh kata identitas Islam yang sedianya ada dalam sila pertama pancasila sebagai pelipur lara para pejuang muslim yang gugur di medan juang harus berakhir dan digantikan dengan istilah yang cukup netral secara kasat mata.

Kini kesepakatan bangsa ini telah diputuskan, warga negara yang merdeka hampir satu abad kurang seperempat abad lagi ini sudah sepetutnya membantu membangun negeri ini. Mengisi kemerdekaan dengan aktivitas-aktivitas positif dalam membangun peradaban yang mulia. Kaum muslimin yang telah dibekali al-Qur’an dan al-Hadits sebagai panduan berkehidupan di dunia sudah selayaknya membantu negeri ini agar berjalan ke arah kebenaran.

Sebagaimana apa yang disampaikan oleh Buya Hamka bahwa kemerdekaan yang sesungguhnya ialah “kemerdekaan yang memperhambakan diri atau mengakui diri jadi budak Kebenaran. Dan tidak ada yang layak bagi seorang muslim untuk diperhambakan selain oleh Allah Ta’ala. Semoga kita semua tetap teguh dalam kemerdekaan diri dari penghambaan selain kepada Allah Ta’ala. Wallahu’alam.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan