Pernah gak sih kalian berbicara dengan diri kalian sendiri, berbicara tentang keluhan-keluhan kalian. “Saya memang gak bisa apa-apa”, “saya malas banget”, “Kok Tuhan gak adil ya nyiptain saya”. Pertanyaan juga pernyataan tersebut memang umum diucapkan oleh setiap orang dan bahkan saya pun sering melakukannya. Tetapi jangan salah, di sana terdapat suatu pelajaran.
Sebenernya, setiap kata yang diucapkan adalah representasi dari siapa kita. Kata selalu jadi wujud lain diri kita. Setiap kata yang kita ucap, bisa menggambarkan siapa kita. Bahkan , kata dan kalimat yang kita ucap bisa mengukur kualitas kemampuan kita. Tidak hanya itu, kata yang selalu kita ucap baik itu positif maupun negatif bisa tertanam dalam diri bahwa itu sebuah kebenaran yang hakiki.
Contohnya, ketika salat seorang imam hendak membaca surat al-kafirun, tetapi dalam hati kecilnya ia berkata “waduh saya takut lupa ayatnya, takut muter-muter di walaa antum ‘aabidunamaa ‘abud“. Ketika kata-kata itu membebani pikiran, maka kata-kata itu jadi sebuah kebeneran, bener gak sih?, contoh lain seorang manusia hendak melakukan perjalanan jauh menggunakan mobil bak terbuka, di jalan ia berkata “wah saya bakalan muntah ini mah”, ehh benar saja dia mengeluarkan cairan itu.
Oke, mungkin pernyataan di atas dibawakan dengan bahasa santuy, dan itu ungkapan dari pengalaman-pengalaman saya. Hehe. Kembali ke pelajarannya, bahwa kita bisa menyeting pikiran kita dengan apa yang kita inginkan, itulah yang di sebut mind programming. Dimana kita bisa membuat program-program positif dalam pikiran dan membuang program negatif yang dangkal dan memperdayakan.
Kita ambil contoh kembali, pada zaman Nabi Muhammad SAW, Nabi pernah melakukan hal tersebut dengan mungubah nama suatu daerah yang gersang nan tandus bernama Yastrib. Yastrib berarti celaan maknanya, namun nama itu diubah menjadi Madinah al-Munawaroh yang berarti kota yang bercahaya. Banyak orang mengira Nabi aneh dan gila pada saat itu, mana ada kota yang sebagian besar penduduknya buta huruf dan tidak berpendidikan dinamakan kota yang bercahaya.
Tetapi, kata yang diucapkan Rasul tadi seakan memprogram pemikiran mereka untuk membuktikan narasi yang di ucapkan Rasul. Maka terbukti dengan lahirnya kota itu banyak melahirkan orang-orang hebat sampai islam dapat menguasai dataran Asia dan Eropa 400 tahun setelah kata itu diucapkan. Bahkan sampai sekarang Kota Madinah adalah kota yang didambakan seluruh umat islam untuk datang ke sana.
Intinya, sebelum berucap, kita harus tau apa yang kita ucapkan, karena itu menentukan cara pandang orang terhadap kita. Kita adalah apa yang kita pikirkan, ini menjadi sebuah PR bersama untuk selalu terus meningkatkan kualitas kita dengan diawali hati-hati dalam berkata.

Tinggalkan Balasan