Mitologi Mahasiswa Semester 5

0

Dan kini aku semester lima, menginjak tahun kedua menjalani hari-hari dengan menyandang gelar mahasiswa. Kondisi sedikit berubah, ghirah belajar entah mengapa lambat laun memudar. Mitosnya memang seperti itu, konon pada tahun kedua menimba ilmu di pergutruan tinggi umumnya mahasiswa akan merasakan moodnya berkurang dalam belajar, entah karena pada semester ini tugas-tugas kuliah tak terasa seperti biasanya, rasanya tidak seakrab dan seramah seperti semester-semester sebelumnya.

Terlepas dari benar atau tidaknya mitos tersebut, kembali lagi pada mahasiswanya itu sendiri, memang tidak bisa langsung disimpulkan dan digeneralisir semua mahasiswa akan mengalami hal yang sama, bahkan mungkin ada yang lebih meningkat minat dan semangat belajarnya justru pada semester lima, tapi penulis secara pribadi mengalami dan sedikit mempercai mitos yang sudah berkembang.

Setelah melalui dan mengalami berbagai hal, senang, susah, bahagia, pahit, manis, asin garamnya dunia kampus, dalam hati kini tersisa sedikit pertanyaan “Apa yang sudah saya dapatkan?” selama menyandang status mahasiswa itu udah bisa apa aja sih? udah ngerti apa aja? ada perubahan gak? Pertanyaan itu berkecamuk, mulai bercermin dan mengintropeksi diri, “Apakah saya berubah?”

Namun ada hal yang menarik, kita semakin dewasa mulai mencoba meraba kemungkinan yang akan terjadi di masa depan, kita bukan diri kita 2-3 tahun yang lalu, kini si manja telah dewasa, dipaksa oleh waktu yang dengan kasar seolah berkata “Urus dirimu sendiri”, tapi hal itu bukanya membuat kita takut justru disadari tidak disadari perlahan kita mencapai segala hal yang tak disangka.

Semester 5 hanyalah sebatas kelas bahwa kita telah menghabiskan waktu sebanyak itu hingga menyandang Mahasiswa semester 5, namun kedewasaan itu soal sikap bagaimana kamu mulai diposisikan pada ambang yang menuntutmu untuk ini dan itu, kita tak lagi bicara satu prioritas tapi kita bakal dihadapkan dan dipaksa bertarung dengan puluhan bahkan ratusan prioritas yang ada.

Mimilih fokus hanya pada satu prioritas siap menerima resiko yang ada, kecewa dan menyesal mungkin akan menjadi makan malam rutinan menjelang tidur, berkasurkan cita berbantalkan harapan, kepala kita perlahan bersandar padanya memaksa tidur lebih cepat, karena memang seperti itu, sebab tidur adalah amnesia terbaik untuk bisa lupa dari semua masalah dan beban, berharap esok pagi akan menemui hal yang lebih baik dan menghapus semua luka yang telah mencoreng hati.

Kuatlah, kita bukannya nahkoda yang berlayar tanpa peta, kita mengarungi luasnya samudera dengan membawa harapan hasil yang maksimal, itulah mengapa pelayaran ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara iseng, tapi sesuatu yang benar-benar kita persipakan dan itulah mengapa kita disini sekarang, kita berhasil sampai pada semester ini kita masih ada pada koridor jalan berdasarkan peta yang telah kita lukiskan dengan senyum penuh harap, meski kadang badai dan angin memalingkan kita pada rute yang tepat, hingga sekali-kali kita harus menutup layar agar angin tak memalingkan perahu kita terlalu jauh, melempar jangkar dan menunggu, bukannya menyerah, hingga hujan dan badai mereda langit cerah berseri kita kibarkan kembali layar dan melanjutkan perjalanan, yakin usaha sampai.

Oleh : Kurniawan Aziz (Sadboy)

Tinggalkan Balasan