Modus dan tulus sudah menjadi konsumsi umum yang sulit untuk dibedakan. Karakteristik yang hampir sama, karena kedua hal tersebut hadir hanya dalam hati manusia, dan hanya Allah serta dirinyalah yang mengetahui, apakah modus atau tulus. Antara modus dan tulus bukan hanya datang di kalangan anak muda saja, tidak hanya pula terjadi kepada perihal “percintaan” anak muda. Namun juga, datang di segala golongan manusia dan terjadi dalam segala aktivitas.

Modus juga termasuk kedalam golongan orang-orang munafik, karena dalam sejarahnya pada zaman Nabi Muhammad SAW, menggambarkan sekelompok pemuda yang ingin berhijrah namun bukan semata-mata menjalankan perintah Allah. Orang yang tulus berhijrah pasti hanya akan mengejar ridha Allah, namun bagi orang yang modus ada tujuan lain dalam hijrahnya. Dan tentunya keduanya pasti mendapatkan hasil yang berbeda, karena Rasul pernah bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiaporang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.”

Modus bukan hanya hal pencitraan dalam percintaan, namun juga pencitraan dalam pekerjaan. Misalnya, orang yang modus di dalam kelas demi mendapatkan perhatian guru atau dosennya, pasti akan kecewa ketika respon pengajar tersebut tidak sesuai dengan harapannya. Berbeda dengan orang yang tulus, setiap pekerjaannya, apapun yang ia kerjakan, ia pasti menghadirkan Allah dalam setiap aktivitasnya. Orang yang tulus cenderung akan lebih tentram kehidupannya di banding yang modus. Karena orang yang tulus, hanya mengharapkan ridha Yang Maha Pencipta, bukan pada ciptaan-Nya.

Orang yang tulus pasti akan bertawakal dan menyerahkan semua hasilnya kepada Allah. Karena Allah telah berfirman dalam QS. Hud ayat 6

وَمَا مِنۡ دَآ بَّةٍ فِى الۡاَرۡضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزۡقُهَا وَ يَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَا‌ؕ كُلٌّ فِىۡ كِتٰبٍ مُّبِيۡ

“Dan tidak satupun makhluk bernyawa di bumi melainkan semuanya dijamin oleh Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata. (Lauh Mahfudz).” (QS. Hud : 6).

Pencetus ataupun pelaku pertama yang melakukan modus yaitu iblis. Dalam sejarahnya, ketika allah menyerukan kepada seluruh makhluk untuk tunduk kepada manusia pertama yakni Adam AS. Hanya iblislah yang tidak patuh sehingga Allah menempatkannya di dalam Neraka. Iblis berusaha keras untuk berbuat modus kepada Adam dan Hawa agar kedua manusia itu terjerumus kedalam lembah kesalahan. Dan pada akhirnya iblis pun berhasil membuat Adam dan Hawa di hukum oleh Allah diturunkan ke bumi.

Maka dari itu, hati-hati dengan hati, jangan sampai kita terjerumus kedalam lembah kesesatan yang dimanipulasi oleh iblis dan kawan-kawan. Orang yang modus hidupnya tidak tenang dan penuh tekanan, karena orang yang modus tidak menggantungkan kehidupannya kepada Allah, dan melakukan segala aktivitas tidak karna Allah. Dengan kata lain, orang yang modus sama dengan orang munafik, orang yang arogan, dan dia tidak ikhlas.

Namun demikian, menghindari dari perasaan modus atau tidak ikhlas, itu sangat sulit, apalagi bagi orang yang ambisius. Akan tetapi, jika kita yakin dan berusaha tulus dengan memperkuat niat kita dan sering-seringlah introspeksi diri serta bertaubat, in syaa allah, Allah Maha Memutar balikkan hati. Perbanyak berdoa dan berdzikir agar kita terhindar dari sifat modus, munafiq, dan arogan.

Jadi, siapa nih yang masih suka modus??? Wkkwk

Tinggalkan Balasan