Nabi pernah memberi nasihat kepada kita melalui sabdanya tentang menikah dengan yang Sekufu, kalo bahasa anak gamers mah “selevel” katanya. Tapi yang dimaksud sekufu disini bukan hanya sebatas selevel dalam masalah harta jabatan ya, kaya di film-film FTV “Aku kaya, kamu miskin, kita langit dan bumi, bak air dan minyak mustahil bersatu!” Uwooo.

Tapi lebih dari itu, terpenting adalah sepadan dalam agama, sama-sama beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Serta sepadan dalam manjalani perannya sebagai seorang muslim. Sekufu ini penting, untuk bagaimana kita memilih pasangan yang baik dan cocok untuk kita, agar harmonisasi dalam membangun bahtera rumah tangga dapat berjalan dengan baik, sesuai yang diharapkan, dan diangankan. Emang harus ya?

Misal gini, biasanya khayalan perempuan “Kayanya enak ya nikah sama laki-laki soleh rajin ibadah, kalo bisa sih ustadz sekalian, biar bisa bahagia dunia akhirat” katanya, tapi tidak seindah nyatanya. “Loh kenapa? Emang gak boleh ya?” Boleh kok, boleh banget malahan, tapi yakin bakal semudah dan seindah itu?

Kamu mengharapkan laki-laki soleh, kira-kira kamunya udah solehah belum? Bukannya apa-apa, bukan gak boleh juga, cuman coba deh bayangin gini, kamu menikah dengan laki-laki soleh yang taat ibadah, namun saat itu kamu belum sesolehah itu. Tiba-tiba kamu kaget dengan segala rutinias suamimu yang diluar kebiasaan kamu.

Misalnya, kamu yang tiap hari bangun tidurnya bareng sama suara adzan subuh, tiba-tiba dibangunin jam dua malem sama suami solehmu, diminta untuk masak nyiapin santap sahur puasa sunnahnya. Dan jika suamimu rajin, maka minimal senin dan kamis kamu harus melakukan rutinitas itu tiap minggunya, masak, ngulek sambel jam dua malem hehe.

Belum lagi abis itu kamu disuruh setor hafalan Al-qur’an tiap hari menjelang subuh, padahal kamu jarang dan bahkan tidak pernah lagi melakukan itu semenjak sekolah diniyah dulu, coba bayangin, kaget gak tuh? Belum lagi kebijakan suamimu yang bertentangan dengan kebiasaan kamu, misalnya jangan keluar rumah tanpa izin, jangan kelewat solat Sunnah dan berbagaimacam rutinitas posiif lainnya.

Begitupun dengan laki-laki, yang selalu mengharapkan perempuan yang baik dan solehah. Tapi dia tidak siap dengan kesoleh-han istrinya, yang pada akhirnya membuatnya terbebani, merasa malu sendiri. Mungkin satu waktu istrimu bakal bertanya tentang persoalan-persoalan agama, dia bertanya padamu sebagai imamnya, bayangkan jika kamu tidak bisa menjelaskannya sama sekali?

Harapanmu tentang pasangan yang soleh/solehah Itu semua bagus, sangat amat baik malah, tapi saat semua hal baik itu belum siap kamu sikapi dengan baik, maka kamu akan merasa terbebani. Itulah mungkin yang ingin diamanati nabi “Menikah dengan yang sekufu” mungkin, meskipun keseharian kamu tidak sesoleh pasangan kamu, yaa minimal pernah dan tidak teramat asing buat kamu. Minimal tidak terlalu jauh, pasanganmu rajin solat, masa iya kamu gak pernah solat.

Cari pasangan itu yang menurutmu pas di angan. Kalo nabi menasihati kita untuk cari yang sekufu yang sefrekuensi, agar kita bisa menyikapi hubungan dengan baik dan saling mengerti satu sama lain.Kalo kata anak zaman sekarang mah “Harus saling memantaskan.” Berusahalah bukan hanya fokus mencari yang terbaik untuk dirimu sendiri, tapi fokus jugalah kamu untuk menjadi yang terbaik buat orang lain, biar fair.

Jika memang kamu keukeuh mau cari suami yang soleh banget atau bahkan seorang ustadz, boleh banget didukung seribu persen, tapi usahakan, kamu juga mulai membenahi diri, belajar jadi perempuan yang shalehah. Bukankah laki-laki yang baik juga akan mengharapkan perempuan yang baik?  Terakhir, pilihlah PASANGAN yang PAS, karena kalo gak PAS, mungkin hanya akan jadi ANGAN, hehe.

Oleh : Kurniawan Aziz (Praktisi Mageran, Mahasiswa Ilmu Hadis UIN Bandug)

Tinggalkan Balasan