Pada zaman ini banyak manusia yang terhimpit oleh kebutuhan diri sendiri, sehingga membuat mereka rela membuat apa saja sampai mau tak mau kebutuhan diri harus dipenuhi karena hal tersebut menjadi kebutuhan yang sangat penting. Manusia tak cukup untuk terpenuhinya sandang, pangan, dan tandang namun manusia perlu memenuhi kebutuhan rohani yang mungkin sering terlupakan oleh manusia itu sendiri. Manusia terlalu fokus pada kebutuhan jasmaninya saja. Semua waktu habis oleh kesibukan yang sia-sia. Coba lihat manusia perkotaan, mereka sibuk mencari kebutuhan jasmani saja hanya untuk memenuhi perutnya. Menenuhi saku belanjaan serta memenuhi keinginan yang tak ada ujungnya, manusia perkotaan rela berangkat pagi pulang malam sampai tak kenal dengan namanya sinar matahari. Sekali lagi hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhan jasmaninya saja.

Ada pula manusia pendesaan yang bekerja keras demi sesuap nasi. Mereka sibuk dengan pekerjaannya di ladang atau di pesawahan, berangkat pagi sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam. Mereka terus berkerja mengolah tanah tak peduli hujan serta panas demi mendapatkan penghasilan yang mereka inginkan. Walaupun tidak semua manusia perdesaan bekerja mengolah lahan namun kebanyakan yang mengolah tanah.

Dari dua tipe manusia perkotaan serta pendesaan sama memenuhi kebutuhan kalau di bandingkan dari dua manusia itu perkotaan biasa kerja dengan yang pasti saja tidak mau berkerja tidak pasti yang dimaksud pasti itu mereka berkerja dengan gaji yang pasti jumlahnya. Sedangkan manusia pendesaan mereka bekerja tidak pasti penghasilannya, dimana dia berkerja keras mengolah lahan hasilnya pun akan memuaskan ketika sudah masa panen mereka bisa mendapatkan penghasilan dua kali lipat dari manusia yang bergaji serta bisa juga dibawah manusia yang bergaji, jadi kerja manusia pendesaan memiliki hasil yang tidak pasti.

Manusia akan terus berlombah-lomba untuk mendapatkan hasil yang memuaskan demi terpenuhinya kebutuhan jasmani lupa akan kebutuhan rohani yang sebenernya itu sangat diperlukan diisi karena ketika kita sudah terpenuhi kebutuhan jasmani tidak akan seimbang seakan akan kita akan gila oleh kebutuhan jasmaniah saja namun ketika rohaninya terisi maka akan seimbang ketika kita dalam posisi tidak punya apa-apa, jadi keduanya harus seimbang.

Maka dari itu sebab dari semuanya adalah Bersyukur, bersyukur bisa diartikan sebagai bentuk mengingat-ingat nikmat, kemudian menampakkan nikmat tersebut, serta menggunakannya sesuai dengan keinginan pemberi nikmat, Allah Swt. Maka dalam konteks kali ini, syukur dapat dikualifikasikan menjadi tiga macam. 

Pertama, syukur dengan hati. Yakni mengingat-ingat dan merenungkan nikmat Allah, dan menyadari bahwa nikmat tersebut sampai kepadanya sebagai curahan kasih sayang Allah kepada dirinya. Bukan semata-mata karena kekuatan dan usahanya sendiri.

Kedua, syukur dengan lisan. Yakni dengan memuji dan menyanjung sang pemberi nikmat, minimal dengan ucapan Alhamdulillah, yang berarti menyampaikan puji syukur kepada Allah atas karunia tersebut, dan tidak menisbatkan karunia kepada selain Allah.

Ketigasyukur dengan anggota badan. Yakni menggunakan nikmat-nikmat itu dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kehendak Allah Swt, dan diarahkan untuk semata-mata meraih keridhaan Allah Swt 

Dengan demikian, orang yang bersyukur adalah orang yang hatinya penuh dengan mahabatullah, yakni rasa cinta kepada Allah (atas nikmat-nikmatnya). Lisannya sibuk dengan puji-pujian dan pengakuan atas karuniaNya, serta anggota badannya sibuk dengan aktifitas-aktifitas ketaatan kepada Allah.

Oleh: Fadli Munzali (CEO Faqih Farm)

Tinggalkan Balasan