Tahun ini merupakan kedua kalinya umat Islam di seluruh dunia melaksanakan salat idul fitri di tengah pandemi Covid-19. Setelah pemerintah melalui Kementrian Agama menetapkan bahwa Idul Fitri 1442 H jatuh pada Kamis, 13 Mei 2021 M.  Kondisi yang sulit dan penuh ujian tentunya. Begitupun dengan warga Muhammadiyah di Kampung Pojok, Cikembulan, Kadungora Garut. Ranting Muhammadiyah yang lokasinya paling ujung di Kecamatan Kadungora,dan terletak tepat di kaki gunung Haruman. Meski di tengah pandemi warga Muhammadiyah tetap melangsungkan salat secara berjamaah di lapangan terbuka. Hal tersebut tentu berdasarkan pertimbangan bahwa di wilayah ini kondisinya relatif aman dari serangan Covid-19.

Jamaah yang berkumpul di lapangan wakaf warga Muhammadiyah Pojok sejak pagi sudah memadati lokasi tersebut. Menurut H. Jamiludin, seorang tokoh Muhammadiyah Pojok, tanah wakaf tersebut tercatat sudah 3 kali digunakan untuk salat idul fitri terhitung sejak 2019. Penulis yang juga merupakan warga Muhammadiyah Pojok merasakan betul manfaat tanah wakaf tersebut hingga deti ini. Bukan hanya warga Muhammadiyah, namun seluruh warga Pojok juga ikut merasakan manfaat tanah wakaf tersebut karena sehari-hari sering dijadikan lapangan sepakbola oleh para pemuda sekitar.

Adalah Ustaz Opik Taufik, S.Ag yang merupakan penceramah sekaligus imam idul fitri 1442 H di Ranting Muhammadiyah Pojok. Juga merupakan guru penulis ketika penulis bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) maupun di Madrasah Diniyah (sekolah agama) sejak 2005-2011-an. Ia merupakan ketua ranting Muhammadiyah Pojok saat ini. Ceramah-ceramahnya dinilai oleh warga sangat tegas terutama bila berbicara tentang ketauhidan. Dan memang penulis dalam hal ini sepakat setelah sering mendengar ceramahnya baik saat Jum’atan maupun pengajian biasa.

Tema yang diangkat dalam khutbah idul fitri 1442 di Kampung Pojok yaitu tentang “Pentingnya Muhasabah”. Tema yang menurut penulis sangat relevan dengan situasi dan kondisi dewasa ini. Apalagi kita telah 2 kali berlebaran dalam kondisi pandemi Covid-19. Bukan hanya itu, tema ini bisa dibilang relevan karena bisa menjadi renungan kembali mengenai serangkaian ibadah di Bulan Ramadan yang baru saja berlalu. Tema “Pentingnya Muhasabah” dalam idul fitri di Ranting Muhammadiyah Pojok sekaligus menjadi catatan khusus setiap pribadi jama’ah yang hadir pada saat itu.

Meurujuk keterangan penceramah, muhasabah bermakna megoreksi atau mengevaluasi. Akar katanya yaitu dari bahasa Arab, hasaba, yuhasibu, hisaaban yang artinya menghitung. Dalam hal ini muhasabah memiliki arti yaitu agar setiap diri umat muslim selalu meghitung atau mengevaluasi amal perbuatan yang pernah dilakukan.

Baik amal baik maupun amal buruk. Menurutnya amal baik harus dimuhasabah dengan tujuan agar amal baik tersebut sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Dalam prakteknya, muhasabah paling tidak dilakukan pada tiga kondisi yaitu muhasabah qoblal amal (mengevaluasi diri sebeleum beramal), muhasabah ‘indal amal (mengevaluasi diri ketika beramal) dan muhasabah ba’dal amal (mengevaluasi diri setelah beramal).

“Silahkan kita koreksi amal perbuatan kita selama Bulan Ramadan dari mulai puasanya, tarawihnya, tadarrusnya, tafahhum al-Qur’an-nya, zikirnya, istigfarnya, zakat fitrahnya, apakah sudah sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulnya? Bila sudah sesuai, sudah terkoreksi, terevaluasi dan teridentifikasi kelemahan dan kekurangannya, maka insyaAllah mudah-mudahan kita semua tahun depan  masih diizinkan dan diberikan umur oleh Allah, sehingga kita masih bisa melaksanakan ibadah puasa tahun depan dengan sempurna” Ustaz Opik menuturkan.

Menurutnya, bila setiap hari sikap bermuhasabah ini dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, maka setiap individu umat muslim pasti akan mempunyai sikap tawadu (rendah hati) di dalam dirinya. Sehingga jauh dari sikap sombong baik sombong karena ilmunya, pangkatnya jabatannya maupun sombong karena sikap lungguh-nya. Karena orang tersebut menyadari bahwa ada yang lebih hebat dari dirinya yaitu tiada lain dan tiada bukan adalah Allah Swt, Sang Maha Pencipta jagad raya ini.

Ustaz Opik juga menjelaskan bahwa di hari akhirat nanti setiap orang akan diberikan buku catatan amal perbuatan selama ia hidup di alam dunia ini. Hal tersebut didasarkan pada beberapa keterangan di dalam al-Qur’an. Manusia juga disuruh membaca buku catatanya sendiri pada saat itu. Yang buruk perbuatannya pasti merasa berat dan takut bila melihat amal perbuatannya selama ia hidup di dunia.

Menjelang akhir khutbah, Khotib mengatakan bahwa harapan kita saat ini, setelah melewati bulan suci Ramadan, ada bukti hasil dari latihan diri selama bulan Ramadan tersebut. “Semoga ada hasil setelah bulan suci Ramadan, sehingga hari ini kita benar-benar suci seperti bayi yang baru lahir, harapan kita semua mudah-mudahan setelah kita berpisah dengan Ramadan ada bukti hasil dari riyadhah selama sebulan (puasa). Hakikatnya, ibadah puasa itu untuk meningkatkan dan menguatkan ketauhidan dalam diri kita” Lanjut Khatib pagi itu.

Tinggalkan Balasan