Ketika itu kafilah dagang Abu Sufyan lolos dari cegatan kaum muslimin sehingga ia dan rombongannya dapat sampai ke Syam. Abu Sufyan pun menginginkan pengamanan ketika ingin kembali ke Makkah. Karena kafilah tersebut membawa banyak barang dan harta yang menguntungkan. Akhirnya, Abu Sufyan menyewa seorang utusan yang bernama Dhom Dhom bin Amr untuk meminta bantuan pasukan musyrikin yang berada di Makkah.

Dhom Dhom bin Amr setelah diarahkan oleh Abu Sufyan untuk menuju Makkah akhirnya pergi dengan memacu kudanya. Sebelum ia sampai ke lembah Makkah, Dhom Dhom bin Amr bermuslihat dengan memotong hidung untanya kemudian darahnya dicecerkan di bajunya dan bajunya pun dirobek-robek. Tak lupa ia mengucapkan alghoust-alghoust yang berarti “tolonglah-tolonglah”. Sehingga memperlihatkan seolah-olah kafilah dagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan telah diserang oleh kaum muslimin dan sangat genting untuk segera dibantu.

Melihat aksi Dhom-Dhom yang menunjukkan sesuatu yang genting tersebut, Abu Jahal sebagai fir’aun hadzihil ummah, pemimpin kaum musyrikin pun naik pitam karena terprovokasi. Ia segera mengerahkan pasukan kaum musyrikin Makkah. Ajakan Abu Jahal kepada kaumnya akhirnya berhasil mengumpulkan pasukan yang cukup banyak yakni sebesar 1200 hingga 1300 pasukan untuk siap tempur di Badar.

Pasukan kaum musyrikin yang dipimpin Abu Jahal kala itu dalam keadaan yang sangat siap perang, kondisi senjata mereka sangat lengkap begitupun kebutuhan logistik. Mereka pun berangkat dari Makkah dengan makasud menyelamatkan hartanya yang disangka diburu dan  diserang oleh pasukan kaum muslimin.

Namun, ditengah perjalanan pasukan musyrikin Abu Jahal ternyata bertemu dengan kafilah dagang Abu Sufyan dengan keadaan selamat tanpa ada satu orang pun yang berkurang. Artinya disini adalah apa yang menjadi tujuan atau esensi pasukan Abu Jahal untuk menyelamatkan kafilah dagang Abu Sufyan telah terpenuhi. Kemudian, Abu Sufyan pun menyarankan kepada Abu Jalal dan pasukannya untuk kembali ke Makkah.

Tetapi, permusuhan dan kebencian yang mendarah daging dalam diri Abu Jahal akhirnya membuat dirinya kalap sehingga tetap melanjutkan perjalanan menuju Badar. Mereka membawa tabuhan-tabuhan, logistik yang melimpah, dan juga biduan-biduan wanita untuk memberi semangat pada mereka. Dari 1200-1300 orang yang sebelumnya telah siap menuju medan perang, sebagian pasukan yang jumlahnya sekitar 200 atau 300 orang mengikuti saran dari Abu Sufyan untuk kembali ke Makkah.

tercatat bahwa pada saat perang Badar kondisi kaum muslimin pada awalnya secara medan sangat strategis, tetapi dalam kondisi logistik sangat berkekurangan. Kemudian, ada salah seorang sahabat yang mengajukan kepada Rasulullah untuk pindah tempat sehingga mendapatkan logistik yang melimpah berupa sumur. Sehingga, saat ini keadaan kaum pasukan kaum muslimin adalah unggul dalam segi logistik tetepi dalam konsidi medan yang kurang baik, tetapi inilah yang dipilih Rasulullah ketika itu.

.

Berawal dari provokasi tersebutlah akhirnya pecah perang badar pecah, diawali dari penyerangan pihak musyrikin Mekkah yang dipimpin  langsung oleh Abu Jahal. Di pertempuran perdana tersebut Allah menganugerahkan kemenangan di pihak kaum muslimin, walaupun jika menggunakan logika sangatlah sulit untuk memenangkan pertempuran yang mana jumlah pasukan lawan jauh lebih besar hingga tiga kali lipat. Tetapi iman adalah kunci kemenangan dan kunci tersebut ada di tangan kaum muslimin. Mungkin dari pihak musyrikin merasa unggul dalam segi persenjataan dan pasukan tetapi itu semua tidak cukup jika di sisi lawan pertolongan Allah sebagai kunci kemenangan berpihak kepadanya. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan