Bahagia dan kecewa ialah satu paket yang akan selalu menghiasi setiap sudut hidupmu. Hatimu akan terasa sakit, berduka, dan bersedih ketika kebahagiaan direnggut darimu. Ketika kamu sedang merasakan bahagia karena jatuh cinta dengan seseorang, kemudian tanpa disangka dia meninggalkanmu tanpa alasan; jiwamu akan terkubur bersama pilu.

Olahlah kekecewaan menjadi energi luar biasa bagi jiwa, tersebab angkara murka hanya akan mengancam hidupmu, putus asa hanyalah penyiksa jiwa, dan kecewa menciptakan amarah di dalam dada.

Kalau tak bisa mengolah kekecewaan, saya jamin kamu menjadi kehilangan arah hidup, matinya semangat, dan kreativitas pun terhambat. Kita akan malas melakukan apa-apa, karena kecewa ditinggalkan seseorang hingga menyiksa rasa dan jiwa; bahkan membunuh semangat hidupmu. 

Islam memberikan panduan bagimu untuk menghadapi kekecewaan dengan iman dan takwa; dengan amal dan doa; bahkan Islam akan mengobati luka di jiwa hanya dengan bermujahadah kepada Allah.

Ketika kamu kecewa karena cinta tak selalu berlabuh dalam hidup, tahukah bahwa kita disuruh untuk mendekati Al-Quran, karena dengannya hati gundah akan menjadi tenang, jiwa yang gelisah menjadi tentram, dan qalbu yang pilu menjadi merdu? 

Bacalah Al-Quran, cintai kandungannya, dan amalkan ajarannya; insyaallah kekecewaan di batinmu akan terkikis habis, bahkan akan terobati hanya dengan membaca firman Allah. Malulah bila kamu mengeluh kepada manusia karena hanya manusialah yang mendengarkan dengan angkuh, memberi solusi dengan kepentingan, dan menciptakan kerumitan masalahmu.

Setelah kamu ditinggalkan, tak dipedulikan lagi, dan tak pernah mendapatkan perhatian dari mantan; bersyukurlah! Karena dengannya, hidupmu menjadi lebih dekat dengan Allah dalam kesendirian. Biarlah keputusannya itu membuat kita teguh berdiri dan kembali peduli pada sandaran hati yang abadi, yakni Allah Maha Kasih dan Maha Penyayang.

Ya Allah menjalani kenyataan ini betapa selalu merasakan sakitnya tuh di sini. Di dada ini. Kamu berbisik sendu di hati, Kenapa orang yang selalu aku cintai justru teganya menyakiti hatiku.

Kamu putus asa dan menyalahkan hal itu sebagai hukuman dari Tuhan; padahal boleh jadi putus cintamu itu lahirkan berkah untuk masa depanmu.

Pernahkah kamu merasa kecewa karena disakiti hati oleh orang yang dicintai? Kamu kecewa oleh si dia yang selalu didambakan, diela-ulukan, dan dipandang sebagai orang yang sempurna dalam hidup. Tentu sakit sekali rasanya. Sedih pasti kamu rasakan. Harapanmu yang melambung tinggi dipenuhi bunga-bunga indah, tetiba saja hancur lebur seketika. Sesak rasa di dada dan pikiran.

Itulah yang dinamakan kekecewaan akibat dari kegagalan yang kamu alami. Lantas, kenapa kegagalan dalam cinta selalu membuatmu kecewa?

Itu disebabkan kekasih tercintamu diposisikan sebagai penjaga, penentram jiwa, dan pelindung hidup. Dengan anggapan ini, kamu pun menjadi setia dan berpikir bahwa dia pun akan selalu setia; tapi ternyata, oh, ternyata, dia malah memutuskanmu. Hatimu pastinya diliputi kecewa, sebab kamu tak siap menerima kenyataan itu terjadi dalam kisah hidupmu.

Kamu kecewa dan sedih, karena kesetiaanmu dikhianati, ditelikung dari belakang, dan janji dengannya dilanggar. Bertahun-tahun kesetiaanmu dibohonginya; oh, seperti kecewa dan sedihnya si Majnun yang mencintai Laila meskipun bertepuk sebelah tangan.

Kecewa dan sedihnya karena pengkhianatan tidak saja dialami kamu; tetapi menimpa juga orang-orang besar di dunia. Mendiang presiden RI pertama, Soekarno, pernah kecewa karena cintanya ditolak oleh seorang Noni Belanda karena ia berasal dari kalangan pribumi.

Kecewa ialah hal yang wajar kamu rasakan karena kita diberikan anugerah perasaan oleh Allah Swt. Siapapun yang jiwanya sehat dan normal akan bersedih hati ketika mendapatkan kekecewaan. Namun, ketidaksiapan jiwa membuat seseorang hilang keseimbangan ketika sedang berjalan; ia pun selalu melangkah penuh lamunan. Jiwanya tertekan hingga tak sedikit juga teman-teman yang masih remaja mencari jalan pintas menuju alam keabadian dengan bunuh diri.

Kisah cintamu dan tak boleh disesali berkepanjangan. Tataplah masa depan, lupakan masa lalu karena yang terpenting dalam hidup ini ialah memikirkan hari ini dan merancang masa depan.

Jika kenyataan memang sudah tak seirama dengan harapanmu sendiri, janganlah menggantungkan harapan padanya, tetapi gantungkanlah pada Allah. Sudah saatnya kamu bangkit meninggalkan perasaan semu yang menipu. Berpikir bening dalam hening suasana. Itu yang kamu butuhkan sekarang ini.

Dan coba bertanya pada dirimu sendiri, benarkah semuanya ini akan terjadi selamanya?

Oh tentu saja tidak. Itu hanya sebuah babak perjalanan hidupmu yang masih panjang. Kamu sedang dituntun perlahan menuju jalan hidup yang makin matang. Titik-titik kisar perjalanan hidupmu adalah batu pijakan penguat diri. Itulah susunan bangunan yang akan mengokohkan kedewasaanmu.

Kesedihan kamu itu sesuatu yang biasa. Sudah begitu alurnya hidup. Kita orang beriman yang selalu dihadapkan pada kerikil-kerikil ujian kehidupan. Itu bukan berarti kamu dalam kemalangan. Tidak, itu cara Tuhan untuk membuatmu tangguh.

Tuhan menyatakan, “Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak bersedih hati, yaitu mereka orang-orang yang beriman dan mereka senantiasa bertakwa. (QS. Yunus [10]: 62-63).

Jadi bila penyebab kesedihanmu hanya soal urusan diputusin pacar, dimusuhin sahabat dan lainnya. Kamu jangan terlalu larut dalam rasa sedih. Sebab ada yang lebih layak kamu sedihkan. Apa itu? Jika dirimu mengalami kemerosotan iman, kekalutan amal, dan membangkang perintah serta larangan-Nya.

Tinggalkan Balasan