Berbagai cara penyambutan pun dilakukan sebagai wujud suka cita dan kegembiraan datangnya ramadhan, dari mempersiapkan fisik jasadiyah kebendaan materil duniawi, seperti mengganti warna cat pagar dan membersihkan setiap sentimeter sudut-sudut rumah sampai rapi, serta membersihkan kamar-kamar yang sudah setahun tidak dibersihkan, mengganti gordeng jendela, serbet kasur dan segala jenis kegiatan duniawi lainnya yang mewarnai kehangatan dan antusiasme setiap orang dalam menyambut bulan suci ini.

Tidak hanya sebatas segala rutinitas dramanitas duniawi itu saja, setiap orang juga mulai membenahi hati, pikiran dan perkataannya yang sesaat mungkin sering membuat hati tergoncang oleh sifat iri, ujub dan takabur, pikiran yang kerap kali berburuk sangka (suuzon), sampai lisan yang tidak pernah absen untuk menceritakan keburukan serta aib orang lain. Mulai dari sini setiap orang akan menjaga hati, pikiran dan perkataannya agar tidak tergelincir pada jurang kemaksiatan yang akan menjadikannya bergelimang kesalahan dan dosa sehingga merusak pahala puasanya.

Tapi sadarkah kita, bahwa hal-hal semacam itu justru malah membuat kita terlihat seperti seorang aktor drama dalam sebuah film FTV? Loh, kenapa bisa seperti itu? Sabar, jangan tersulut dulu api cemburu, eh api suuzon hehe. Coba sejenak kita merenung, jika perlu berdiri di depan cermin untuk sejenak mengenal diri kita sendiri.

Kita coba jujur pada setiap diri masing-masing. Siapa kita dan seperti apa kita sebenarnya? Benarkah kita yang berwajah dan berperangai manis di bulan Ramadan adalah diri  kita yang sebenarnya? atau diri kita yang sedang bersandiwara memerankan tokoh protagonis dalam sebuah drama? Siapakah yang tiba-tiba rajin beribadah, yang tidak terlepas seorang perempuan dari jilbab panjang dan mukenanya , laki-laki dari sarungan dan baju kokonya? Diri kitakah itu? atau itu hanya sekedar watak dan prilaku orang saleh yang sedang kita perankan karakternya dalam sebuah sandiwara panggung pementasan? Seperti apa kita sebenarnya? Berjuta pertanyaan tiba-tiba muncul didalam benak penulis, dan mungkin pertanyaan-pertanyaan itu sekarang sudah menjadi milik kalian juga, pembaca.

Tanpa sedikit pun mengurangi rasa bangga dan bahagia karena melihat mayoritas kaum muslimin meningkatkan kadar keimanan dan kesalehannya, bukan untuk mengucilkan siapapun atau menyinggung hati siapapun, tapi sekedar hanya ingin mengajak setiap orang dengan kebanggaan dan rasa syukur yang sama dengan yang saya rasakan,  karena  masih berkesempatan untuk kembali menikmati jamuan Ramadan berupa janji pahala yang berlipat ganda dari setiap amal saleh yang dilakukan, untuk sama-sama mengintroveksi kinerja kita masing-masing setelah Ramadan kelak berlalu. 

Analogi sederhana yang mungkin bisa mewakili kita saat ini. Bayangkan ketika kita sedang berada di rumah dan kita mendapat kabar bahwa pejabat penting akan bertamu ke rumah kita, kira-kira apa yang akan kita lakukan? Sudah barang pasti karena senang luar biasa, merasa terhormat karena kedatangan pejabat penting, kita akan mulai membenahi rumah yang berantakan agar bersih dan rapi, halaman di sapu sampai tak satupun daun berjatuhan, dan tak kalah penting yaitu membenahi diri sendiri. Mulai mempersiapkan pakaian terbaik, bagi perempuan mengenakan pakaian yang amat sangat sopan berkerudung rapi menutup setiap lekuk tubuh auratnya, agar terlihat anggun dan punya sopan santun di hadapan pejabat penting. Mulai belajar berkata-kata yang lembut dan belajar bertatakrama.

 Bolehkah melakukan hal semacam itu? Ya! sangat boleh. Tapi yang jadi permasalahan adalah, kenapa kerapihan, kesopanan, kebersihan, kerendahan hati itu tidak kita jaga dan pelihara terus, bahkan meskipun tamu telah berlalu? Bagi perempuan, kenapa tidak mempertahankan busana rapi nan sopan itu terus melekat pada dirinya? Bukankah sangat bagus jika berpakaian rapi, bersih, berperilaku baik di hadapan semua orang dan dalam kondisi apapun? Kenapa harus menanggalkan kembali jilbab yang sudah menutup rapi rambut dan tubuh hanya karena tamu penting telah pergi? Kenapa hanya dihadapan pejabat penting saja mau berperilaku seperti itu? Bukankah itu hanya sandiwara, karena bukan dirimu yang sebenarnya? Alangkah baiknya jika berperilaku baik itu bukan hanya sebatas sandiwara momentum tertentu, tapi terus melekat menjadi perilaku kita yang tak kenal ruang dan waktu. Begitu pun dengan rutinitas kita di bulan Ramadan, kenapa tidak kita pertahankan rajinnya kita baca Alquran, shalat lima waktu beserta sunnahnya, bersedekah, berkata baik  dan amal-amal kebajikan lainnya, bahkan meskipun setelah ramadan berlalu.

Saya pernah mendengar seorang ustaz menerangkan perihal puasa, katanya berpuasalah kalian sebagaimana ulat berpuasa, ulat yang awalnya berpindah tempat hanya dengan merayap, lamban, menjijikkan, tidak enak dipandang bahkan gatal bila dipegang. Tapi setelah dia berpuasa di dalam kepompong menahan lapar, haus. Selang beberapa waktu dia keluar dengan wujud yang indah dipandang jauh dari kata menjijikkan, derajatnya naik dari yang tadinya merayap di bawah, lamban, kini bisa terbang dan pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan sangat mudah, dan kini rasa gatalnya berkurang bila dipegang atau bahkan tidak gatal sama sekali, ulat akan terus mempertahankan keindahannya sebagai kupu-kupu sampai dia mati tanpa pernah sedikit pun berpikir akan menjadi ulat lagi, dia tidak bersandiwara perihal keindahannya, luar biasa si ulat.

Tapi janganlah kalian berpuasa seperti ular katanya. Ular juga berpuasa menahan diri dari nafsu hewaninya, tapi apa yang didapat ular dari puasanya, dia hanya mengganti kulit luarnya saja menjadi lebih indah, baru dan terlihat muda. Tapi sifat pribadinya sama sekali tidak berubah, ular tetap saja menggigit, meracuni, dan memangsa makhluk hidup lain yang lebih lemah darinya. Sungguh hasil dari puasanya tidak lebih hanya sekadar mengganti baju (kulit) saja.

Maka alangkah bagusnya jika kebaikan kita, kesalehan kita, rajinnya kita di bulan Ramadan selama satu bulan penuh menjadi kebiasaan yang berulang sehingga menjadi habitat yang akan terus melekat dalam diri kita, baik pada saat bulan Ramadan maupun pada bulan-bulan yang lain, kita menjadi pribadi yang baru yang lebih baik daripada pribadi kita sebelumnya, seperti ulat tadi. Sehingga rajinnya kita beribadah di bulan Ramadan, menjadi baik dan salehnya kita, tidak seperti sedang bersandiwara.

Wallahua’lam~

ditulis oleh: Founder Pangajian Biasaa, Kurniawan Aziz (@azriez.in). 

Tinggalkan Balasan