Adanya sosok seorang pemimpin merupakan hal yang sangat penting, pemimpin merupakan orang yang berdiri paling depan, beteriak paling keras memimpin dan mengarahkan orang-orang untuk mencapai tujuan yang sama. Pentingnya mengangkat seorang pemimpin ini juga pernah disampaikan Rasulullah SAW dalam hadisnya, dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah mereka berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

 إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ في سَفَرٍ فَليُؤَمِّرُوا أَحَدَهُم 

“Apabila ada tiga orang hendak keluar dalam sebuah perjalanan safar, maka hendaknya mereka mengangkat salah seorang dari mereka menjadi pemimpin dalam safarnya”                ( HR. Abu Dawud dan hasan oleh al-Albani dalam kitab as-Shahihah 3/31 )

Sabda nabi tersebut mengindikasikan tentang betapa pentingnya memilih seorang pemimpin, jangankan dalam ranah cakupan yang luas seperti negara, sekalipun dalam safar yang kita anggap sederhana nabi memerintahklan kita untuk mengangkat seorang pemimpin.

Namun dalam perjalanannya, pemimpin yang diangakat/dipilih dengan tujuan untuk membantu semua orang mencapai tujuan bersama, kebahagiaan, kesejahtraan dan segala macam cita-cita yang diangan-angakan nyatanya tidaklah sesederhana yang dibayangkan.

Berbagai polemikpun bermunculan, protes kaum/masyarakat yang merasa tidak puas dengan kebijakan pemimpin tersebut, merasa diintimidasi oleh kebijakan yang dibuat dan berbagai macam permasalahan lainnya. Alih-alih mencapai kedamaian, kesejahtraan bersama, interaksi antara pemimpin dan rakyatnya justru malah menimbulkan kegaduhan. Pertanyaanpun kini mucul, apakah permasalahan-permasalahan yang muncul itu murni seratus persen kesalahan pemimpinnya?

Disini penulis mencoba memaparkan pendapatnya, bahwa bagi penulis, pemimpin itu akan selalu pantas bagi rakyatnya. Pemimpin yang baik akan memimpin rakyat yang baik, pun pemimpin yang buruk akan memimpin rakyat yang buruk. Mengutip perkataan Ust. Riyadh Bajrey dalam salah satu ceramahnya, beliau mengatakan bahwa segerombolan tikus tidaklah mungkin bahkan mustahil memimpin segerombolan singa, sebaliknya mustahil seekor singa memimpin segerombolan tikus.

Jadi bagi penulis, bahwa segala macam problematika yang terjadi tadi tidaklah selalu murni datang dari pemimpin tersebut. Karena pemimpin adalah cerminan rakyatnya, sebab pemimpin lahir dari masyarakat juga, saat masyarakatnya buruk maka akan lahir pula pemimpin yang buruk dengan kesadaran diri yang buruk. Seperti halnya kampung para maling yang akan dipimpin juga oleh seorang maling, kampung orang-orang yang bermental lemah akan melahirkan juga pemimpin yang bermental lemah.

Jika kita mau melihat jauh kebelakang bagaimana sejarah orang-orang terdahulu, ambil contoh kisah Bani Isra’il. Bani Isra’il adalah kaum yang sepenjang sejarah tercatat sering dan selalu dipimpin oleh orang-orang yang baik ─oleh para nabi─ bahkan dipimpin oleh orang sekelas Nabi Musa As. lalu apakah hal itu kemudian menjadikan kaum Isra’il itu baik? Tidak! Ingat, kesalahan tidak mesti selalu datang dari pemimpinnya, bisa saja rakyatnya. Kok bisa?

Kurang baik apa Nabi Musa? tapi kenapa mayoritas kaumnya tetap durhaka? Bukan karena Nabi Musa kurang bijak, bukan karena kurang pintar, bukan karena kurang baik, tapi memang demikian Singa tidak akan cocok memimpin tikus, bukan salah singa, tapi salah tikus yang tidak mau merubah mentalnya untuk menjadi sebaik dan sekuat singa.

Sederhananya, jika kita mengingankan pemimpin yang baik, yang hebat, yang jujur maka mulailah dari individu masyarakat yang melatih mentalnya, agar pantas seorang pemimpin yang baik bagi mereka. Jika rakyatnya hanya bisa protes, mengkritisi tanpa memberikan solusi maka bukan kesejahtraan yang akan dicapai, melainkan kegaduhan.

Imam Ali, Ali Bin Abi Thalib ra. pernah dikritisi tatkala beliau memegang tampuk kekuasaan sebagi khalifah kaum muslimin, “Wahai Ali, kenapa pada zaman kepemipinanmu banyak fitnah? sementara zaman Abu Bakar dan Umar tidak?”, Imam Ali pun menjawab dengan cerdas “Karena pada masa Abu Bakar dan Umar, rakyatnya adalah orang-orang sepertiku, tapi saat aku yang memimpin, rakyat yang aku pimpin adalah orang-orang sepertimu”.  Pantas.

Abdul Mallik Ibnu Marwan salah seorang  khalifah Bani Umayyah, beliau pernah dikritisi rakyatnya, Khalifah Abdul Malik Ibnu Marwanpun menggapi dengan berkata “Maukah kalian melihatku menjadi seorang pemimpin yang sama seperti Khalifah Abu Bakar dan Umar?” rakyatnyaun dengan berapi menjawab “Iya tentu”, lalu khalifah berkata “Kalau begitu, maukah kalian menjadi rakyat yang sama seperti rakyatnya Abu Bakar dan Umar? sehingga pantaslah aku memimpin kalian seperti halnya Abu bakar dan Umar memimpin rakyatnya”

Terakhir yang ingin penulis sampaikan, jika kita senantiasa menginginkan pemimpin yang baik, maka mulailah dengan membentuk pemimpin yang baik itu dari lingkungan yang baik, lingkungan yang baik itu terbentuk dari pribadi tiap individu yang baik, maka secara otomatis harusnya pemimpin yang baikpun akan lahir dari rahim yang baik. Jangan jadi rakyat yang hanya bisa protes dan mengkritisi tanpa memberi solusi dan ikut serta menyelesaikan permasalahan tersebut. Sungguh, dengan demikian harmoni akan terjalin dengan indah.

~Walalhu’alam

-Penulis menulis artikel ini tidak dengan hati yang gembira, melainkan dengan hati yang remuk-

(Ditulis oleh Kurniawan Aziz. Mahasiswa mageran, jurusan Ilmu Hadis UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Tinggalkan Balasan