Belakangan ini saya dibuat gerah oleh aktivitas media sosial, terutama beberapa berita yang menyudutkan salah satu pihak dengan mendiskriminasi mereka tanpa ada riset yang komprehensif. Selain itu, pemberitaan semakin tabu ketika urusan beberapa para artis jauh lebih penting dibandingkan isu-isu sosial di akhir tahun ini, lebih tepatnya juga di akhir pandemi Covid-19, kenapa saya bilang akhir dari pandemi? Karena vaksin sendiri sudah ditemukan dan akan didistribusikan secara massal. Kejenuhan akibat pandemi mengurangi aktivitas ngopi bersama kawan atau biasa disebut dengan kongkow, meskipun budaya ngopi anak muda masa kini masih terus dilakukan dengan mengindahkan protokol kesehatan, nyatanya konsumen coffe tetap turun drastis akibat pandemi.  selain itu apa sih yang selalu jadi perbincangan jika kita sedang mengopi?

Mari kita intip obrolan pemuda di pusat perbelanjaan yang ternama atau di Coffee Shop, saya penikmat kopi mulai tahun 2015 hampir semua coffe yang ada di Indonesia sudah saya cicipi termasuk kopi Lampung, Gayo Aceh dan Toraja Makassar, semua punya rasa khas masing masing karena ditanamkan di ketinggian berbeda. Selain itu, semenjak berkuliah di Bandung saya juga menjadi coffe hunter di setiap cafe, mungkin tercatat 20an café sudah saya jajaki hanya untuk mencoba menu terenak di cafe tersebut dan mengintip obrolan pemuda yang dilegitimasi oleh kata “milenial”. Jadi teringat film filosofi kopi dimana pemeranya Ben dan Jody berdebat hebat saat ingin membuka cafe shop.

Dibenak Ben bahwa cafe sangat cocok untuk diskusi hangat membicarakan banyak persoalan dan permasalahan, bagi Jody membuat cafe untuk bersantai bersama kawan dan keluarga adalah cafe yang paling ideal. Dalam survey saya dengan skala kecil, jarang sekali pemuda yang membicarakan permasalahan dan persoalan jarang yang sanggup untuk berdiskusi sampai larut membicarakan pemikiran Marxis dan lain-lain. Sebaliknya, yang saya sesalkan ketika berkumpul justru memainkan game online, itu hanya survey kecil saya jangan dijadikan rujukan karena saya bukan lembaga survey. Di zaman yang serba cepat dunia seakan berlari apalagi di umur 20an segalanya di tuntut jurang antara kesuksesan dan ketidaksuksesan ada di depan mata,

Saya pakai standar sukses dihadapan mertua menjadi pekerja handal di perusahaan atau menjadi aparatur sipil negara. Selain itu, pemuda belum dikatakan sukses secara maksimal, siapa yang akan jadi intelektual.sejarawan bahkan pengusaha? Haruskan terdisrupsi? Apalagi bidang pekerjaan yang sudah mulai mengandalkan teknologi, apakah sebagian umat manusia akan kalah? Jika mereka tidak terus mengembangkan dirinya dalam bidang keilmuan dan lain lain? Kawan saya, Kusdi hampir tiap hari melakukan aktivitas yang dianggap manusia adalah bodoh 8 jam tidur 4 jam melihat sosmed, 8 jam main game dan 4 jam lagi untuk beribadah.

Jika Kusdi di lempar ke masyarakat megapolitan apakah dia akan bertahan hidup dari gunjingan tetangga? Untungnya dia tinggal di pelosok yang masyarakatnya masih asri dalam hal gotong royong, upaya Kusdi menghasilkan uang adalah berdagang juga menanam, pada akhirnya pekerjaan di Indonesia pilihannya sangat beragam. Tetapi jika ingin memasuki standar era ini bekerjalah di perusahaan, pemerintah bahkan start up sekalipun, jika ingin terus bekerja sesuai fashion cukup cukupilah kehidupan juga tutup dua tangan ke kuping untuk tak mendengarkan gunjingan tetangga, berbeda dengan saya bagi saya menjalani sesuatu yang bukan fashion untuk menghidupi apa yang nantinya jadi fashion jauh lebih baik ketimbang terus bertahan dalam keadaan tetapi tidak berkembang.

Tinggalkan Balasan