Di berbagai kegiatan tukar wacana dan pemikiran,  tema peradaban nampak menarik untuk ditekuni. Interaksi peradaban antarumat manusia berujung pada rupa dan ragam peristiwa. Bentang dunia yang teramat luas meniscayakan peradaban yang tidak terbatas. Dari belahan bumi utara hingga selatan dan dari timur hingga ke barat, dapat kita saksikan ragam peradaban anak cucu Nabi Adam yang bervariasi. Mungkin ibarat isi bala-bala (bakwan) yang banyak variasi dan berserakan.

Jangan terlalu serius ya! Hehe. Pada kesempatan ini saya menggunakan istilah “silaturahmi Peradaban” yang saya pinjam dari Eka Hendri AR (2013). Interaksi antarperadaban memproduksi banyak dampak bagi peradaban-peradaban yang pernah saling kontak satu sama lain. Kita bisa bagi dampaknya jadi dua, yaitu dampak yang “asyik” dan dampak yang “tidak asyik”.

Di buku Perkembangan Pemikiran Modern Dalam Islam karya Eka (2013) misalnya, kontaknya pemikiran dan  filsafat helenisme dengan keilmuan islam di Timur Tengah berhasil melahirkan tokoh-tokoh filsafat islam. Helenisme sendiri menurut J.G Droysen merupakan transisi dari peradaban Yunani kuno ke tradisi kristen. Paham Helenisme tersebut sampai hingga daerah-daerah tempat ilmuwan muslim lahir. Di antaranya ilmuwan muslim seperti Al-Kindi, Al-Farabi dan Ibnu Sina.

Di sini, yang jadi asyiknya yaitu dunia islam bisa merasakan langsung buah manfaat dari sintesis peradaban antara islam dan paham helenisme dari peradaban Yunani Kuno tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai oleh kerajaan-kerajaan besar semisal romawi atau Persia akhirnya jatuh ke kerajaan islam dan menjadi ladang subur lahirnya cendekiawan-cendekiawan muslim tersebut.

Helenisme yang notabene rasionalistik warisan Aristoteles tersebut diotak-atik oleh ilmuwan muslim untuk menyelesaikan problema di tengah masyarakat dengan pendekatan filsafat. Ehh tau-tau Dinasti Abbasiyah jadi gede  dan nyampe ke masa keemasanya (the golden age), yang salah satunya berkat kontribusi ilmuwan islam di atas. Bahkan, Al-Farabi dapat gelar “guru kedua” (mu’allimin al-tsani) setelah Aristoteles sebagai “guru pertama” (mu’allimin al-wahid).

Yang gak asyiknya juga banyak nih. Silaturahmi peradaban dalam kenyataannya banyak yang tidak seirama dengan istilah silaturahmi. Misalnya yang di akhir abad ke-20  bahkan hingga saat ini masih relevan, misalnya interaksi dunia islam dan Amerika. Di Timur Tengah interaksi islam dan Amerika, atau bisa dikatakan dengan Barat, banyak tidak asyiknya. Amerika banyak mengeruk kekayaan minyak di negara-negara islam dengan santuy,  serasa tanah nenek moyangnya sendiri kali yah?

Bagi para ilmuwan Amerika yang gak ada akhlak atau para ilmuwan konfrontasionalis mah interaksi peradaban Barat dan islam diistilahkan dengan benturan peradaban (clash of civilization). Tapi di mata Jhon Esposito CS,  yaitu ilmuwan yang akomodasionis terhadap islam, sebetulnya tesis clash of civilization yang digagas Samuel P. Huntington tersebut merupakan penyakit lama Barat terhadap islam.

Temuan Fawaz A. Gerges (2003) dalam Amerika dan Islam Politik mengejutkan. Bukan benturan peradaban, kata Gerges, tapi cenderung dominan interaksi Amerika dan islam sebagai benturan kepentingan. Ya kepentinganya salah satunya mengeruk kekayaan alam di Timur Tengah.

Kalau di negara kita misalnya penjajahan oleh bangsa belanda yang dalam istilah Mahfud MD “menyengsengsarakan” bangsa Indonesia selama 350 tahun. Itulah sekelumit kisah dampak dari interaksi antarperdaban anak cucu Nabi Adam. Yang baiknya boleh ditiru, sementara yang jahatnya mah jangan. Supaya kita ada akhlak. Jangan sampai kita gak ada akhlaknya.

Tinggalkan Balasan