Bagi banyak penuntut ilmu di berbagai perguruan tinggi prodi/jurusan merupakan angan-angan harapan yang memoderatori antara mereka dengan cita-cita. Tapi perjalanan menuju harapan mendapatkan nilai terbaik kemudian lulus dan bekerja sesuai cita-cita yang diinginkan nyatanya tak semudah dan seindah drama FTV. Dalam perjalanannya pasti akan merasakan asam manisnya jurusan, selama dia menjalani perannya sebagai mahasiswa. Dengan berbagai macama problema yang dirasakan, baik eksternal seperti kelas yang tidak kondusif, dosen killer, pelajaran susah dimengerti dan lain sebagianya, ataupun problema internal pribadi seperti malas belajar. Begitupun dengan mahasiswa dari prodi ilmu hadis, berhubung saya juga adalah mahasiswa Ilmu Hadis, berikut sedikit curhatan saya mengenai suka duka menjadi anak Ilmu Hadis.

Sering Dianggap Soleh/Solehah

Salah satu resiko belajar di jurusan yang basicnya agama adalah pandangan atau anggapan mengenai kadar kesolehan. Bahwa anak-anak pada prodi yang bersangkutan pasti soleh/solehah. Hal ini juga yang kemudian membuat jadi mahasiswa ilmu hadis itu berat –kalian gak akan kuat, biar aku aja (Dilan kali ah) ̶  Anggapan ini lahir dari kenyataan  bahwa anak ilmu hadis sudah pasti belajar berbagai macam dalil Al-qur’an dan hadis, tiap hari berkutat dengan firman-firman Allah dan sabda nabi-Nya, sehingga tidak berlebihan jika mengatakan bahwa anak ilmu hadis itu religius, ini juga yang mungkin membuat stigma di masyarakat bahwa anak ilmu hadis itu sudah pasti soleh dan solehah.

Bagi anak ilmu hadis sendiri, anggapan ini sangat berlebihan, mengingat tingkat kesolehan atau ketinggian iman seorang tidak bisa dilihat hanya dari seringnya seseorang itu membaca buku atau kitab-kitab agama, terlebih lagi anak ilmu hadis sendiri sedang dalam proses belajar yang sangat rentan dengan kesalah pahaman, kami ingin soleh bukan dianggap soleh.

Dipanggil Ustadz/Ustadzah

Satu lagi hal yang bagi anak ilmu hadis itu tidak membuat nyaman, yaitu saat dipanggil ustadz/ustadzah. Bagi anak ilmu hadis panggilan ini sangat berat pertanggungan jawabnya, jika dipanggil ustadz maka anak ilmu hadis tersebut haruslah memiliki kapabilitas seperti seorang ustadz/ustadzah, yang mana ustaz/ustazah itu sudah jelas keluasan ilmu serta kebaikan akhlaknya.

Semacam ada perasaan ambivalen, di satu sisi kita merasa dipuji, diakui, dihargai saat kita dipanggil ustadz/ustadzah, tapi disisi lain panggilan itu sungguh menampar sanubari. Bukan soal senang atau tidak senang, tapi tentang kelayakan, pantaskah kita dipanggil begitu? sedikit tanya dalam hati.

Sering Ditunjuk Jadi Muadzin Dadakan

Biasanya, saat liburan semester tiba, atau kita memang kebetulan sedang di rumah karena beberapa alasan, tiba-tiba tanpa disangka tanpa pernah diduga-duga, permintaan untuk mengumandangkan adzan di masjid tiba-tiba dilayangkan, dengan kata-kata yang kurang lebih sama “A, Minta tolong ya ashar nanti adzan di masjid, aa kan kuliah Ilmu Hadis, pasti jago/bagus adzannya.”

Bukan masalah bisa atau tidak, mau atau tidak, tapi kenapa sih mesti bawa-bawa prodi –Huft ̶  itu seakan menjadi beban emosional, bahwa adzan kita harus bagus, merdu dan sempurna. Lagi pula bagus tidaknya adzan itu tidak memerlukan legitimasi jurusan, mau jurusannya apa kek kalo emang dasarnya dia jago merdu suaranya, pasti adzannya bagus enak didenger.

Jadi Konsultan Berbagai Permasalahan

Satu lagi yang mungkin sering dialami oleh hampir semua mahasiwa Ilmu Hadis,yaitu sering dijadikan konsultan permasalahan. Tak jarang mahasiswa Ilmu Hadis dihujani berjuta pertanyaan “Ini hukumnya apa? Apa dalilnya? Kualitas hadis ini sohih gak?” dan berbagai macam pertanyaan sejenis lainnya. Mungkin karena memang jurusan ini mengkaji hadis-hadis yang pada dasarnya berkaitan erat dengan amaliyah masyarakat sehari-hari.

Sedikit masukan buat kamu (Mahasiswa Ilmu Hadis) jika seandainya kamu mengalami hal ini (dijadikan konsultan permasalahan) dan kebetulan kamu tidak tau jawabannya, tolong jangan segan untuk mengatakan “Saya tidak tahu”, karena kamu yang bertittle mahasiswa kadang ucapan dan jawaban-jawaban yang kamu utarakan mudah di aminkan orang, orang tidak akan ragu dengan jawabanmu dan akan segera mengamalkannya.

Bayangkan jika jawaban yang kamu berikan salah, yups mereka juga akan mengamalkan sesuatu yang salah. Tidak mengapa kamu mengatakan saya tidak tau, itu lebih baik daripada harus mengarang jawaban dan menyebar kesalahan. atau mungkin kamu bisa menjawabnya dengan mengatakan “Mohon maaf pak/ibu untuk pertanyaan yang ini, belum saya teliti lebih lanjut, nanti akan saya jawab setelah penelitian saya selesai” hehe, ngeles dengan elegan.

Translator Bahasa Arab dan Kitab-kitab kuning

“Kak ini Bahasa arabnya apa?”, “Kak ini artinya apa?” pernah gak kamu mengalami ditanya menerjemahkan sesuatu berbahasa arab seakan-akan kamu adalah mesin translator berjalan? Menjadi mahasiswa ilmu hadis yang notabene nya memang mengkaji berbagai macam literatur berbahasa Arab, sudah sepatutunya jika orang-orang beranggapan bahwa Bahasa arab dan kemampuan membaca kitab kuning kamu sudah sangat baik.

Tidak mengapa kita diminta menerjemahkan jika kita memang sudah jago berbahasa Arab, beda cerita jika kita masih pembelajar yang jauh dari kata mahir, maka permintaan untuk menerjemahkan bahasa akan amat sangat tidak membuat kita nyaman dan mengintimidasi, tidak seperti pertanyaan umum yang bisa dijawab dengan ngeles yang elegan, pertanyaan menerjemahkan hanya bisa dijawab dengan  bilang “Maaf saya tidak tau.”

Anak Ilmu Hadis Masa Gitu?

Pada akhirnya, puncak badai cobaan bagi anak Ilmu Hadis adalah ucapan “Anak Ilmu Hadis Masa Gitu?” bak manusia sempurna yang tidak boleh ada khilaf dan salah, anak Ilmu Hadis selalu diawasi banyak pasang mata, jika melakukan kesalahan langsung saja sepasang mata itu menjelma menjadi serangkaian kata dan kalimat yang seakan membasuh garam diatas luka, pedas perih mengukir sakit di hati.

Padahal kita juga manusia yang tak luput dari salah dan dosa, terlebih kita juga pembelajar yang akrab dan rentan dengan kesalahan, terlepas apakah jurusan itu agamis atau tidak, manusia pada dasarnya sangat maklum melakukan kesalahan. Tapi, terlepas dari itu semua ada hal baik yang mungkin bisa kamu ambil.

Jurusan Ilmu Hadis yang mungkin bagi banyak orang adalah jurusan orang-orang soleh ini, bisa kita jadikan tameng diri, dari kita berbuat kesalahan yang sama, sehingga ada rasa malu selayaknya pakaian yang menutupi aib kita. Jadi saat berpikir ingin melakukan kesalahan, dengan cepat hati dan pikiran berkata “Aku anak Ilmu Hadis, malu dong ngelakuin itu” menjadi tameng dan pakain yang bisa kita pakai kemanapun, Alhamdulillah.

Oleh : Kurniawan Aziz (Praktisi Mageran, Mahasiswa Ilmu Hadis UIN Bandung)

Tinggalkan Balasan