Warga dunia hari ini tengah menjalani hari-hari yang cukup menguras keringat. Pemimpin-pemimpin negara di berbagai belahan dunia banyak menerapkan lockdown atau karantina wilayah. Ancaman makhluk kecil bernama covid-19-lah  telah menjadi alasan para pemimpin di dunia untuk melakukannya. Masyarakat dunia hari ini harus menghadapi kenyataan kedalam sebuah era yang kita namakan sabagai “New Normal”. Sebuah era yang merubah secara radikal sebagian besar kebiasaan yang telah lama berjalan.  Aktivitas manusia saat ini banyak yang dibatasi, mulai dari berkerumun, hingga sekedar bersalaman menjadi hal yang dilarang untuk dilakukan di era ini. Berpindah dari satu wilayah ke wilayah yang  lain pun jadi hal yang sulit bahkan dipersulit.

Terkhusus umat islam Indonesia yang memiliki tradisi tahunan untuk mudik lebaran, setelah memasuki era ini tradisi mudik menjadi hal yang terlarang. Harapan untuk mudik tahun ini hanya akan menjadi isapan jempol belaka. Kecewa mungkin suatu hal yang wajar, tetapi untuk kebaikan dan kesehatan bersama maka menelan pil pahit adalah pilihan terbaik. Selama obat penawar atau vaksin dari virus tersebut belum ditemukan, selama itu pula pil pahit tersebut kita telan.

Dalam dunia Islam kita akan temukan kisah menarik yang bisa kita jadikan pegangan dalam bersikap di era New Normal ini. Kisah yeng berkaitan dengan wabah di awal pekembangan dunia Islam yang terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Wabah tersebut terjadi pada tahun ke 18 Hijriyah, di mana awal munculnya dari sebuah daerah kecil yang disebut Anwas. Karenanya wabah tersebut dinamakan Tha’un Anwas.

Anwas terletak di wilayah Syam, hari ini wilayah tersebut masuk dalam bagian dari Palestina. Anwas merupakan daerah kecil dimana bukan termasuk daerah perkotaan yang waktu itu kota terbesarnya adalah Yerusalem / Baitul Maqdis. Seiring berjalannya waktu, wabah yang awalnya hanya dilingkungan Anwas akhirnya menyebar hingga keseluruh penjuru Syam. Syam yang hari ini wilayahnya dibagi menjadi empat negara yakni Yordania, Palestina, Libanon, dan Suriah menunjukkan masifnya persebaran wabah tersebut.

Dikisahkan ketika Umar bin Khattab hendak melakukan kunjungan kedua kalinya ke wilayah kekuasaan Islam yang baru saja berdiri di Syam terpaksa dihentikan oleh berita adanya wabah Tha’un Anwas yang telah berlangsung di bulan keempat. Waktu ini Umar berserta rombongan telah sampai pada perbatasan antara wilayah Hijjaz dengan wilayah Syam. Kedatangan Umar diperbatasan disambut oleh para petinggi Syam salah satunya Abu Ubaidah bin Jarrah.

Abu Ubaidah sebagai pemimpin tertinggi Syam menyampaikan kabar wabah tersebut kepada Umar sebagai pemimpin tertinggi kaum muslimin. Karena Umar merasa tidak memiliki pijakan dalil dari Rasulullah dalam menghadapi wabah ini, maka Umar meminta pandangan kepada para sahabat anshor maupun muhajirin yang hadir dalam perjalanan tersebut.

Hasil dengan pendapat dari para sahabat tersebut akhirnya menghasilkan keputusan ijtihad Umar untuk tidak melanjutkan perjalanan menuju Syam dan kembali ke Madinah. Tak lama berselang Abdurrahman bin ‘Auf seorang sahabat nabi yang ketika terjadi musyawarah dengar pendapat tersebut tidak hadir tetapi hanya tahu permasalahan mengenai wabah tersebut akhirnya menyampaikan apa yang pernah didengarnya dari Rasulullah, bahwa ia pernah mendegar Rasulullah bersabda: “jika engkau mendengar atau mendapatkan informasi bahwa di suatu negeri terjadi suatu wabah maka jangan memasukinya, dan jika terjadi wabah di suatu negeri dan kalian berada didalamnya maka jangan keluar dari negeri tersebut sebagai upaya menghindari wabah tersebut”. Setelah mendengar apa yang disampaikan Aburrahman bin ‘Auf tersebut maka Umar bin Khattab pun semakin mantab untuk memutuskan kembali ke madinah karena antara ijtihadnya dengan sabda Rasulullah sesuai.

Setelah mendengar keputusan dari Umar tersebut timbul pertanyaan dari Abu Ubaidah bin Jarrah walau pun dari Abu Ubaidah sendiri tidak menolak keputusan Umar tersebut. Pertanyaan tersebut ialah: “Wahai Umar apakah engkau lari dari takdir Allah?” tanya Abu Ubaidah bin Jarrah kepada Umar. Maka jawab umar ialah “Ya, aku lari dari takdir Allah tapi menuju takdir Allah yang lain”. Selanjutnya Umar memberikan analogi kepada Abu Ubaidah “Jika engkau menggembalakan untamu di tempat tandus adalah sebuah takdir Allah, lalu bukankah dengan memilih menggembalakan unta di tempat subur juga merupakan takdir Allah? Kita akan lari dari satu takdir Allah menuju takdir lainnya”.

Dari kisah ini, kita akan memperoleh pelajaran berharga dari sikap Umar beserta pemahamannya mengenai takdir dan ikhtiar. Ikhtiar adalah sebuah bentuk penjalanan tugas manusia sebagai seorang hamba. Seperti hari ini ketika kita ditimpa wabah covid-19 yang melanda seluruh dunia. Maka bentuk ikhtiar untuk menghindar dari terjangkitnya virus tersebut adalah bentuk menjalankan kewajiban manusia sebagai hamba Allah.

Kita sadari bahwa hadirnya wabah tersebut adalah takdir dari Allah. Kita sadari new normal yang berlaku hari ini adalah takdir dan keputusan dari Allah. Ikhtiar kita adalah menghindarkan diri dari terjangkitnya vitus tersebut hingga tubuh pun sehat dan tidak merugikan orang lain. Jika kemudian bentuk ikhtiar tersebut adalah dengan tidak beraktivitas keluar rumah dan melakukan pembatasan sosial atau fisik, maka itu adalah jalan yang terbaik dan sesuai dengan fitrah manusia sebagai hamba Allah.

Terkena atau tidak kenanya kita akan wabah tersebut merupakan takdir Allah. Jikalau Allah menakdirkan kita terkena, maka sehebat apapun cara kita memproteksi diri tidak akan bisa menghalangi takdir Allah itu dan pasti kita kena. Dan sebaliknya jikalau Allah menakdirkan kita tidak terkena, walaupun kita tidak memproteksi diri untuk menghadapi wabah tersebut, maka kita tidak akan bisa terkena, karena takdir Allah berbicara seperti itu. Prinsip terpenting untuk dapat kita pahami adalah kita semua sebagai hamba tidak pernah tahu takdir Allah yang diberikan untuk kita itu seperti apa. Sebab, takdir adalah wilayah Allah sebagai Tuhan, karenanya kita sebagai hamba tidak layak berandai-andai mengenai takdir kita. Hal tersebut ialah apa yang dipahami Umar bin Khattab ketika menjawab pertanyaan Abu Ubaidah.

Dampak dari wabah Tha’un Anwas tersebut diperkirakan menelan korban jiwa yang berjumlah lebih dari 30.000 jiwa. Wabah Tha’un Anwas ini disebutkan berlangsung beberapa bulan. Dari sekian bulan berlangsungnya wabah ini banyak sahabat-sahabat mulia yang menjadi korban jiwa. Beberapa diantara ialah Abu Ubaidah bin Jarrah yang ketika itu menjabat pemimpin tertinggi wilayah Syam pertama.

Disusul meninggalnya Muadz bin Jabbal selaku pemimpin tertinggi Syam setelah wafatnya Abu Ubaidah bin Jarrah, Yazid bin Abi Sufyan kakak dari Muawiyah bin Abi Sufyan juga pemimpin tertinggi wilayah Syam pasca Muadz bin Jabbal wafat terkena wabah. Bahkan, Bilal bin Rabbah sahabat nabi yang pertama kali mengumandangkan adzan meninggal bersebab oleh wabah ini. Dari sini maka kita ketahui bahwa tokoh-tokoh penting meninggal dunia keren wabah ini, hingga tiga orang gubernur Syam meninggal secara berurutan dalam kurun waktu beberapa bulan saja. Wallahu’alam

Tinggalkan Balasan