Wanita adalah makhluk lemah lembut yang telah Allah ciptakan derajatnya tiga kali lebih tinggi dari seorang laki-laki. Hal itu disebabkan karena hanya wanitalah yang mengemban tugas besar dalam kehidupan. Wanitalah yang hanya bisa melahirkan dan menyusui anak yang telah Allah titipkan pada sebuah keluarga.

Namun akhir-akhir ini banyak wanita yang rela merendahkan derajatnya, menurunkan rasa malunya lewat sebuah telepon genggam. Mungkin saja ia sedang keluar dari fitrahnya. Berbicara tentang wanita maka sering kita dengar sebuah hadis dari Abdullah bin Amr, Rasulullah saw telah bersabda:

اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salihah.” (HR. Muslim).

Seperti itulah gambaran dirimu wanita shalelah, betapa berharganya engkau yang telah Allah ciptakan sebagai wanita. Suatu saat kelak dirimu akan menjadi seorang ibu, madrasah peradaban.

Namun kini tidak dapat dipungkiri bahwa telah banyak wanita yang rela meninggalkan mahkotanya demi meraih kenikmatan semu, berlomba-lomba untuk menjadi primadona dunia. Lupa, bahwa engkaulah wanita mulia itu. Maka tetaplah jaga mahkotamu dengan sifat malumu dan jagalah akhlakmu dengan kesantunanmu.

Sebagian orang berpendapat bahwa terlahir sebagai seorang wanita itu tidak bebas, terbatas, bahkan tak jarang dianggap lemah. Namun, betapa indahnya Islam menjaga dan memuliakan diri setiap wanita muslimah, Islam datang bukan untuk mengekang setiap wanita tapi  justru Islam datang  menjaga wanita agar sesuai dengan fitrahnya. Sebagaimana pernah dikatakna oleh Ustadz Abdullah Taslim, Lc, MA.dalam ceramahnya “Bahwa syariat Islam untuk wanita itu indah dan pengaturannya sempurna.”

Ada yang perlu kita ketahui bahwa prestasi terbesar seorang wanita bukanlah tentang harta dan tahta, melainkan tentang keberhasilannya mengantarkan anak-anaknya menjadi anak yang shaleh dan shalehah, tentang keberhasilannya menjadi seorang pendidik sekaligus madrasah pertama untuk keluarganya.

Rasanya ingin sekali menjadi Siti Hajar yang keimanannya tetap tegar dan hatinya selalu sabar, pun ingin meneladani Maryam yang tak pernah tersentuh lagi suci yang mampu menjaga iman dan kehormatannya.

Dan kita sebagai wanita di penghujung zaman mengapa kita masih sibuk mengurusi materi dunia ? bukankah hati kita pernah berkata bahwa tujuan kita adalah Syurga ?. Bahkan hingga saat ini kita selalu lupa akan tujuan itu. Padahal telah disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad bahwa wanita dapat dengan mudah memasuki syurga lewat pintu manapun, namun dapat pula dengan mudah masuk kedalam neraka, “Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad)

Dan hari ini mengapa kita tak sibuk memperbaiki diri, bermuhasabah dan terus belajar berbenah, karena tindakan hari ini menentukan apa yang kelak akan menjadi masa depan kita. Semoga perjalanan hidupmu dan hidupku senantiasa berakhir dititik yang baik.

Oleh : Hanameyra Pratiwi                                                                         

Tinggalkan Balasan