Warung Kopi, Budaya Asik Milenial : “Ngopi Dulu Baru Cerita”

0

Bagi sebagian orang, kegiatan ngopi dijadikan kegiatan favoritnya. Setiap hari pasti selalu menikmati kopi. Entah itu hanya sekedar melepas penat, teman saat yang asik untuk diajak nonton liga champions, atau hanya sekedar pelengkap saat saat mengobro santai bersama teman dan kerabat.

Dari budaya ngopi yang dianggap sederhana dan sepele, kita bisa mendapat banyak hal, dari ngopi lahirlah kalimat  “Kuy yuk ngopi, udah lama nggak ketemu nih, sambal ngopi kita lanjutin bahasan/diskusi kita kemarin” dari budaya ngopi ada budaya bicara, dari kehangatan kopi mengalir menjadi kehangatan dan kedekatan antara aku dan kamu, hehe.

 Seiring berkembangnya zaman, ngopi tidak hanya sekedar kegiatan menyeruput secangkir minuman, tapi lebih dari itu, ada diskusi disana, ada sharing pengalaman disana, bahkan bagi sebagian kalangan  mahasiswa tidak afdhol rasanya belajar tanpa ditemani secangkir kopi.

Tempat paling mesra menurut penulis adalah warung kopi, karena di sana bersama secangkir kopi panas, tercurahlah apa saja yang kita rasakan. Tak jarang juga kita bisa mendapat pengetahuan baru dari brolan-obrolan ringan. Rasanya di warung kopi lebih terasa romantis ketimbang sekedar jalan-jalan gak jelas bersamanya, eaaaa. Di warung kopi semua sama, tak peduli anda mahasiswa, kuli bangunan, profesor, atau kyai sekalipun, jika sudah duduk bersama menyreuput secangkir kopi, romantisme akan hadir disitu. Jabatan kedudukan tidak lagi penting, yang ada hanya saling menyambung rasa.

Obrolan di warkop pun temanya bervariasi, kadang obrolan politik, kadang obrolan ekonomi, kadang obrolan religius dan terkadang obrolan paling menarik, obrolan cinta. Seorang preman bisa dengan leluasa ngobrol bersama kyai di warung kopi. Seorang kuli bangunan bisa bertanya dengan santai kepada profesor di warung kopi. Ada feel tersendiri saat kita duduk bersama, melupakan sejenak jabatan, kedudukan dan sebagainya, duduk melingkar untuk saling bercengkrama.

    Berbagi ceritapun suatu hal yang menyenangkan. Kita bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain, kita bisa mengetahui apa yang belum kita ketahui sehingga memudahkan kita untuk lebih dewasa, lebih bijak. Tidak kaku dalam pemikiran, tidak ekstrim dalam ideologi. Karena sering ngobrol dengan banyak orang, kita juga bisa lebih arif dalam mengambil tindakan, tidak cepat menilai seseorang.

Saya pernah ngopi dengan wanita yang secara penampilan dia bukan wanita baik-baik. Tubuhnya di tatto, suka minum minuman keras, dan juga merokok. Padahal dia seumuran dengan saya. Pertama kali melihat dia, saya juga ikut terbawa emosi hingga bersuudzon padanya. Saya dulu sempat tidak ingin berteman dengan dia, tetapi suatu ketika, saat sedang ngopi bersama teman-teman, dia melontarkan pertanyaan yang membuat saya tertegun “Kamu kalo sore ngajar ngaji ya, aku diajarin dong, aku pengen bisa ngaji Al-Quran”. Seketika itu pandangan saya terhadap wanita yang merokok berubah. Tidak selamanya yang hitam itu kotor, dan yang putih itu suci.

  Banyak sekali pelajaran yang saya dapatnya dari kegiatan ngopi ini. Bagi saya, warkop sudah menjadi seperti universitas tersendiri, universitas kehidupan. Banyak ilmu yang saya dapatkan di warkop yang tidak diajarkan di kampus. Bahkan ada beberapa teman yang tidak mengenyam pendidikan formal, hanya lulus SD tetapi mindset dan pengetahuannya seperti mahasiswa. Saya yang sedang kuliah pun merasa malu dengan mereka, minat bacanya lebih tinggi daripada saya yang menjadi mahasiswa

 “Kopi yang pahit ternyata menyimpan begitu banyak manfaaat, jangan ngopi kalau tidak berisi, Jangan malu untuk berdiskusi.”

Oleh : Muhammad Yazid

Tinggalkan Balasan