Islam adalah agama yang bisa menempatkan akal pikiran tepat pada tempatnya, sehingga melahirkan pemikiran-pemikiran yang santun, lembut, tidak mudah menyalahkan orang lain dan terkesan mendamaikan, dan itulah yang seharusnya tercermin didalam diri setiap orang Islam, bahwa menempatkan diri pada posisi moderat dan tidak berlebihan pada sesuatu merupakan nilai-nilai yang diajarkan oleh Islam, sebagaimana yang terkandung dalam Qur’an surah Al-Baqarah ayat 143 “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan ..”. sehingga jelas sudah bahwa moderat merupakan sifat Islam, sehingga muslim sebagai penganutnya dituntut untuk dapat menerapkan sifat ini dalam setiap segi kehidupan, dalam setiap sendi kehidupan.

Saya sendiri kurang sepakat dengan  narasi moderasi Islam yang berkonotasi seolah-olah kita menjadi aktor untuk membuat Islam menjadi agama yang moderat. Justru Islam itulah moderat, moderat itu Islam. Buya Hamka pernah mengatakan bahwasanya Islam itu terletak diantara Yahudi dan Nasrani dalam memandang atau meyakini sesuatu. Orang-orang Yahudi yang terlalu antusiasme berlebihan sehingga euphoria terhadap kehidupan duniawi, sementara itu umat Nasrani terlalu berlebihan akan antusiasme terhadap akhirat sampai-sampai menabukan pernikahan karena dianggap menodai keimanan. Sementara Islam berada diantara keduanya, menjadi umatan washatahan (moderat) tidak terlalu condong akhirat tapi juga bukan penghamba kehidupan dunia.  

Selain itu Islam juga berada pada posisi tengahan dalam meyakini status Nabi Isa As. Orang Yahudi menjadi ekstream kiri yang meyakini bahwa Nabi Isa adalah anak dari seorang pezina, nauzubillah. Sementara itu Nasarani menjadi Ekstream kanan yang membela Nabi Isa terlalu berlebihan hingga sampai pada keyakinan bahwa Isa adalah anak Tuhan, Islam menjadi penengah antara kedua pandangan ekstrimis itu, menurut Islam bahwa Nabi Isa adalah Rasul utusan Tuhan yang wajib diimani keberadaannya, tapi bukan berarti harus disembah dan dituhankan sosoknya.

Corak moderitas pada Islam tidak hanya dalam ranah aqidah atau keyakin tapi juga dalam beribadah. Islam tidak hanya mensyaratkan umatnya untuk beribadah secara vertical (Hablumminallah) yang berdedikasi pada pemurnian batiniah dan perbaikan hubungan makhluk dengan khalik, tapi juga mensyratkan agar umat Islam mengokohkan serta menumbuh kembangkan ibadah horizontal (Hablummminannas). Contoh konkret adalah zakat dan sedekah, meski ibadah ini memiliki esensi pensucian, mensucikan harta dan mensucikan hati dari sifat kikir dan cinta berlebih pada dunia, tapi juga  pada dasarnya ini merupakan transformasi sosial yang merekatkan hubungan manusia dengan manusia, jadi bukan hanya ibadah dalam dimensi ketuhanan tapi juga dimensi kemanusiaan.

Pada Webinar Wasathiyah, bertema “Kontestasi dan Implementasi Moderasi Berbasis Hadis” yang diadakan oleh Jurusan Ilmu Hadis UIN Bandung, ketiga pemateri memaparkan konsep Washathiyah atau moderat melalui berbagai sudut pandang, pemateri pertama Ibu Ai Fatimah Nur Fuad, P.hD selaku Dosen UHAMKA & Alumni S3 Leeds Universitas England memaparkan pengalamannya prihal corak kehidupan warga muslim yang tinggal di Inggris, dalam pemaparannya beliau menyampaikan bahwa setidaknya ada tida krakteristik muslim di Inggris, yaitu : integrasi, isolasi dan resistensi.

Integrasi (Engaged-modernists and moderate Islamists), Muslim yang terlibat dan berpartisipasi dalam kegiatan politik seperti ikut pemilu, kegiatan sosial dan lain sebagainya. Mereka adalah Muslim modernis dan moderate Islamist, yang sosial kapitalnya didominasi oleh anak muda Muslim terdidik dan professional di berbagai bidang. Isolasi (Isolated-tradisionalists),Muslim yang melakukan isolasi diri, dan membatasi diri dari sistem Eropa yang sekuler. Mereka didominasi oleh Muslim tradisionalis, yang mayoritas merupakan generasi pertama yang datang ke Inggris. Resistensi (Rejected-radical islamists),Muslim yang menolak berpartisipasi dalam proses demokrasi, menolak sistem yang dinilainya sebagai pemerintahan kufur dan mereka memiliki obsesi untuk mendirikan negara khilafah. Diakhir pemaparannya beliau berpandangan bahwa “Integrasi itu bukan berarti kita harus kehilangan identitas agama” ujarnya.

Melalui pemaparannya mengenai Rejected-radical islamists atau kelompok Muslim yang radikal, beliau mengatakan bahwa anggapan ini lahir dari sikap Muslim radikal yang menolak pergi ke rumah sakit, menghindari makanan yang disajikan non-muslim dan gaya hidup lain yang dianggap diluar keumuman warga Inggris. Tapi dari sana justru memunculkan tanya, jadi batas moderasi itu apa? Apakah orang-orang yang berhati-hati memilah makanan dan obat-obatan yang dipakainya karena meragukan kehalalan bahan yang terkandung di dalamnya itu termasuk tindakan atau karakteristik orang radikal?

Sugguh menyisakan tanya “Jadi sampai mana batas moderat itu?” apakah kita harus moderat dalam segala hal dan segala kondisi? Apakah mengadakan pengajian di club malam ala barat dimana penuh alkohol dan ketabuan lainnya merupakan bentuk moderat hanya karena alasan jangan radikal dan mari bertoleransi? Apakah dengan mengatakan “Semua agama sama” juga adalah sikap moderat?  Menurut saya ini juga merupakan hal penting untuk dijelaskan namun luput dari pembahasan hingga akhirnya menyisakan tanya.

Oleh : Kurniawan Aziz (Praktisi Mageran, Mahasiswa Ilmu Hadis UIN Bandung)

Tinggalkan Balasan