Seperti biasanya hari raya idul adha menjadi satu dari sekian momen yang bisa  dinikmati serta dirasakan kebahagiaan dan kegembiraannya. Terjadi setiap tahun dengan antusiasme dan sambutan kegembiraan dari kaum muslimin di seluruh dunia, karena pada hari itu ada pristiwa yang kita kenang sekaligus kita ulang kembali sebagai satu ibadah yang disyaria’atkan Allah dan rasul-Nya, ialah peristiwa tatkala Nabi Ibrahim menyembelih putranya Ismail sebagai pengorbanan serta bukti ketundukan Ibrahim As kepada perintah Allah Swt.

Allah uji keduanya, ayah dan anak ini. Allah uji Ibrahim dengan kepatuhan serta keteguhan hati akan perintah Allah, sementara Ismail diuji kesabaran dan keikhlasan hatinya. Allah menyaksikan kekuatan iman keduanya sehingga Allah beri kabar gembira kepada mereka, Allah jadikan apa yang Ibrahim sembilih adalah hewan yang bisa dinikmati, sejak saat itulah sejarah agung tercipta.

Saya sering mendengar guyon teman-teman di sosial media yang mengatakan “Yang dikorbanin itu sapi/kambing, bukan perasaan”, loh siapa bilang? bukankah dari sejarah agung Nabi Ibrahim dan Ismail. kita bisa memetik arti menuai makna, bahwa yang paling pertama dikorbankan di antara keduanya adalah perasaan?

Perasaan berlebih berupa cinta kepada dunia, rasa memiliki, rasa tinggi, perasaan yang menariknya pada ke-Aku-an bahwa semuanya milikku, kesuksesan ini hasil kerja kerasku, karena kecerdasanku, karena kedudukanku, karena harta bendaku, dan perasaan-perasaan ke-Aku-an lainnya yang dapat menyeret manusia kedalam jurang kenestapaan.

Perasaan semacam itulah yang harus kita korbankan, seperti halnya Ibrahim As yang dengan berlinang air mata mengorbankan perasaan duniawinya, kecintaan pada putra terkasih yang dimilikinya. Tapi baginya kecintaan itu bukan haknya sepenuhnya, karena Allah sang pemilik segala sesuatu, apapun yang kita miliki hanyalah titipan dari-Nya. Maka bagi Ibrahim jangankan anak, seandainya Allah meminta nyawanya, sungguh Allah Maha berhak untuk itu.

Penyembelihan hewan berupa sapi, kambing dan jenis hewan qurban lainnya pada hari raya idul adha bukan hanya sekedar ritual seremonial, tapi jadi simbol kelapangan hati setiap kita untuk membunuh sifat hewani berupa rasa berkuasa, rasa paling memiliki, rasa paling berhak dihormati, pada hari ini sembelih perasaan itu, bunuh perasaan itu.

Bagi orang yang cukup hartanya, Allah uji untuk mengorbankan perasaan pada harta yang dimilikinya, keluarkan! belikan hewan qurban, bunuh ke-Aku-an dalam diri, sehingga hartanya bisa bermanfaat bagi banyak orang, orang miskin akan merasakan lezatnya daging pada hari itu yang mungkin tak pernah kelezatan itu masuk melewati kerongkongan mereka. sungguh kelapangan hati orang-orang yang berqurban telah menjadikan senyum pada wajah setiap orang.

Teringat perkataan almarhum KH. AR Fachrudin,  beliau pernah berkata “Jangan terikat pada dunia, sebab dalam hati manusia ada dua, pertama cinta kepada Allah dan kedua cinta pada dunia, jika kamu cinta pada dunia nanti Allah cemburu, jadi jangan cinta kepada dunia tapi cintalah kepada Allah”. Semoga bersamaan dengan darah yang mengalir dari hewan qurban itu menjadi kafarat dosa bagi kita semua, terkhusus yang berqurban, aamiin.

Oleh : Kurniawan Aziz

Editor : Rafi

Tinggalkan Balasan